📑 Daftar Isi

Ilustrasi anak menggunakan smartphone di tempat tidur dengan latar ruangan gelap

Ilmuwan Inggris: Smartphone Belum Terbukti Rusak Otak Anak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Ilmuwan Inggris menyatakan belum ada bukti kausal kuat bahwa smartphone merusak otak anak
  • Penelitian yang ada hanya menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat
  • Masa remaja adalah periode rentan karena sistem reward aktif, prefrontal cortex masih berkembang
  • Dr Dusana Dorjee soroti displacement: aktivitas penting tergeser oleh screen time berlebihan
  • Pemerintah Inggris buka konsultasi nasional, namun ahli minta tidak buru-buru larang total
  • Kesimpulan: penggunaan berlebihan perlu diawasi, bukan dilarang sepenuhnya

Telset.id – Tudingan bahwa smartphone dan media sosial merusak otak anak-anak serta remaja ternyata belum didukung bukti ilmiah yang kuat. Para ilmuwan Inggris justru mengungkap fakta bahwa penelitian yang mampu membuktikan hubungan sebab-akibat antara perangkat digital dan perkembangan otak masih sangat minim.

Pandangan tersebut mengemuka dalam sidang Komite Sains, Inovasi, dan Teknologi Parlemen Inggris yang tengah menyelidiki dampak perangkat digital terhadap perkembangan otak anak-anak. Anggota parlemen ingin memastikan apakah kekhawatiran publik selama ini memang didasarkan pada bukti ilmiah yang sahih atau sekadar asumsi.

Profesor Denis Mareschal, Direktur Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London, menjelaskan bahwa sebagian besar penelitian yang ada saat ini hanya menunjukkan hubungan atau korelasi. Artinya, penelitian dapat menemukan bahwa anak yang sering menggunakan perangkat digital memiliki karakteristik tertentu, namun belum bisa memastikan perangkat digital sebagai penyebabnya.

Pendapat serupa disampaikan Profesor Sarah-Jayne Blakemore dari University of Cambridge. Ia menilai bukti mengenai dampak smartphone atau media sosial terhadap otak remaja masih sangat sedikit dan sebagian besar berasal dari studi berukuran kecil yang belum berhasil direplikasi secara luas.

Mengapa Remaja Lebih Rentan?

Meski demikian, para ilmuwan tidak serta-merta menepis seluruh kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Blakemore menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan otak. Pada fase ini, sistem penghargaan atau reward system bekerja sangat aktif, sementara area otak yang berfungsi mengendalikan impuls dan pengambilan keputusan, yakni prefrontal cortex, masih terus berkembang.

Kondisi tersebut membuat remaja lebih rentan terdorong untuk terus mencari stimulasi yang menyenangkan, termasuk dari media sosial dan berbagai aplikasi digital. “Bahkan orang dewasa sering kesulitan meletakkan ponsel ketika terus menemukan konten menarik. Bagi anak-anak dan remaja, tantangannya bisa lebih besar karena kemampuan pengendalian dirinya masih berkembang,” jelas Blakemore dikutip dari The Register.

Fenomena ini semakin relevan mengingat perkembangan teknologi yang pesat. Untuk memahami lebih dalam bagaimana teknologi bisa berdampak, Anda bisa menyimak analisis tentang AI Bisa Hapus pekerjaan entry-level yang juga memicu perdebatan serupa di kalangan ahli.

Displacement: Masalah yang Lebih Nyata

Dr Dusana Dorjee dari University of York menyoroti persoalan lain yang dianggap lebih penting, yakni displacement atau tergesernya aktivitas penting akibat penggunaan layar yang berlebihan. Menurut Dorjee, anak-anak belajar banyak keterampilan penting melalui interaksi langsung dengan orang lain, bermain, berolahraga, berbicara dengan keluarga, hingga mengeksplorasi lingkungan sekitar.

“Pertanyaan pentingnya bukan hanya apa yang dilakukan anak saat menggunakan perangkat digital, tetapi apa yang tidak mereka lakukan karena menggunakan perangkat tersebut,” ujarnya.

Para ahli juga menekankan bahwa tidak semua penggunaan layar memiliki dampak yang sama. Video call dengan keluarga, aplikasi edukasi, atau aktivitas belajar daring tidak bisa disamakan dengan kebiasaan scrolling tanpa henti yang didorong algoritma media sosial. Karena itu, mereka menolak pendekatan yang menyamaratakan seluruh bentuk penggunaan smartphone sebagai sesuatu yang berbahaya.

Topik displacement ini menarik untuk dibandingkan dengan isu lain di industri teknologi. Misalnya, AWS Outage 13 Jam yang disebabkan oleh AI sendiri menunjukkan bagaimana teknologi bisa menggeser peran manusia dalam sistem kritis.

Perdebatan di Inggris dan Implikasi Kebijakan

Perdebatan mengenai smartphone dan anak memang sedang memanas di Inggris. Pemerintah bahkan membuka konsultasi nasional terkait penggunaan media sosial dan smartphone pada anak-anak. Namun, pemerintah mengakui bahwa bukti ilmiah mengenai dampak screen time terhadap kesehatan mental dan perkembangan anak masih beragam dan terus berkembang.

Sejumlah peneliti juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru mengambil kebijakan ekstrem seperti larangan total penggunaan smartphone. Akademisi dari University of Cambridge, Amy Orben, sebelumnya menyebut bukti ilmiah yang ada belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa smartphone secara inheren berbahaya bagi semua anak.

Kesimpulan para ilmuwan dalam sidang tersebut cukup jelas: hingga saat ini belum ada bukti kausal yang kuat bahwa smartphone secara langsung merusak otak anak. Namun, penggunaan yang berlebihan tetap perlu diawasi karena dapat mengurangi waktu anak untuk berinteraksi, bermain, berolahraga, dan melakukan aktivitas penting lain yang mendukung tumbuh kembang mereka.

Isu ini juga mengingatkan kita pada perdebatan lain di dunia teknologi, seperti klaim tentang eSIM vs SIM Fisik yang juga membutuhkan bukti ilmiah kuat sebelum bisa disimpulkan.

Pada akhirnya, para ilmuwan menekankan perlunya pendekatan yang lebih bijak dan berbasis bukti dalam menyikapi penggunaan smartphone pada anak. Bukan dengan melarang secara total, melainkan dengan mengawasi durasi dan kualitas penggunaannya. Orang tua disarankan untuk lebih fokus pada aktivitas apa yang mungkin terlewatkan anak karena terlalu banyak waktu di depan layar, bukan sekadar menghitung jam screen time.

Komentar

Belum ada komentar.