📑 Daftar Isi

Visualisasi proyek bendungan raksasa China di Dataran Tinggi Tibet

Bendungan Raksasa China Ancam India dan Bangladesh

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Proyek bendungan raksasa China di Tibet bernama Motuo dimulai Juli 2025 dengan biaya USD 168 miliar
  • Bendungan akan menghasilkan daya 300 terawatt per tahun, tiga kali lipat Bendungan Tiga Ngarai
  • Proyek berisiko tinggi karena Tibet adalah wilayah seismik aktif
  • Dampak langsung dirasakan India dan Bangladesh yang bergantung pada Sungai Brahmaputra
  • Sungai Brahmaputra memberi India 30% cadangan air tawar dan vital bagi irigasi Bangladesh
  • Delta Gangga-Brahmaputra merupakan rumah bagi hampir 200 juta orang

Telset.id – Proyek bendungan raksasa China di Tibet bernama Motuo berpotensi menjadi malapetaka bagi India dan Bangladesh. Proyek senilai USD 168 miliar ini akan mengubah aliran Sungai Brahmaputra yang menjadi sumber kehidupan bagi lebih dari 130 juta orang di kedua negara.

Menjulang 4.500 meter di atas permukaan laut, Dataran Tinggi Tibet merupakan sumber banyak sungai utama Asia seperti Sungai Kuning, Yangtze, Yarlung Tsangpo (Brahmaputra), dan Lancang (Mekong). Wilayah ini memasok air bagi hampir 2 miliar orang di hilir, termasuk China dan India. Potensi tenaga air di sana sangat besar dan belum tergarap.

Proyek unggulan pemerintah China adalah bendungan raksasa Motuo di Sungai Yarlung Tsangpo. Proyek ini dimulai Juli 2025 dengan biaya diperkirakan USD 168 miliar. Ia dijadwalkan selesai kurang dari sedekade dan akan mengerdilkan semua PLTA lain dengan perkiraan hasil daya tahunan 300 terawatt, tiga kali lipat Bendungan Tiga Ngarai di Yangtze yang saat ini menjadi bendungan terbesar dunia.

“Anda melihat China yang modern dan kuat, yang dalam hal tertentu sangat percaya diri menaklukkan alam,” kata Tenzin Norgay, peneliti di Kampanye Internasional untuk Tibet (ICT) yang dikutip detikINET dari Live Science.

Risiko Seismik dan Bencana Alam

Namun proyek masif ini berisiko besar, baik bagi penduduk Tibet maupun ratusan juta orang di hilir. “Mengendalikan sifat air atau sungai merupakan bahaya bagi seluruh sabuk Himalaya, terutama negara seperti India, Bangladesh dan pada tingkat tertentu juga Nepal,” ujar Jagannath Panda dari Institute for Security and Development Policy.

Dataran Tinggi Tibet adalah salah satu wilayah teraktif secara seismik. Beberapa bagian Himalaya tidak cocok untuk konstruksi bendungan karena tingginya risiko kegempaan. Bencana alam lainnya seperti danau gletser yang terbentuk dari mencairnya gletser dan permafrost dapat menimbulkan masalah bagi masyarakat di hilir jika tiba-tiba melepaskan airnya dan meluapkan bendungan.

China memimpin dalam pembangunan bendungan namun proyek baru ini berbeda. “Tidak ada berskala sebesar ini,” kata Brian Eyler dari Stimson Center. Proyek ini memanfaatkan geografi unik Tibet. Di area proyek, Sungai Yarlung Tsangpo mengalir melalui ngarai terdalam dunia yang disebut Ngarai Besar Yarlung Tsangpo dan turun cepat mengitari “Tikungan Besar” berbentuk tapal kuda sebelum masuk India dan akhirnya Bangladesh.

Bendungan Raksasa China

Proyek ini akan membendung bagian atas sungai dan mengalihkan airnya melalui serangkaian terowongan yang menembus Gunung Namcha Barwa setinggi 7.800 meter, sebelum mengembalikan air ke bagian bawah sungai, menghindari Tikungan Besar.

Dampak di Hilir bagi India dan Bangladesh

Bahkan tanpa penurunan debit air yang didorong iklim, aliran sungai ini akan berubah. Untuk memastikan aliran air melalui bendungan, pihak berwenang biasanya mengisi waduk selama musim hujan dan melepaskan air selama musim kemarau. Hal ini dapat berdampak pada aliran alami sungai dan berefek domino bagi komunitas hilir.

Proses pengisian dan pelepasan ini juga memunculkan kemungkinan negara di hulu yakni China, menutup keran dengan mengorbankan pengguna air di hilir. “Jika operator berkesempatan mengambil air saat kekeringan, mereka akan mengambilnya dengan mengorbankan pengguna di hilir. Kita melihat ini terjadi di Mekong, di mana bagian hilir menderita kekeringan, tapi China tetap mengisi waduknya, yang memperparah kekeringan tahun 2019 di Thailand, Kamboja, dan Vietnam,” kata Eyler.

Dalam kasus bendungan Motuo, perubahan aliran air akan berdampak pada India dan Bangladesh. Sungai Brahmaputra mengalir sekitar 2.900 km dan akhirnya bergabung dengan Sungai Gangga. Sungai ini merupakan sumber air serta pupuk alami vital bagi lebih dari 130 juta orang.

Dikutip detikINET dari Live Science, sungai ini memberi India 30% dari cadangan air tawarnya sementara Bangladesh sangat bergantung padanya untuk mendukung irigasi. Sedimen dari Brahmaputra sangat penting untuk membangun delta Gangga-Brahmaputra, membantu wilayah dataran rendah tersebut tetap di atas permukaan laut. Delta ini merupakan rumah bagi hampir 200 juta orang dan dianggap sebagai salah satu tempat paling berisiko akibat kenaikan laut.

Proyek bendungan raksasa China ini menjadi pengingat bahwa pengendalian sumber daya air di kawasan Himalaya membawa konsekuensi geopolitik dan lingkungan yang serius. Negara-negara hilir seperti India dan Bangladesh harus bersiap menghadapi potensi perubahan drastis pada pasokan air mereka dalam satu dekade mendatang.

Untuk informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi dan proyek-proyek besar lainnya, Anda dapat membaca artikel tentang Monitor QD-OLED terbaru atau Data Center Raksasa yang sedang menjadi perbincangan.

Komentar

Belum ada komentar.