Telset.id – Para ilmuwan baru-baru ini mengidentifikasi salah satu kuburan paus terbesar dan terdalam di dunia yang terletak di dasar Samudra Hindia bagian tenggara. Temuan mengejutkan ini berisi ratusan fosil paus yang tersebar di area seluas sekitar 1.200 kilometer, menunjukkan akumulasi bangkai yang terjadi terus-menerus selama setidaknya 5 juta tahun.
Ekspedisi yang dilakukan dengan kapal selam ini mengungkap fakta bahwa sebagian besar sisa-sisa tersebut milik paus paruh, spesies yang jarang terlihat karena kebiasaannya menyelam sangat dalam. Tim peneliti juga menemukan beberapa bangkai yang relatif baru dengan pemakan bangkai yang masih menempel, memberikan wawasan berharga tentang ekosistem laut dalam.
Penemuan di Zona Fraktur Diamantina
Para ahli paleontologi menemukan kuburan tersebut di Zona Fraktur Diamantina, area punggung bukit dan palung laut di barat daya Australia. Zona ini terbentuk antara 30 hingga 40 juta tahun lalu selama pemisahan benua Australia dan Antartika, dengan kedalaman mencapai 5.000 hingga 7.000 meter.
“Meskipun ini adalah kuburan paus yang benar-benar masif, mencapainya sangatlah sulit karena kedalamannya ekstrem,” kata salah satu penulis studi, Peng Zhou, peneliti di Institut Sains dan Teknik Laut Dalam pada Chinese Academy of Sciences.
Ekspedisi ini merupakan bagian dari Program Eksplorasi Palung Hadal Global, kolaborasi internasional yang menjelajahi area paling tidak dikenal di lautan. “Saat kami pertama kali mengamati situs ini, hal itu benar-benar mengejutkan semua orang,” tambah Zhou.

Proses Eksplorasi dan Temuan Fosil
Zhou dan rekannya menjelajahi lokasi tersebut dari kapal penelitian Tan Suo Yi Hao, menggunakan kapal selam Fendouzhe yang pernah mengunjungi dasar Palung Mariana pada tahun 2020. Di Zona Diamantina, mereka menangkap gambar nekropolis tersebut dan menggunakan lengan robotik untuk mengumpulkan 43 fosil serta beberapa hewan pemakan bangkai.
Hal paling mengejutkan adalah kepadatan fosil dan distribusinya. Beberapa area menampung sekitar 760 sisa-sisa per kilometer persegi, jauh lebih tinggi dari apa pun yang pernah didokumentasikan sebelumnya. “Menurut perkiraan kami, ada lebih dari 10 juta sisa paus tergeletak di dasar laut palung ini,” sebut Zhou.
Peneliti melakukan 32 kali penyelaman antara Februari hingga Maret 2023. Ilmuwan mengidentifikasi salah satu bangkai modern sebagai paus minke atau Balaenoptera acutorostrata, berukuran sekitar 3 meter panjangnya. Sisa-sisa dari spesies modern lainnya, paus paruh Andrew atau Mesoplodon bowdoini, tergeletak di dekat fosil-fosil dari genus yang sudah punah bernama Pterocetus.
Fosil tertua, milik Pterocetus benguelae, berusia 5,3 juta tahun. “Menemukan genus punah seperti Pterocetus dan spesies yang masih hidup seperti Mesoplodon bowdoini terawetkan di wilayah yang sama, membentang 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman ekstrem seperti itu sungguh di luar dugaan,” kata Zhou.
Baca Juga:
Misteri di Balik Akumulasi Bangkai Paus
Adapun mengapa begitu banyak bangkai paus paruh di lokasi tersebut, jawabannya mungkin terkait topografi Zona Diamantina yang berbentuk V. Zona tersebut bagaikan corong yang menyalurkan bangkai ke dasar laut, dan sangat sedikitnya pergerakan sedimen di kedalaman tersebut berarti bangkai itu tetap terekspos ke para pemakan bangkai. Seiring waktu, mineral laut dalam membentuk kerak pada tulang-tulang tersebut dan mengawetkannya sebagai fosil.
Temuan tak terduga lainnya di situs tersebut adalah sebagian tengkorak milik spesies yang sebelumnya tidak diketahui, yang oleh ilmuwan dinamai Pterocetus diamantinae. Hal ini menunjukkan masih banyak misteri yang tersembunyi di kedalaman laut yang belum terungkap.

Penemuan ini membuka jendela baru bagi pemahaman tentang evolusi paus dan ekosistem laut dalam. Dengan lebih dari 10 juta sisa paus yang diperkirakan berada di area tersebut, para ilmuwan memiliki kesempatan langka untuk mempelajari sejarah kehidupan laut yang membentang jutaan tahun.





Komentar
Belum ada komentar.