telset

Peneliti Mulai Ajarkan Kemampuan Interaksi Sosial pada Robot

Telset.id, Jakarta – Meski memiliki kemampuan untuk membantu manusia,  sayangnya robot masih terbilang kurang interaktif. Baik dengan manusia maupun sesama robot itu sendiri. Sebab itu, peneliti mulai mengajarkan robot untuk memiliki kemampuan interaksi sosial yang baik. 

Peneliti ilmu komputer dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory (CSAIL), mengajarkan robot bagaimana cara interaksi dengan manusia dan robot lain.

Untuk mempelajari interaksi ini, para peneliti menciptakan lingkungan simulasi 2D yang  yang memungkinkan robot memiliki tugas sosial dan fisik. Maksud dari tugas fisik adalah tindakan-tindakan yang didasari oleh gerak seperti berjalan atau mengambil sesuatu. 

Sedangkan tugas sosial adalah tindakan yang didasari oleh situasi sekitar, misalnya memberi bantuan kepada robot lain. 

Baca juga: Singapura Pakai Robot untuk Cari Pelanggar Prokes Covid-19

Ada 3 jenis robot di ruang simulasi 2D ini. Pertama robot yang memiliki tujuan fisik; kedua, robot yang memiliki tugas fisik dan sosial, tetapi mengasumsikan semua robot hanya memiliki tugas fisik; dan ketiga robot yang menganggap semua robot lain tugas sosial dan fisik.

Robot ketiga dapat mengambil tindakan yang lebih maju seperti bergabung dengan orang lain untuk mencapai suatu tujuan. 

Robot yang berhasil menjalankan tugasnya masing-masing akan mendapatkan hadiah, sedangkan bagi yang tidak bisa ada sedikit hukuman. Dalam proses interaksi sosial antar robot tersebut tim peneliti membuat 98 skenario berbeda. 

Semua proses interaksi direkam, dengan 12 peneliti yang menonton hampir 200 klip video robot yang berinteraksi. Mereka kemudian harus memperkirakan tugas fisik dan sosial masing-masing robot. 

Robot Masih Kesulitan Berinteraksi Sosial 

Robot interaksi sosial

Hasilnya, robot masih kesulitan melakukan interaksi sosial dengan baik. Robot belum memiliki kemampuan penalaran yang kompleks seperti yang dilakukan manusia. 

“Bahkan bayi kecil tampaknya memahami interaksi sosial seperti membantu dan menghalangi, tetapi kami belum memiliki mesin yang dapat melakukan penalaran ini pada hal seperti fleksibilitas tingkat manusia,” ujar peneliti. 

Namun, walau masih gagal para peneliti berharap bahwa penelitian ini menjadi benchmark untuk penelitian sejenis. Selanjutnya, mereka berencana untuk menciptakan lingkungan yang lebih kompleks dengan ruang simulasi 3D. 

Baca juga: Avaro X1, Robot Vacuum Cleaner dengan Navigasi Canggih

Tujuan akhir penelitian ini tidak hanya mengajarkan robot bagaimana berinteraksi dengan baik dengan manusia dan robot, tetapi menggali lebih dalam aspek-aspek perilaku manusia yang bisa diterapkan di dalam robot. (NM/IF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0