Telset.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026 meluas di sejumlah wilayah Indonesia, dari Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatra, hingga Sulawesi dan Papua. Ribuan hektare hutan dan lahan dilaporkan hangus terbakar di tengah fenomena El Nino Godzilla yang disebut paling kuat dalam 150 tahun terakhir.
Bencana yang menimbulkan kerugian triliunan rupiah ini terus berulang setiap tahun. Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyebut sekitar 90% kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dilakukan oleh manusia, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hingga Senin (10/08), Menko Polkam Djamari Chaniago menyatakan karhutla telah membakar 107.000 hektare di seluruh Indonesia.
Karhutla Melanda dari Jawa hingga Papua
Di Pulau Jawa, kebakaran menghanguskan sekitar 520 hektare lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Sejak 3 hingga 10 Agustus lalu, api dilaporkan masih berkobar. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mencatat luas area terdampak kini mencapai 520 hektare dari pendataan sebelumnya yang berada di angka 176 hektare dan masih dalam proses pendataan.
Api membakar lahan yang didominasi rumput kering khas pegunungan, sejumlah vegetasi, hingga bunga edelweiss, dan kini api dikabarkan sudah mendekati wilayah permukiman warga. TNBTS pun memutuskan menutup semua akses wisata. Dari udara, tiga helikopter water bombing dikerahkan untuk menyiram sejumlah titik api. Sementara itu, dari jalur darat, petugas mengerahkan tujuh unit mobil pemadam kebakaran, tiga drone water spray, serta ratusan personel gabungan.
Kepala BB TNBTS, Rudjanta Nugraha menyebut dugaan sementara penyebab kebakaran adalah ulah manusia. “Yang kami duga sampai saat ini ada kemungkinan faktor manusia. Bukan faktor alam, karena awal api itu ada di puncak tebing yang terdapat jalur tradisional,” ujarnya.
Selain Bromo, karhutla juga melanda Taman Nasional Baluran, Jawa Timur, dengan hutan terbakar seluas 838 hektare sejak Mei sampai Agustus 2026. Di Jawa Barat, dilaporkan terjadi 88 karhutla dari Januari hingga 29 Juli 2026, dengan 29 kasus akibat pembakaran sampah, lima kasus karena unsur kesengajaan, satu kasus akibat puntung rokok, dan 53 kasus lainnya belum diketahui penyebabnya.
Di Pulau Sulawesi, kobaran api masih menyelimuti wilayah Gunung Soputan, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Sedikitnya 1.094 hektare lahan yang didominasi padang ilalang, pohon pinus, dan kebun warga terdampak. Kobaran api bahkan disebut semakin mendekat ke permukiman warga.
Warga bernama Lice Sanda, 71 tahun, menceritakan pengalamannya saat karhutla terjadi. “Saat itu saya tengah berjualan di kios. Orang-orang semua lari menghindar, api semua mendekat ke kios. Mereka lari ke atas, menghindar dari api,” katanya. Warga lain, Tommy, 43 tahun, mengaku kebakaran itu telah menghancurkan mata pencahariannya, yaitu buah kelapa dan pohon aren.
Di Sumatra, karhutla terjadi di Aceh dengan lahan terbakar di Kabupaten Pidie Jaya tiga hektare, Aceh Besar sekitar 10 hektare, dan Aceh Barat meluas hingga 20,5 hektare. Di Provinsi Riau, karhutla melanda 100 hektare lahan di Kabupaten Pelalawan dan Inderagiri Hulu. Total karhutla di Riau pada semester pertama 2026 mencapai 15.477,9 hektare, mayoritas terjadi di lahan gambut.
Di Sumatra Selatan, BPBD mencatat pada Minggu (02/08) terjadi 37 karhutla dalam satu hari, menjadi yang terbanyak secara harian sepanjang 2026. Sejak 1 Januari hingga 27 Juli 2026, total karhutla mencapai 575 kasus dengan luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare.
Di Kalimantan, BMKG mendeteksi 593 titik panas di Kalimantan Tengah berdasarkan pemantauan satelit pada 7 Agustus 2026. Sementara BMKG Kalimantan Barat mencatat pada 8 Agustus 2026 terdapat 3.242 titik panas karhutla yang tersebar di 14 kabupaten. Karhutla di Kabupaten Ketapang bahkan menyebabkan satu orang tewas dan satu lainnya terluka.
Karhutla juga berdampak pada hewan endemik Kalimantan, yaitu orang utan. BPBD Ketapang menyebut kendala penanganan karhutla meliputi minimnya pasokan air, kondisi kanal mengering, akses sulit menuju titik api, dan banyaknya titik api yang harus ditangani bersamaan.
Baca Juga:
74% Hotspot Berada di Kawasan Konsesi Perusahaan
Berdasarkan data Walhi, dari Januari hingga Juli 2026 terdapat 118.420 hotspot di seluruh Indonesia dengan luas indikatif areal karhutla mencapai 107.649 hektare. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 17.236 titik dengan luas indikatif karhutla mencapai 28.680 hektare.
“Temuan paling penting dalam analisis Walhi menunjukkan bahwa 25.524 hotspot atau sekitar 74% dari total hotspot di Pulau Kalimantan berada di dalam kawasan konsesi perusahaan,” kata Koordinator Pengkampanye Walhi Nasional, Uli Arta Siagian.
Uli menambahkan, sebanyak 10.739 hotspot berada di dalam HGU perkebunan kelapa sawit, 7.880 hotspot berada di konsesi pertambangan, dan 6.905 hotspot berada di konsesi PBPH. Pola yang sama juga terjadi di Pulau Sumatra dan wilayah lainnya, di mana mayoritas titik api berada di wilayah konsesi perusahaan.
“Lagi-lagi data ini membuktikan bahwa akar persoalan karhutla adalah gagalnya negara memastikan perlindungan ekosistem penting seperti gambut dan hutan dan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan-perusahaan penjahat lingkungan,” tambah Uli.
Setidaknya terdapat dua penyebab karhutla di beberapa wilayah tahun ini. Pertama adalah ulah tangan manusia. Ahli forensik kebakaran hutan dari IPB University, Profesor Basuki Wasis, menyatakan sekitar 99% kerusakan lingkungan karena dibakar. Motif pembakaran itu untuk pembersihan lahan sebagai cara mudah dan murah agar lahan ditanami sawit, serta strategi mendapatkan asuransi.
Kedua adalah pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan kondisi kering dan berkurangnya curah hujan. Ahli forensik kebakaran hutan dari IPB University, Profesor Bambang Hero Saharjo, menyebut El Nino di Indonesia tahun ini mendapat julukan El Nino Godzilla dan disebut paling kuat dalam periode 150 tahun terakhir. “Dan beberapa melaporkan kemungkinan El Nino tahun ini berpotensi setara dengan kebakaran 1997/98, yang kebakarannya sampai 10 sampai dengan 11 juta hektare,” kata Bambang.
Bambang juga menyoroti penurunan drastis anggaran penanggulangan bencana melalui BNPB. Pada 2026, anggaran BNPB sebesar Rp 491 miliar, menurun dibandingkan 2025 sebesar Rp2,01 triliun. Padahal, karhutla menyebabkan kerusakan lingkungan yang masif dan menimbulkan kerugian triliunan rupiah. Pada 2025, kerugian negara akibat karhutla sebesar Rp 6,7 triliun dengan luas area terbakar mencapai 359.619 hektare.
Menanggapi meluasnya karhutla, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan seluruh jajaran pemerintah untuk melindungi masyarakat dari ancaman karhutla. Pemerintah mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mengerahkan 43 helikopter, serta menyiapkan flexible tank dan pembuatan sumur untuk memenuhi kebutuhan air dalam penanganan karhutla.
Uli dan Bambang sepakat bahwa rangkaian karhutla yang terjadi saat ini belum mencapai titik tertinggi. Pasalnya, puncak musim kemarau diprediksi hingga awal tahun 2027. “Ini belum selesai, baru babak awal dari karhutla,” kata Bambang. Peringatan BMKG menunjukkan mayoritas wilayah Indonesia masuk zona merah, yaitu sangat mudah terbakar di lapisan atas permukaan tanah.
Untuk meminimalisir potensi meluasnya karhutla, Uli mendesak pemerintah membenahi tata kelola hutan dan lahan dengan mengevaluasi izin-izin korporasi di wilayah rawan. Basuki menyarankan memperkuat manajemen air dengan membangun embung dan sumur-sumur, serta membangun sekat bakar. Bambang menekankan pentingnya menciptakan efek jera dengan menghukum korporasi yang tak mampu menjaga wilayahnya dari kebakaran.





Komentar
Belum ada komentar.