Telset.id – Tren dopamine sites atau situs “pemicu dopamin” menjadi fenomena baru yang menyita perhatian warganet global. Situs-situs ini memungkinkan pengguna berbelanja barang dan jasa yang tidak nyata, mulai dari pakaian hingga layanan pesan-antar makanan, tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Alih-alih bertransaksi sungguhan, pengguna hanya berpura-pura memiliki uang untuk membeli barang yang diinginkan, menjadikannya semacam jendela belanja (window-shopping) yang dirancang ulang untuk era doomscrolling.
Menurut laporan The New York Times, tren ini berawal dari Korea Selatan pada musim semi 2026. Seorang mahasiswa teknik mesin berusia 21 tahun di Seoul bernama Park Seohyun menciptakan situs pesan-antar makanan palsu bernama “Food Never Arrives.” Situs yang kini telah berkembang menjadi aplikasi ini awalnya dibuat sebagai lelucon. Namun, situs tersebut tidak sekadar memungkinkan pengguna memesan makanan yang tidak ada, melainkan juga memberikan estimasi jumlah uang dan kalori yang berhasil dihemat dari melewatkan pesanan sungguhan.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, situs buatan Park Seohyun berubah menjadi hit yang tak terduga. “Orang-orang mulai membagikannya secara online dan mendiskusikan apakah situs ini benar-benar membantu mereka menahan diri dari memesan makanan,” ujar Park kepada NYT. Gelombang peniru pun menyusul. Pada musim panas 2026, seorang engineer Microsoft meluncurkan “FakeHaul,” situs dopamine yang secara meyakinkan meniru pengalaman berbelanja di Temu.
Di India, dua pengembang yang terinspirasi oleh situs Park, Purvansh Parmar dan Anshul Sharma, menciptakan “Food Never Comes.” Situs ini mensimulasikan pengiriman makanan, tetapi menyediakan resep asli untuk makanan yang tidak benar-benar dipesan. Parmar dan Sharma menyatakan kepada surat kabar tersebut bahwa situs mereka telah memperoleh lebih dari 2,7 juta tampilan sejak diluncurkan pada Juni 2026.

Kritik Pakar soal Kepuasan Semu Dopamine Sites
Sejumlah pakar meragukan apakah situs-situs ini memberikan lebih dari sekadar kesenangan sesaat yang kosong. Ravi Dhar, direktur Yale Center for Customer Insights, menyatakan kepada NYT bahwa “elemen menantikan sesuatu membawa banyak kesenangan, dan kita sering mengalami kejatuhan setelah sebuah peristiwa atau merasa kecewa.”
Lingguo Xu, seorang ekonom perilaku yang mempelajari anticipatory utility, memperingatkan bahwa trik dopamin semacam ini bisa cepat membosankan. Selain itu, dengan mensimulasikan konsumsi, pengguna berisiko mengembangkan “keinginan yang lebih kuat.”
Baca Juga:
Fenomena ini sejalan dengan temuan Validasi Delusi Pengguna pada chatbot frontier yang rentan memperkuat keyakinan tidak nyata. Pola serupa juga terlihat pada kasus Laporan AI Halusinasi yang menunjukkan risiko konten digital yang tidak berdasar realitas.
Damta World dan Simulasi Konsumsi Lainnya
Beberapa pengembang membawa ide awal dopamine sites melampaui sekadar mabuk belanja simulasi. Ko Seojin, pengembang asal Korea Selatan lainnya, menciptakan situs untuk istirahat merokok virtual bernama Damta World. Pengguna dapat mengklik untuk mulai merokok rokok animasi yang tampak terbakar di layar.
Di situs ini, pengguna dapat “membisikkan” pesan yang menghilang kepada perokok lain yang sedang istirahat, sementara penghitung melacak jumlah puntung rokok yang dibuang di atap kantor setiap hari. Ko menyatakan kepada NYT bahwa 150.000 orang mengunjungi situsnya setiap bulan, dan ia mengklaim beberapa pengguna telah menjadi teman di dunia nyata setelah bertemu di situs tersebut.
Dinamika interaksi digital yang intensif semacam ini turut menjadi perhatian dalam diskusi tentang Bos Pakai AI dan pola komunikasi virtual yang saling berbalas di lingkungan kerja.
Terlepas dari popularitasnya, dopamine sites menghadirkan pertanyaan tentang nilai jangka panjang dari interaksi digital yang mensimulasikan konsumsi. Persahabatan yang terbentuk melalui Damta World disebut lebih tahan lama dibandingkan sensasi dopamin dari belanja palsu, meski para pakar tetap skeptis terhadap manfaat psikologis yang bertahan lama dari tren ini.





Komentar
Belum ada komentar.