πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi reaktor nuklir ringkas Apollo Atomics yang 40 kali lebih kecil dari konvensional

Apollo Atomics Rancang Reaktor Nuklir 40 Kali Lebih Kecil

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Apollo Atomics fokus pada generator uap, bukan desain reaktor baru, untuk efisiensi energi nuklir
  • Generator uap buatan Apollo seukuran manusia, 40 kali lebih kecil dari konvensional, dan bisa diproduksi massal
  • Startup mendapatkan pendanaan seed US$26 juta yang dipimpin FCVC dengan partisipasi Y Combinator dan Stanford University
  • Target komersialisasi reaktor demonstrasi pada 2028 dengan proyeksi tarif listrik 3 sen per kilowatt jam
  • Pembangkit 300 megawatt ditargetkan selesai dalam 24 bulan dengan biaya produksi reaktor 4-5 kali lebih murah
  • Desain berbasis riset MIT dengan reaktor uji 40 kilowatt telah dibangun

Telset.id – Industri nuklir tengah bergairah dengan pendanaan besar untuk pengembangan reaktor canggih. Namun, Apollo Atomics justru mengambil pendekatan berbeda dengan tidak mendesain reaktor baru, melainkan mengubah cara energi termal dikonversi menjadi listrik. Startup ini mengklaim mampu membangun reaktor 40 kali lebih kecil dari konvensional.

Assil Halimi dan Drew Walker, pendiri Apollo Atomics, menilai perusahaan lain mengejar masalah yang salah. Mereka fokus pada komponen terbesar di pembangkit listrik tenaga nuklir, yaitu steam generator atau generator uap. β€œKami fokus pada komponen terbesar, generator uap. Kami berhasil mengecilkan komponen itu dan membuat seluruh sistem jauh lebih ringkas daripada reaktor lain di pasar,” ujar Halimi, CEO Apollo Atomics, kepada TechCrunch.

Generator uap merupakan bagian penting namun kurang menarik dari pembangkit listrik. Komponen ini menghasilkan uap dari loop pendingin reaktor untuk menggerakkan turbin. Kebanyakan generator uap dibuat secara manual dan tingginya mencapai beberapa lantai. Apollo mengklaim versinya dapat diproduksi massal dengan ukuran sebesar tubuh manusia.

Untuk membangun reaktor demonstrasi sebelum rencana komersialisasi pada 2028, Apollo baru saja menutup pendanaan seed senilai US$26 juta yang mencakup US$5 juta utang. Desain Apollo didasarkan pada riset dari MIT. Halimi memproyeksikan pembangkit listrik Apollo dapat menghasilkan listrik dengan tarif 3 sen per kilowatt jam.

β€œKami tidak ingin inkremental dalam nuklir dan hanya memperbaiki hal kecil. Target kami adalah mengalahkan gas alam,” tegas Halimi.

Masalah pada Desain Generator Uap Konvensional

Halimi menilai generator uap yang ada sekarang masih memiliki banyak ruang untuk perbaikan. Desain lama banyak meminjam dari pembangkit listrik batu bara dan gas alam. Padahal, kedua bahan bakar fosil tersebut memiliki kepadatan energi jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar nuklir seperti uranium.

β€œAnda punya bahan bakar berpotensi tinggi, tetapi hanya mengonversi sebagian kecil saja,” kata Halimi, menunjuk pada kegagalan generator saat ini dalam memaksimalkan sumber bahan bakar nuklir. Kebanyakan generator uap mengalirkan pendingin reaktor melalui serangkaian tabung besar yang dikelilingi air untuk menghasilkan uap.

Generator Apollo akan menghubungkan dua loop fluida melalui blok logam ringkas yang diisi saluran setipis jarum. Pengaturan ini memungkinkan panas ditransfer lebih efisien, yang pada gilirannya memungkinkan perusahaan mengecilkan ukurannya. Dengan kekompakan generator ini, Apollo berencana merakit reaktor dan generator uap di pabrik, bukan di lokasi seperti pembangkit nuklir saat ini.

Antara penghematan tenaga kerja dan ukuran yang lebih kecil, Halimi memperkirakan Apollo akan mampu membangun pembangkit listrik 300 megawatt dalam waktu kurang dari 24 bulan. Ia juga memprediksi biaya produksi reaktor empat hingga lima kali lebih murah dibandingkan desain yang ada.

Apollo telah membangun reaktor kecil berkapasitas 40 kilowatt di MIT untuk mendemonstrasikan teknologinya. Perusahaan berencana menawarkan tiga ukuran, mulai dari 10 megawatt listrik hingga 300 megawatt.

Pendanaan dan Dukungan Investor

FCVC memimpin putaran pendanaan Apollo Atomics. Sejumlah investor lain turut berpartisipasi, termasuk Telesoft Partners, Y Combinator, Alumni Ventures, Robinhood Ventures, Nucleation Capital, Pelion VC, Duke Capital Partners, New Era Ventures, Orange Collective, Stanford University, E14 Fund, dan Neutron Power Ventures. Apollo merupakan bagian dari batch Spring 2026 Y Combinator.

Pendekatan Apollo terhadap investasi teknologi ini menunjukkan bagaimana startup mencoba memecahkan masalah efisiensi energi dengan cara berbeda. Alih-alih bersaing dalam desain reaktor, mereka memilih fokus pada komponen yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Inovasi Apollo berpotensi mengubah ekonomi pembangkit listrik tenaga nuklir. Dengan biaya produksi yang lebih rendah dan waktu pembangunan yang lebih singkat, energi nuklir bisa menjadi lebih kompetitif terhadap gas alam. Target tarif 3 sen per kilowatt jam menjadi ambisius mengingat rata-rata tarif listrik di banyak negara masih di atas angka tersebut.

Namun, perjalanan Apollo masih panjang. Reaktor demonstrasi 40 kilowatt di MIT hanyalah langkah awal. Perusahaan harus membuktikan bahwa teknologinya dapat diskalakan hingga 300 megawatt dan memenuhi regulasi keselamatan nuklir yang ketat. Komersialisasi pada 2028 akan menjadi ujian sesungguhnya bagi klaim efisiensi dan keunggulan biaya Apollo.

Jika berhasil, pendekatan Apollo dapat menjadi preseden baru dalam industri nuklir. Fokus pada komponen pendukung seperti generator uap, bukan hanya reaktor, bisa membuka jalan bagi inovasi serupa di bagian lain dari rantai pasokan pembangkit listrik tenaga nuklir.

Keberhasilan Apollo juga akan menjadi sinyal bagi investor bahwa efisiensi biaya, bukan hanya teknologi reaktor, adalah kunci daya saing energi nuklir. Ini sejalan dengan tren industri yang mencari cara menekan biaya pembangkit listrik.

Proyeksi Halimi bahwa pembangkit Apollo dapat bersaing dengan gas alam menunjukkan target yang jelas. Dengan biaya modal lebih rendah dan waktu konstruksi lebih cepat, pembangkit nuklir skala kecil hingga menengah bisa menjadi opsi menarik bagi negara berkembang atau wilayah terpencil yang membutuhkan listrik andal tanpa emisi karbon.

Reaktor modular Apollo yang diproduksi di pabrik juga mengatasi salah satu hambatan terbesar pembangunan pembangkit nuklir: biaya konstruksi di lokasi yang mahal dan memakan waktu. Dengan perakitan di pabrik, kualitas dapat dikontrol lebih ketat dan jadwal pembangunan lebih pasti.

Ukuran generator yang sebesar manusia juga memungkinkan fleksibilitas penempatan yang lebih besar. Pembangkit tidak lagi membutuhkan bangunan besar untuk menampung generator uap bertingkat, sehingga jejak lahan bisa diminimalkan.

Meski demikian, Apollo harus menghadapi tantangan regulasi. Industri nuklir diatur ketat, dan desain baru memerlukan sertifikasi yang panjang. Namun dengan dukungan investor dan basis riset MIT, Apollo memiliki modal untuk melewati proses tersebut.

Pasar energi global terus mencari solusi rendah karbon yang terjangkau. Jika Apollo memenuhi targetnya, perusahaan ini bisa menjadi pemain penting dalam transisi energi, menawarkan opsi nuklir yang lebih murah dan cepat dibangun dibandingkan pembangkit konvensional.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.