šŸ“‘ Daftar Isi

Logo Meta di gedung kantor pusat perusahaan

Meta Bayar USD 18 Miliar Selesaikan Gugatan Keselamatan Anak

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Meta sepakat membayar hingga USD 18 miliar untuk menyelesaikan gugatan dari 29 negara bagian AS
  • Gugatan menuding Meta merancang Instagram dan Facebook untuk membuat anak kecanduan
  • Meta juga dituduh mengumpulkan data anak tanpa sepengetahuan orang tua, melanggar COPPA
  • Meta setuju menyusun standar verifikasi usia dengan tingkat kesalahan maksimal 10 persen (16-17 tahun) dan 3 persen (13-15 tahun)
  • Remaja mendapat opsi mematikan feed personalisasi dan pembatasan notifikasi pukul 22.00-07.00
  • Batas penggunaan aplikasi Meta untuk remaja maksimal dua jam per hari
  • Meta tidak mengakui kesalahan tetapi enggan melanjutkan persidangan dengan juri
  • Meta menyerukan YouTube dan TikTok mengadopsi perlindungan serupa untuk remaja

Telset.id – Meta sepakat membayar hingga USD 18 miliar untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan oleh 29 negara bagian Amerika Serikat terkait keselamatan anak di platformnya. Kesepakatan ini mengakhiri persidangan yang berpotensi membebani perusahaan dengan kerugian ratusan miliar dolar.

Gugatan yang dilayangkan oleh sekelompok jaksa agung dari 29 negara bagian itu menuding Meta dengan sengaja merancang platform seperti Instagram dan Facebook untuk membuat anak-anak kecanduan. Perusahaan juga dituduh mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan platform tersebut bagi pengguna muda, namun tetap melanjutkan praktiknya.

Selain itu, negara bagian mengeklaim Meta secara sadar mengumpulkan data anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua. Tindakan ini dinilai melanggar Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA), undang-undang perlindungan privasi anak di Amerika Serikat.

Ketentuan Penyelesaian yang Disepakati Meta

Dalam penyelesaian ini, Meta setuju untuk menyusun standar verifikasi usia yang akan diuji secara independen. Standar tersebut harus memiliki tingkat kesalahan positif tidak lebih dari 10 persen untuk pengguna berusia 16 hingga 17 tahun, dan 3 persen untuk pengguna berusia 13 hingga 15 tahun.

Perusahaan juga memberikan opsi kepada remaja untuk mematikan feed yang dipersonalisasi. Artinya, remaja tidak akan lagi melihat konten yang direkomendasikan berdasarkan algoritma Meta. Selain itu, Meta akan menangguhkan notifikasi push untuk remaja antara pukul 22.00 hingga 07.00 kecuali orang tua menonaktifkan pembatasan tersebut.

Meta juga membatasi penggunaan aplikasinya oleh remaja maksimal dua jam per hari. Namun, ada pengecualian untuk layanan pesan dan ā€œkonten berdurasi panjangā€.

Dengan menyelesaikan gugatan ini, Meta tidak mengakui bahwa mereka bersalah atas klaim yang diajukan. Keputusan ini lebih menunjukkan keengganan perusahaan untuk melanjutkan proses persidangan dengan juri.

Seruan Meta kepada Platform Lain

Meta membingkai penyelesaian ini sebagai ajakan bertindak bagi YouTube dan TikTok untuk mengadopsi serangkaian perlindungan bagi remaja dan kontrol untuk orang tua. Hal ini diilustrasikan dalam sebuah postingan blog resmi perusahaan.

ā€œMemastikan remaja memiliki pengalaman yang aman dan produktif di platform kami adalah keharusan mutlak bagi Meta,ā€ tulis Meta dalam pernyataannya. ā€œKami ingin melakukan ini dengan benar untuk orang tua dan remaja, dan karena itulah kami bermitra dengan jaksa agung negara bagian untuk menetapkan standar industri baru.ā€

Penyelesaian ini menjadi salah satu kasus terbesar yang melibatkan Meta terkait keselamatan anak. Sebelumnya, perusahaan telah menghadapi berbagai tekanan regulasi dan tuntutan hukum terkait dampak platformnya terhadap pengguna muda.

Kesepakatan ini juga menyoroti meningkatnya perhatian publik dan regulator terhadap bagaimana platform media sosial menangani keselamatan pengguna di bawah umur. Standar verifikasi usia yang disepakati Meta dapat menjadi acuan bagi perusahaan teknologi lain dalam mengembangkan kebijakan serupa.

Bagi orang tua, ketentuan seperti pembatasan notifikasi malam hari dan batas waktu penggunaan dua jam memberikan kontrol tambahan terhadap aktivitas anak di platform Meta. Sementara itu, opsi untuk mematikan feed yang dipersonalisasi memberi remaja kendali lebih besar atas konten yang mereka konsumsi.

Perkembangan ini melanjutkan rangkaian isu hukum yang dihadapi Meta belakangan ini. Perusahaan juga tengah menghadapi berbagai pengawasan terkait produk dan layanannya, termasuk larangan smart glasses di sejumlah tempat dan insiden prank kacamata Meta yang melibatkan karyawan.

Dengan nilai mencapai USD 18 miliar, penyelesaian ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah kasus keselamatan anak di industri teknologi. Angka tersebut mencerminkan besarnya kekhawatiran publik terhadap dampak media sosial pada kesejahteraan generasi muda.

Langkah Meta untuk menetapkan standar industri baru melalui kerja sama dengan jaksa agung negara bagian dapat mengubah cara platform media sosial lainnya merancang fitur untuk pengguna remaja. YouTube dan TikTok kini berada di bawah tekanan untuk mengikuti standar serupa.

Keputusan ini juga menunjukkan bahwa perusahaan teknologi besar semakin menyadari pentingnya pendekatan proaktif terhadap keselamatan anak, daripada menunggu tuntutan hukum atau regulasi yang lebih ketat. Meski tidak mengakui kesalahan, kesediaan Meta membayar miliaran dolar menandakan perubahan signifikan dalam strategi menghadapi isu ini.

Ke depannya, pengawasan terhadap praktik perlindungan anak di platform digital diprediksi akan semakin ketat. Standar yang disepakati Meta dalam penyelesaian ini, termasuk verifikasi usia dengan tingkat kesalahan rendah, berpotensi menjadi tolok ukur industri.

Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat tingginya penetrasi Instagram dan Facebook di tanah air. Kebijakan perlindungan remaja yang diterapkan Meta secara global kemungkinan akan berlaku juga untuk pengguna di Indonesia.

Orang tua di Indonesia dapat berharap bahwa fitur-fitur seperti pembatasan notifikasi malam, batas waktu penggunaan, dan opsi mematikan feed personalisasi akan tersedia di platform yang digunakan anak-anak mereka. Hal ini memberikan alat tambahan bagi orang tua untuk mengawasi aktivitas digital anak.

Penyelesaian gugatan ini juga menjadi pelajaran bagi industri teknologi secara luas bahwa praktik yang mengabaikan keselamatan anak dapat berujung pada konsekuensi finansial yang sangat besar. Nilai USD 18 miliar atau sekitar Rp 270 triliun menjadi sinyal kuat bagi perusahaan lain untuk lebih serius menangani isu ini.

Meta sendiri menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan fitur keselamatan. Pernyataan perusahaan tentang ā€œkeharusan mutlakā€ menunjukkan bahwa isu ini menjadi prioritas utama dalam kebijakan produk mereka ke depan.

Dengan berakhirnya persidangan ini, fokus kini beralih pada implementasi ketentuan yang disepakati. Pengujian independen terhadap standar verifikasi usia akan menjadi indikator sejauh mana Meta memenuhi komitmennya dalam penyelesaian ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.