📑 Daftar Isi

Bill Gates berbicara tentang risiko AI dan usulan pajak robot serta token AI

Bill Gates: Pajaki Robot dan Cadangkan Pekerjaan untuk Manusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Bill Gates menyerukan pajak pada robot dan token AI untuk mencegah penggantian pekerja manusia
  • Mengusulkan konsep "Human Reserved" untuk mencadangkan pekerjaan khusus bagi manusia
  • Memprediksi banyak pekerjaan akan hilang selamanya akibat AI, baik kerah putih maupun biru
  • Menyatakan dunia telah melewati ambang bahaya AI dalam berbagai kapabilitas
  • Mengusulkan pembentukan organisasi internasional untuk mengelola risiko AI lintas negara
  • Menekankan pemimpin politik harus bertindak sebelum pengangguran meningkat tajam
  • Esai berjudul "The turbulent AI era is here" menandai perubahan sikap Gates menjadi pesimistis
  • Pajak penghasilan individu menyumbang lebih dari separuh pendapatan federal AS

Telset.id – Bill Gates kembali angkat bicara soal dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan umat manusia. Pendiri Microsoft itu kini menyerukan langkah konkret berupa pengenaan pajak pada robot dan token AI, serta kebijakan mencadangkan sebagian pekerjaan khusus untuk manusia. Seruan ini muncul di tengah kekhawatirannya bahwa dunia sama sekali belum siap menghadapi gejolak besar yang akan ditimbulkan oleh teknologi AI.

Dalam esai terbarunya yang berjudul “The turbulent AI era is here. The choices we make now are critical,” Gates memperingatkan bahwa transisi menuju era AI akan menjadi salah satu periode paling turbulen dalam sejarah manusia. Ia menilai banyak orang meremehkan skala dampak AI karena perbandingan yang menyesatkan dengan inovasi masa lalu seperti PC. “Kali ini benar-benar berbeda,” tulis Gates dalam esai sepanjang hampir 6.000 kata tersebut.

Gates mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya terhadap dampak AI pada lapangan kerja. Ia memprediksi akan terjadi pengangguran permanen yang meluas dan gejolak sosial yang signifikan. “Banyak pekerjaan akan hilang selamanya,” ujarnya, dengan pekerjaan kerah putih maupun kerah biru sama-sama berisiko tergantikan.

Pria yang pernah menjabat sebagai ketua Microsoft itu mencatat bahwa pekerjaan entry-level telah menurun signifikan, sehingga menyulitkan lulusan baru untuk mendapatkan pengalaman dan meningkatkan keterampilan mereka. Ia juga menyoroti situasi yang ia sebut tidak adil: “Orang yang paling membutuhkan waktu adalah mereka yang paling tidak memilikinya—pekerja akuntansi yang digantikan oleh bot atau pekerja dengan upah USD 20 per jam yang kehilangan pekerjaannya karena robot berupah USD 10 per jam.”

Usulan Pajak AI dan Konsep Human Reserved

Gates mengusulkan dua kebijakan konkret yang jarang ia keluarkan. Pertama, pemerintah harus mengenakan pajak pada token AI dan robot. Langkah ini dinilai penting karena sistem pajak saat ini justru mendorong para eksekutif untuk mengganti manusia dengan robot, yang sering kali menjadi pengeluaran yang dapat dikurangkan dari pajak. Dengan adanya pajak baru ini, pemerintah tidak hanya terbantu dari sisi neraca keuangan, tetapi juga termotivasi untuk memprioritaskan perekrutan dan mempertahankan karyawan dibandingkan membeli mesin.

Kedua, Gates mengusulkan agar sebagian pekerjaan ditandai sebagai “Human Reserved.” Konsep ini dianalogikan dengan cagar alam—tempat yang sebenarnya bisa dikembangkan tetapi sengaja tidak dilakukan karena kerugiannya akan terlalu besar. Pekerjaan yang dicadangkan ini tidak harus statis, tetapi bisa berupa evolusi lambat di mana alat AI diperkenalkan secara bertahap selama bertahun-tahun hingga puluhan tahun.

Konsep ini dinilai penting terutama bagi industri yang pekerjanya akan terdampak langsung oleh AI dan tidak bisa beralih ke keterampilan lain. Gates mencontohkan seorang pekerja berusia 55 tahun yang bekerja di konstruksi sepanjang hidupnya dan tidak mampu transisi ke industri kesehatan. Ia juga menambahkan bahwa beberapa pekerjaan tidak akan pernah sepenuhnya diambil alih AI karena membutuhkan sentuhan manusia, seperti pendidikan dan layanan kesehatan.

Kekhawatiran Gates juga mencakup dampak pada penerimaan negara. Departemen Keuangan AS menyatakan bahwa lebih dari separuh pendapatan federal berasal dari pajak penghasilan individu pada 2025 dan 2026. Jika tingkat pekerjaan turun, pendapatan pemerintah akan terdampak besar.

Peringatan Ambang Bahaya AI

Dalam wawancara eksklusif dengan MIT Technology Review, Gates mengungkapkan bahwa ia semakin khawatir dengan laju perkembangan teknologi AI, terutama karena pengaman (guardrails) tidak berjalan seimbang. “Kita telah melewati ambang batas dalam hal kapabilitas bio, kapabilitas siber, kapabilitas psikososial, kapabilitas penghancuran pasar kerja, dan bahkan kurangnya kontrol,” katanya. “Saya tercengang dengan kurangnya kepedulian dan diskusi di luar industri.”

Gates juga menyoroti risiko lain yang dibawa AI, seperti penyalahgunaan oleh aktor jahat dan penggantian hubungan antarmanusia yang tulus, terutama di kalangan anak-anak. Ia menegaskan bahwa debat tentang AI, penggunaannya, dan dampaknya harus didiskusikan secara luas di kalangan pekerja, pelajar, pemimpin komunitas, pemimpin agama, orang tua, dan pendidik—bukan hanya segelintir orang yang mengendalikannya.

Usulan Organisasi Internasional

Selain kebijakan pajak dan cadangan pekerjaan, Gates juga menyerukan pembentukan organisasi internasional untuk mengelola risiko AI yang melintasi batas negara. Ia menilai institusi yang ada saat ini tidak memadai untuk tugas monumental mengelola AI karena sifatnya yang lintas sektoral—memengaruhi pajak, tenaga kerja, kesehatan, keamanan nasional, dan pendidikan sekaligus.

Gates mengusulkan agar setiap negara memiliki badan khusus “yang dapat menetapkan prioritas di seluruh lembaga pemerintah” untuk memastikan setiap risiko diperhitungkan. Organisasi internasional itu, menurutnya, “akan berbeda dari institusi lain yang pernah kita ciptakan” dan bisa terinspirasi dari perjanjian internasional tentang nuklir, penerbangan, dan perlindungan lapisan ozon.

Ia mengakui bahwa kerangka kerja semacam itu membutuhkan kerja sama AS-China, meskipun tidak merinci mekanisme untuk mencapainya. “Kita tidak memiliki kemewahan untuk bergerak lambat,” ujarnya, mendesak negara-negara untuk mulai membentuk organisasi internasional tersebut sekarang.

Sikap Baru yang Lebih Pesimistis

Esai terbaru Gates ini menandai perubahan sikap yang signifikan. Jika sebelumnya ia dikenal sebagai optimis AI, kini ia mengaku sangat pesimistis tentang apa arti AI bagi masa depan kolektif kita. Setelah lama absen dari diskusi publik tentang AI, Gates kembali dengan esai panjang yang bertujuan merebut peran sentral dalam membentuk teknologi ini secara global.

Meskipun mengakui bahwa “AI akan menjadi pemerata terbesar yang pernah diciptakan, atau sumber ketidakadilan terburuk,” Gates bersikeras bahwa belum terlambat “untuk memastikan bahwa kebaikan lebih besar daripada keburukan.” Ia berjanji akan menggunakan waktu dan pengaruhnya “untuk menempatkan AI dan kesetaraan lebih tinggi dalam agenda publik” serta mengangkat isu ini dengan para pembuat undang-undang setiap kali mengunjungi Washington DC atau bertemu pemimpin dunia.

Dalam esainya, Gates juga mengisyaratkan akan membahas lebih lanjut “ide-ide untuk memastikan manfaat AI lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkannya” serta detail tentang bagaimana Gates Foundation memanfaatkan AI. Ia juga menyebut akan fokus pada isu-isu lain dalam tulisan-tulisan berikutnya, namun kali ini ia memilih untuk menyelami masalah keamanan kerja dan pajak penghasilan.

Gates menekankan bahwa para pemimpin politik perlu bertindak sekarang “sebelum tingkat pengangguran meningkat tajam, komunitas terluka, dan kepercayaan publik terkikis.” Pernyataan ini menunjukkan urgensi yang ia rasakan—bahwa keputusan yang diambil saat ini akan menentukan apakah AI menjadi berkah atau bencana bagi peradaban manusia.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.