Kehabisan “Bensin”, NASA Pensiunkan Teleskop Antariksa Kepler

NASA Ucapkan Selamat Tinggal pada Teleskop Kepler

Telset.id, Jakarta – Teleskop Antariksa Kepler akhirnya mati setelah sembilan tahun mengeksplorasi luar angkasa akibat kehabisan bahan bakar pada hari Rabu (31/10/2018) pagi. Pesawat antariksa yang memelopori penemuan ribuan planet di luar Tata Surya ini awalnya dimaksudkan untuk menjalankan misi selama empat tahun saja.

Para teknisi menyadari bahwa Kepler nyaris kehabisan bahan bakar awal musim panas ini atau sekitar bulan Juni.

Saat itu, seperti dilansir Telset.id dari The Verge, mereka menyalakan mode aman (safe mode) untuk mendapatkan data-data ilmiah yang sedang dikirimkan Kepler kembali ke Bumi.

Para teknisi akhirnya memang berhasil menyetel mode tersebut dan mendapatkan data tambahan, tapi mereka tahu bahwa usia Kepler sebenarnya sudah mendekati akhir.

Pesawat antariksa Kepler diluncurkan dengan bahan bakar yang diproyeksikan akan bertahan lebih dari enam tahun.

“Kami mengisinya dengan bahan bakar (yang cukup) untuk melepasnya selama mungkin,” ujar Charlie Sobek, teknisi sistem proyek pesawat antariksa Kepler.

Setelah kehabisan bahan bakar, NASA memutuskan untuk secara resmi memensiunkan pesawat antariksa tersebut. Saat ini Kepler berada di orbit yang jauh dari Bumi.

Dalam rentang waktu seminggu ke depan, para teknisi akan mengirimkan perintah kepada Kepler untuk mematikan pemancar dan perangkat lainnya, membiarkan pesawat tersebut membisu dan melayang di orbit.

Kepler, yang dinamai untuk menghormati astronom Johannes Kepler, diluncurkan tahun 2009 dalam misi untuk mencari planet-planet di luar Tata Surya yang disebut exoplanet.

Saat itu, hanya beberapa exoplanet saja yang telah terdeteksi sehingga teleskop antariksa tersebut akan mengintip jauh ke ruang yang belum diketahui. Ketika diluncurkan, Kepler merupakan rancangan ilmiah yang dinilai menakjubkan.

Ia mendeteksi planet-planet dengan melihat transit, yaitu cahaya bintang yang meredup ketika sebuah planet berlalu di antara bintang tersebut dan Bumi.

“Rasanya seperti berusaha mendeteksi kutu yang merangkak melewati lampu mobil ketika mobilnya berada 100 mil (atau 160 kilometer dari kutu),” ujar pensiunan Kepala Investigasi Kepler William Borucki pada konferensi pers.

Di tahun-tahun pertama operasinya, Kepler dinilai sangat sukses. Ia mencari planet-planet di area tertentu di langit, mengawasi sekitar 150.000 bintang untuk transit.

Sayangnya di tahun 2012, beberapa peralatan di pesawat antariksa yang menjaganya mengalami malfungsi. Tahun berikutnya, kondisinya memburuk dan para ilmuwan mencemaskan bahwa saat itu adalah akhir bagi Kepler.

Namun di tahun 2013, para teknisi memberikan solusinya, yaitu menggunakan tekanan dari cahaya matahari untuk menstabilkan pesawat yang membawa teleskop tersebut.

Menggunakan Matahari, mereka dapat menjaga Kepler tetap seimbang selama 83 hari ke depan. Pengembangan tersebut mendorong NASA memulai misi baru yang dinamakan K2.

Kepler dan K2 bersama-sama membantu ilmuwan menemukan planet-planet yang sangat umum, bahkan lebih umum dari bintang-bintang.

Misi keduanya telah menemukan dan mengonfirmasi keberadaan 2.681 planet dan mengidentifikasi kerlip-kerlip di sekitar bintang-bintang jauh yang diduga sebagai planet, tapi masih menunggu kepastian. Banyak dari planet-planet tersebut seukuran antara Bumi dan Neptunus yang tidak ditemui di Tata Surya.

Semua data yang dikumpulkan oleh Kepler berhasil dipancarkan ke Bumi dengan aman, dan para ilmuwan akan terus meneliti informasi tersebut untuk tahun-tahun berikutnya. Namun, informasi baru masih dalam perjalanan.

Beberapa misi untuk memburu exoplanet sedang dikerjakan, termasuk Teleskop Antariksa James Webb yang telah lama tertunda. Untungnya, teleskop lain telah mengudara dan siap untuk melanjutkan pekerjaan Kepler.

NASA meluncurkan Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) di awal tahun ini. TESS mengambil gambar pertama kali di bulan Agustus dan sebulan setelahnya, ia telah mengidentifikasi dua objek yang diduga sebagai planet. Misi Kepler telah memberikan kita pemahaman terhadap alam semesta yang akan terus berkembang.

“Sekarang, berkat Kepler, apa yang kita pikir tentang semesta telah berubah,” ujar Direktur Divisi Astrofisika NASA Paul Hertz.

Kepler bukanlah penjelajah exoplanet terakhir, tapi ia merupakan yang pertama bagi NASA dan ia memberikan cara pandang baru terhadap posisi kita di alam semesta.

“Kepler telah membuka pintu untuk eksplorasi kosmos,” tutur Borucki. (AU/HBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here