Kecam Facebook, Trump “Berkicau” Soal Teori Konspirasi di Twitter

Telset.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada Sabtu (04/05) waktu setempat berkicau soal teori konspirasi dan tokoh sayap kanan via Twitter. Ia melakukannya setelah Facebook melarang beberapa tokoh sayap kanan mempromosikan kekerasan dan kebencian.

Trump tak hanya mengecam Facebook, tetapi juga beberapa media seperti The New York Times, Washington Post, CNN, dan MSNBC. Ia menyebut bahwa media-media itu diizinkan nongol di Facebook maupun Twitter padahal kerap menyebar berita bohong alias hoaks di linimasa.

Trump memprotes pula tentang pelarangan aktor James Woods eksis di Twitter. Woods di-banned oleh Twitter karena mengunggah tagar #HangThemAll. Sementara Facebook, Kamis (03/05), melarang Infowars serta pendirinya, Alex Jones dan Paul Joseph Watson karena mendorong teori konspirasi.

{Baca juga: Ada Penampakan UFO di Foto Ini, Benarkah?}

Dikutip Telset.id dari CNBC, Senin (06/05/2019), Facebook juga melarang tokoh media sayap kanan, Milo Yiannopoulos dan Laura Loomer, serta Paul Nehlen yang mencalonkan diri sebagai anggota Kongres di Wisconsin dan secara massif menggaungkan tentang supremasi kulit putih.

“Kami selalu melarang individu atau organisasi yang mempromosikan atau terlibat dalam kekerasan dan kebencian. Proses untuk mengevaluasi pelanggar potensial penuh pertimbangan. Seperti inilah keputusan kami dalam menghapus akun meresahkan, ”kata Facebook dalam sebuah pernyataan.

{Baca juga: Mau Nyapres, Bos Foxconn “Berguru” ke Donald Trump}

Beberapa waktu lalu, Trump bertemu dengan CEO Twitter, Jack Dorsey. Dalam pertemuan tersebut, Trump bertanya kepada Dorsey kenapa semakin hari kehilangan banyak pengikut di Twitter. Dorsey pun menjawab langsung pertanyaan Trump kenapa ada banyak pengikutnya yang hilang.

Menurut Dorsey, seperti dilaporkan Reuters, hal tersebut terjadi karena Twitter berusaha menghapus akun-akun palsu atau spam. Alhasil, ia menyebut, banyak orang terkenal, termasuk Dorsey jadi kehilangan pengikut. Twitter tak ingin spam bergentayangan di platform mereka. (SN/FHP)

Sumber: CNBC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here