📑 Daftar Isi

Ilustrasi siswa menggunakan kacamata pintar AI Rokid untuk menyontek selama ujian di ruang kelas.

Kacamata AI Dipakai Siswa China untuk Menyontek Saat Ujian

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:1 April 2026
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Kacamata pintar (smart glasses) berbasis kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan siswa di China untuk menyontek selama ujian. Perangkat ini disewa melalui pasar daring dengan harga sewa harian yang bervariasi, menciptakan tren baru dalam kecurangan akademik yang sulit dideteksi.

Seorang mahasiswa yang diidentifikasi sebagai Vivian mengungkapkan kepada Rest of World bahwa ia menggunakan kacamata AI Rokid untuk memindai soal ujian dan menampilkan jawaban di layar terintegrasi. Kacamata serupa dari Meta, Ray-Ban Display, saat ini hanya tersedia di AS, namun alternatif seperti Rokid dan Quark tersedia secara global.

Vivian bahkan mengembangkan aktivitas ini menjadi bisnis sampingan dengan menyewakan kacamatanya kepada teman sekelas, mengubah investasinya menjadi sumber pendapatan. Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi yang dirancang untuk produktivitas justru disalahgunakan untuk mendapatkan nilai tinggi secara tidak jujur.

Pasar Sewa dan Cara Kerja Kecurangan

Harga kacamata AI yang masih mahal mendorong konsumen di China beralih ke pasar barang bekas seperti Xianyu untuk menyewa. Biaya sewa berkisar antara setara $6 hingga $12 per hari, tergantung model. Ke Changsi, seorang pengusaha di Shenzhen yang menyewakan kacamata Rokid dan Quark, menjelaskan bahwa dengan pengontrol berbentuk cincin kecil, siswa dapat secara diam-diam menggunakan perangkat ini untuk menjawab soal bahasa Inggris dan matematika.

Industri kacamata pintar memang mendapat dorongan signifikan berkat kemajuan AI. Fitur standar biasanya meliputi mengambil foto, merekam video, menganalisis lingkungan, menerjemahkan rambu jalan, memberikan arahan, atau membaca naskah selama presentasi. Namun, dalam konteks ujian, fungsi pemindaian teks dan pencarian jawaban instan menjadi celah yang dieksploitasi.

Baca Juga:

Respons Institusi Pendidikan dan Batasan Teknologi

Pihak berwenang di bidang pendidikan China mulai menyadari ancaman ini. Program pendidikan menengah negara tersebut telah secara eksplisit melarang penggunaan perangkat tersebut dalam ujian masuk perguruan tinggi nasional dan ujian pelayanan sipil. Namun, banyak guru yang belum sepenuhnya memahami tren ini, terutama karena desain kacamata dari Rokid dan Meta sangat mirip dengan kacamata biasa atau kacamata hitam konvensional.

Di luar masalah kecurangan, teknologi ini masih jauh dari sempurna. Perangkat masih memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan kacamata konvensional dan memerlukan pengisian daya yang sering karena kapasitas baterai yang terbatas. Meski demikian, ketidaksempurnaan ini tidak menghalangi efektivitasnya sebagai alat curang.

Sebuah eksperimen yang dilakukan peneliti di Hong Kong University of Science and Technology awal tahun ini membuktikan hal tersebut. Mereka menambahkan model bahasa besar GPT-5.2 dari OpenAI ke sepasang kacamata Rokid dan meminta seorang mahasiswa memakainya selama “minggu ujian akhir yang menegangkan” di kelas dengan lebih dari 100 siswa. Mahasiswa tersebut “mencapai nilai menakjubkan sebesar 92,5” dalam ujian akhir mata kuliah jaringan komunikasi komputer sarjana, menempatkannya “di antara lima besar” di kelasnya.

Kasus ini mengingatkan pada insiden lain di mana teknologi serupa disalahgunakan, seperti pria yang tertangkap menggunakan kacamata pintar untuk mendapatkan nasihat saat diperiksa di pengadilan. Penyalahgunaan teknologi untuk mengakali sistem evaluasi menjadi tantangan baru bagi lembaga pendidikan di seluruh dunia, serupa dengan isu manipulasi skor di dunia teknologi.

Beberapa negara mulai mengambil pendekatan berbeda, seperti mengajarkan penggunaan AI secara bertanggung jawab di sekolah, alih-alih sekadar melarang. Tren ini memicu diskusi mendalam tentang integritas akademik di era AI dan bagaimana lembaga pendidikan harus beradaptasi dengan teknologi yang berkembang pesat, sekaligus mempertahankan esensi dari proses evaluasi pembelajaran.