Alphabet Bangun Jaringan Internet Cahaya, Namanya Project Taara

Telset.id, Jakarta – Induk perusahaan Google, Alphabet sedang membangun jaringan internet yang bisa disebarluaskan melalui cahaya. Melalui divisi X atau The Moonshot Factory, Alphabet melakukan uji coba jaringan internet tersebut di wilayah Afrika.

Project Taara, demikian Alphabet menyebutnya, adalah lanjutan dari pekerjaan bernama Alphabet Free Space Optical Communications (FSOC) Project.

Dilansir Telset dari Techcrunch pada Jumat (13/11/2020), Alphabet menggandeng perusahaan penyedia internet bernama Econet dan anak perusahaannya untuk mengembangkan teknologi jaringan internet via cahaya di kawasan sub-Sahara, Afrika. 

Selanjutnya apa itu jaringan internet menggunakan cahaya? pada dasarnya jaringan ini adalah kabel jaringan serat optik tanpa kabel. Sebagai gantinya jaringan menggunakan berkas cahaya yang sempit dan tidak terlihat untuk saling mengirimkan data. 

{Baca juga: 10 Negara dengan Internet Tercepat di Dunia, Jauh di Atas Indonesia}

Jaringan Internet Cahaya Punya Kecepatan 20 Gbps

Jaringan internet cahaya Alphabet Project Taara
Foto: PCMag

Jaringan internet hasil kembangan Alphabet ini pada dasarnya adalah kabel jaringan serat optik tanpa kabel. Internet akan disalurkan melalui berkas cahaya yang sempit dan tidak terlihat.

Caya ini mampu mengirimkan data antara dua terminal dengan jangkauan hingga 12.5 mil atau 19.3 km dengan kecepatan hingga 20 Gbps. 

Dengan jangkauan yang luas dan kecepatan yang tinggi, maka internet dapat digunakan untuk menghubungkan ribuan pelanggan, dan mereka dapat mengakses internet berkualitas tinggi. 

Project Taara juga dapat digunakan untuk menambal celah dalam jaringan serat optik tradisional melalui kabel.

Seperti diketahui, jaringan serat optik kabel memiliki kelemahan karena sulit dibangun di wilayah aliran sungai, pegunungan, kepulauan atau wilayah-wilayah dengan kontur sulit lainnya.

{Baca juga: Tahun Depan, Fitur Upload Gratis di Google Photos Dihilangkan}

Alasannya, penyedia jasa internet akan sulit membangun kabel di wilayah tersebut dan kalaupun dibangun, maka membutuhkan ongkos operasional yang tinggi.

Untuk itu, teknologi jaringan internet cahaya besutan Alphabet diklaim lebih efisien karena dapat dipasang bersamaan dengan jaringan internet tradisional yang menggunakan kabel, sehingga penyedia jasa internet tidak perlu membangun infrastruktur baru.

Syaratnya, infrastruktur jaringan harus berada di tempat tinggi dan memiliki garis pandang yang lurus. 

Jaringan internet menggunakan cahaya ini sudah dilakukan di Kenya melalui provider Econet Liquid Telecom. Tidak menutup kemungkinan jaringan internet cahaya bisa segera diterapkan di seluruh dunia dalam waktu dekat. 

Solusi Lain dari Project Loon

Project Loon
Foto: New Atlas

Alphabet memang tengah membangun berbagai inovasi teknologi untuk pemerataan akses internet di dunia. Sebelumnya, perusahaan induk Google ini menghadirkan Project Loon berupa balon udara yang dapat memberikan koneksi internet.  

Tujuan menghadirkan balon udara tersebut untuk membantu memfasilitasi jaringan internet di kawasan terpencil yang sulit terjangkau jika menggunakan infrastruktur kabel. 

Loon telah dikembangkan dan dilakukan pengujian sejak tahun 2013 dan memiliki cara kerja yang cukup unik.

Balon udara internet ini adalah balon yang berisikan router Wi-Fi canggih dan balon akan diterbangkan ke lapisan stratosfer atau 18 – 27 km di atas permukaan laut. 

{Baca juga: Survei APJII: Total Pengguna Internet Indonesia Tembus 196 Juta}

Selanjutnya, balon akan bekerja sama dengan perusahaan telekomunikasi di beberapa negara untuk memberikan akses internet ke wilayah-wilayah terpencil. 

Balon udara ini telah dilakukan beberapa uji coba dan teknologi ini mulai dilirik oleh banyak negara, termasuk Indonesia. 

Baik Project Taara dan Project Loon hadir untuk memberikan pemerataan akses internet di seluruh dunia.

Pasalnya dilansir dari Statista pada Jumat (13/11/2020), jumlah pengguna internet aktif pada Juli 2020 hanya 59% dari total populasi global atau sekitar 4,57 miliar orang. 

Artinya masih ada 41% populasi global yang bukan pengguna internet aktif dan bisa jadi penyebabnya karena akses internet belum merata. 

Fakta ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak supaya pemerataan internet semakin maksimal. Dengan pemerataan internet yang baik dapat berdampak pada aspek ekonomi, sosial, budaya dan kehidupan masyarakat lainnya. (NM/MF)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0