telset

Algoritma Facebook Promosikan Konten Penyangkal Holocaust

Telset.id, Jakarta  – Menurut laporan terbaru dari analis, platform Facebook penuh dengan konten penolakan Holocaust. Bahkan diketahui juga algoritma Facebook “secara aktif mempromosikan” materi mengenai penolakan tersebut.

Institute for Strategic Dialogue yang berbasis di Inggris, sebuah organisasi anti-ekstremis, menjelajahi situs media sosial dan menemukan setidaknya 36 kelompok dengan gabungan 366.068 pengikut.

{Baca juga: Teknologi Ini Bantu Nasib Korban Holocaust Tentara Nazi}

Menurut laporan New York Post, seperti dikutip Telset.id, Senin (17/8/2020), 36 kelompok itu diketahui menampung konten yang menyangkal genosida Nazi. Studi bahkan juga menemukan fakta lainnya.

Institute for Strategic Dialogue menemukan bahwa mencari kata “Holocaust” di Facebook akan mengembalikan saran untuk kelompok penyangkal terkait penerbit yang menjual literatur sejarah revisionis.

“Keputusan Facebook mengizinkan konten penolakan Holocaust tetap berada di platform dibingkai dengan kedok melindungi debat sejarah yang sah,” kata Jacob Davey, manajer Institute for Strategic Dialogue.

“Penolakan Holocaust adalah alat yang disengaja untuk mendelegitimasi penderitaan orang-orang Yahudi dan mengabadikan kiasan antisemit. Hal itu bisa disebut sebagai tindakan kebencian,” tambahnya.

Facebook dan situs media sosial lain semakin diteliti terkait kebijakan misinformasi yang tersebar di platform. CEO Facebook, Mark Zuckerberg, menyebut situs media sosial tidak boleh jadi penengah kebenaran.

Sebelumnya, Zuckerberg pernah menjelaskan terkait pernyataannya yang menyebut bahwa para pengguna Facebook tidak mempercayai Holocaust atau pembantaian orang Yahudi oleh Jerman pada pada Perang Dunia II.

{Baca juga: Heboh! Lagu Nazi Viral di TikTok Ditonton 6,5 Juta Kali}

Zuckerberg mencoba memberi klarifikasi dengan menyatakan dirinya tak bermaksud membela orang-orang sentimen terhadap Holocaust. Apalagi, semua orang tahu bahwa Zuckerberg juga merupakan bagian dari etnis Yahudi.

“Larangan soal konten kontroversial seperti itu bukan menjadi tanggung jawab Facebook. Namun, kami harus memastikan bahwa konten rasis tersebut tidak tersebar luas di Feed,” katanya lewat surat elektronik sperti dilansir Recode, Kamis (19/7).

“Kami merasa bertanggung jawab dalam upaya mencegah hoaks supaya tidak menjadi viral dan didistribusikan kepada banyak orang,” imbuh Zuckerberg.

Zuckerberg mengaku bahwa Facebook memilih untuk melakukan pendekatan yang tidak terlalu ekstrem dalam menanggapi informasi keliru. Menurutnya, semua orang bisa saja salah dalam memahami sesuatu, termasuk tentang peristiwa Holocaust.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ketika sebuah postingan viral banyak menerima flag sebagai hoaks, sejumlah orang yang bertugas sebagai pengecek fakta akan melakukan pemeriksaan. Jika informasi tersebut memang salah, maka Facebook akan menurunkan tingkat penyebaran postingan itu.

{Baca juga: Terkait Polemik Holocaust, Zuckerberg Akhirnya Buka Suara}

Sebelumnya, ketika membahas konten konspirasi yang disebarkan oleh Infowars mengenai penembakan massal di Sekolah Dasar Sandy Hook di Connecticut, Amerika Serikat, tiba-tiba Zuck mengungkit Holocaust.

“Saya orang Yahudi, dan ada sekelompok orang yang menolak bahwa Holocaust pernah terjadi. Saya menemukan hal itu sangat ofensif,” ujar Zuckerberg.

“Tapi, pada akhirnya, saya tidak percaya bahwa platform kami harus menghapusnya karena saya pikir banyak hal salah yang diterima oleh orang lain. Saya rasa mereka tidak sengaja melakukan kesalahan,” pungkasnya. [SN/HBS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0