Telset.id – CEO Unitree, Wang Xingxing, memprediksi bahwa model GPT-7 yang dirilis tahun depan berpotensi memecahkan persoalan embodied intelligence, sebuah terobosan yang bisa mengubah wajah industri robotika global. Prediksi ini disampaikan Wang dalam sebuah acara industri di Shanghai, China, dan menandai perubahan sikapnya yang jauh lebih optimistis dibanding pernyataannya beberapa bulan sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Wang menilai bahwa model GPT-6 Astra yang baru saja dirilis OpenAI memiliki kemampuan begitu kuat sehingga memunculkan keyakinan bahwa lompatan besar di bidang robotika bisa terjadi dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ia menyebut momen tersebut sebagai “ChatGPT moment” bagi industri robotika, yakni titik ketika kecerdasan buatan benar-benar mampu mengendalikan perangkat robotik secara utuh.
Prediksi terbaru ini berbeda jauh dari pandangan Wang pada Agustus tahun ini. Saat itu, ia memperkirakan momen teknis semacam itu masih membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk terwujud. Perubahan estimasi tersebut menunjukkan bagaimana perkembangan model AI generatif dalam beberapa bulan terakhir telah mengubah cara pandang pelaku industri terhadap kecepatan adopsi teknologi.
Wang juga memberikan tolok ukur yang jelas untuk menilai kematangan embodied intelligence. Menurutnya, robot harus mampu menyelesaikan 80 persen tugas yang diberikan di 80 persen lingkungan yang belum dikenal, hanya dengan perintah suara atau teks. Jika ambang batas itu tercapai, Wang meyakini embodied intelligence sudah masuk ke level kematangan yang memadai.
Unitree sendiri dikenal sebagai salah satu perusahaan robotika paling maju di dunia. Namun, kekuatan utama robot-robot mereka selama ini lebih banyak bertumpu pada sisi perangkat keras. Perusahaan mulai mengalihkan perhatian ke pengembangan perangkat lunak AI, dan dengan kemajuan yang ditunjukkan GPT-6 Astra, jarak antara kedua sisi perangkat Unitree berpotensi segera menyempit.
Baca Juga:
Kombinasi antara perangkat keras robotik dan model AI canggih sebenarnya sudah pernah diuji. Movement Lab milik Stanford University memasangkan sebuah robot Unitree dengan GPT-6 Astra dan menugaskannya membersihkan dapur yang belum pernah dikenalnya. Dalam eksperimen tersebut, robot mampu membersihkan ruangan dan mengambil kembali objek yang diminta lewat permintaan tidak spesifik, tanpa data pelatihan khusus lingkungan maupun pembelajaran kebijakan tambahan.
Kemampuan itu tidak lepas dari peningkatan signifikan pada GPT-6 Astra dibanding model sebelumnya. Model tersebut mencatat skor 92,7 persen pada uji ScreenSpot-Pro, yang mengukur kemampuan model AI berinteraksi dengan antarmuka. Angka itu naik dari 76,9 persen pada GPT-5.6 Sol. Meski demikian, peningkatan kemampuan ini juga memicu kekhawatiran para pakar keamanan siber terkait potensi ancaman jika model tersebut lepas kendali dan mulai meretas organisasi lain, sesuatu yang pernah dilakukan model-model OpenAI terbaru.

Jika prediksi Wang terbukti benar dan terjadi ledakan kemampuan AI dalam satu hingga dua tahun ke depan, dampaknya bisa sangat besar bagi industri robotika dan hampir setiap aspek kehidupan yang saat ini tersentuh AI. Besarnya dana yang telah diinvestasikan di bidang AI selama beberapa tahun terakhir membuat taruhan atas prediksi ini memiliki bobot yang tidak kecil.
Di sisi lain, perkembangan Unitree sebagai perusahaan robotika juga terus menjadi sorotan. Berbagai produk mereka telah menarik perhatian publik, mulai dari robot humanoid hingga platform berkaki empat yang digunakan di berbagai ajang. Beberapa di antaranya bahkan sempat menuai kritik industri, seperti yang terjadi pada penampilan robot di Vogue World Milan.
Perusahaan juga dikenal lewat sederet inovasi perangkat kerasnya. Robot humanoid dan platform berkaki empat Unitree berulang kali menunjukkan kemampuan teknis di luar kebiasaan, termasuk kecepatan lari robot yang menjadi perbincangan. Tak hanya itu, Unitree juga mengembangkan platform robotik khusus seperti robot wolf AI yang dirancang untuk medan ekstrem.
Sementara itu, prediksi Wang soal GPT-7 menjadi penanda penting bagi arah industri robotika ke depan. Jika model AI generasi berikutnya benar-benar mampu memecahkan persoalan embodied intelligence, maka robot tidak lagi sekadar alat dengan kemampuan mekanis terbatas, melainkan sistem yang bisa memahami dan menjalankan perintah kompleks di lingkungan nyata tanpa pelatihan khusus.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari OpenAI mengenai waktu peluncuran GPT-7 maupun klaim bahwa model tersebut akan secara langsung menyelesaikan persoalan embodied intelligence. Pernyataan Wang tetap menjadi proyeksi dari sisi pelaku industri robotika yang berkepentingan langsung terhadap perkembangan teknologi AI.
Yang jelas, pernyataan CEO Unitree ini menunjukkan bahwa kalangan industri robotika kini menaruh harapan besar pada lompatan kemampuan model AI generatif sebagai kunci terbukanya era baru dalam interaksi manusia dan mesin. Bagi pengguna maupun pelaku bisnis di sektor teknologi, perkembangan ini menjadi indikator penting untuk memantau seberapa cepat AI benar-benar masuk ke ranah fisik melalui robotika.





Komentar
Belum ada komentar.