Telset.id ā Federal Reserve mulai mengakui bahwa ledakan pembangunan data center AI turut mendorong kenaikan harga di Amerika Serikat, setelah sebelumnya pihaknya lebih banyak menyalahkan perang tarif Presiden Donald Trump sebagai penyebab inflasi. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan bahwa inflasi yang terkait dengan AI kini ājumping out of its laneā atau keluar dari jalur yang seharusnya.
Pernyataan itu menjadi sinyal perubahan nada dari para pejabat Federal Reserve. Menurut laporan Washington Post, āAI-related investmentsā yang meledak disebut berkontribusi terhadap tekanan inflasi yang sedang berlangsung di ekonomi AS. Kondisi ini terjadi di tengah perang Iran yang disebut telah membuat harga minyak melonjak.
Goolsbee menyampaikan hal tersebut kepada Semafor. Ia menyoroti bahwa kenaikan harga tidak lagi hanya terjadi pada komponen di dalam data center dan industri yang berdekatan langsung dengannya. āHarga naik di ruang-ruang yang bukan sekadar komponen di data center dan industri yang berdekatan langsung,ā ujarnya. āSaya semakin gugup bahwa ini hanyalah overheating permintaan yang klasik.ā
Dalam ilmu ekonomi, overheating terjadi ketika permintaan agregat melampaui kapasitas produktif. Kondisi ini memicu inflasi sisi permintaan, harga lebih tinggi, dan pada akhirnya menurunkan permintaan serta konsumsi. Dalam skenario terburuk, overheating bahkan dapat memicu resesi.
āButuh waktu lama bagi permintaan yang overheating untuk berjalan, dan begitu berjalan, sulit untuk menghilangkannya,ā tambah Goolsbee.
Harga bahan pangan disebut belum terdampak secara langsung. Meski demikian, para ekonom mulai mempertanyakan apakah hal itu hanya soal waktu. Pertanyaan lain yang juga mengemuka adalah apakah kenaikan suku bunga, yang membuat pinjaman lebih mahal dan menekan belanja konsumen, mampu secara signifikan mengatasi inflasi yang sedang naik. Hal itu pun mulai terlihat bukan lagi sebagai kepastian.
Federal Reserve menaikkan suku bunga pada September, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, seiring inflasi yang dinilai sulit dikalahkan. Pasar futures memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya pada bulan ini, menurut Reuters.
Baca Juga:
Di sisi lain, puluhan miliar dolar yang dibelanjakan untuk data center AI mulai menutupi sejumlah masalah fundamental yang membelit ekonomi AS. Hal ini memicu kekhawatiran tentang bagaimana kondisi ekonomi jika gelembung AI (AI bubble) pecah.
Sektor-sektor yang sudah merasakan dampak langsung dari boom konstruksi tersebut antara lain adalah elektronik konsumen yang kini nyaris tak terjangkau, serta kelangkaan tenaga kerja terampil untuk proyek perumahan.
Menurut Goolsbee, āsudah jelas apa yang harus dilakukan Fedā jika inflasi ātetap persistenā, yakni terus menaikkan suku bunga. Namun, selama perusahaan teknologi tidak menunjukkan tanda-tanda memperlambat tingkat belanja mereka yang ekstrem, tuas kebijakan itu bisa berujung menaikkan biaya investasi. Realitas tersebut akan membuat situasi lebih sulit bagi perusahaan AI.
Isu ini juga menyentuh ranah kebijakan dan keamanan di AS. Sebelumnya, empat badan federal AS digugat soal kerahasiaan framework uji AI, dan FBI disebut menggagalkan peretasan China ke NASA dan Federal Reserve.
Di sisi lain, kebijakan teknologi di berbagai negara terus menjadi sorotan, termasuk langkah Senator Sanders yang mengajukan RUU larangan kamera Flock untuk federal, putusan hakim federal yang memblokir aturan VPN Utah SB 73, dan pertimbangan Australia soal larangan kacamata Meta di tempat kerja federal.

Dengan tren belanja data center AI yang belum menunjukkan perlambatan, tekanan terhadap inflasi AS diprediksi masih menjadi perhatian utama Federal Reserve. Keputusan suku bunga berikutnya akan menjadi indikator penting arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam.





Komentar
Belum ada komentar.