πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi robot memberi hormat di depan bendera China

Survei Global: China Ungguli AS dalam Persepsi AI Dunia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Public First ungkap 11 dari 15 negara nilai China ungguli AS dalam AI
  • Hanya 51% warga AS yakin negaranya masih memimpin perlombaan AI
  • Negara sekutu AS seperti Kanada, Prancis, dan Inggris lebih banyak memilih China
  • Pendekatan AI China dinilai lebih berpusat pada manusia dan kompetitif
  • Model Silicon Valley berpotensi hadapi krisis legitimasi akibat strategi eksploitatif

Telset.id – Persepsi global terhadap kepemimpinan kecerdasan buatan (AI) mengalami pergeseran signifikan. Sebuah survei baru yang dilakukan oleh firma riset asal Inggris, Public First, dan dilaporkan oleh Politico, mengungkapkan bahwa responden di 11 dari 15 negara yang disurvei kini percaya China telah melampaui Amerika Serikat dalam hal kemampuan dan inovasi AI.

Temuan ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang persaingan AI antara dua negara adidaya tersebut, di luar sekadar skor benchmark atau jumlah paten. Survei ini menunjukkan bahwa opini publik global menjadi indikator yang kuat. Hanya responden di Jepang, India, Vietnam, dan AS sendiri yang masih memihak pada kemampuan AI Amerika Serikat.

Sentimen di Dalam Negeri AS Mulai Terkikis

Bahkan di dalam negeri Amerika Serikat, sentimen terhadap dominasi AI tidak sekuat yang diperkirakan. Menurut survei tersebut, hanya 51 persen warga AS yang masih meyakini negaranya memimpin dalam perlombaan AI. Angka ini mengindikasikan keraguan yang cukup besar di kalangan masyarakat Amerika sendiri.

Dari jumlah tersebut, 24 persen responden AS secara spesifik menyatakan bahwa β€œChina yang memimpin,” sementara 25 persen lainnya menjawab β€œtidak tahu.” Fakta bahwa hampir setengah dari responden AS pesimis terhadap kemampuan AI negaranya sendiri merupakan sinyal yang patut dicermati. Situasi ini mengingatkan pada dinamika persaingan teknologi yang juga terlihat di sektor lain, seperti yang dibahas dalam artikel tentang Pasar Smartphone Global.

Opini dari Sekutu dan Tetangga AS

Opini dari negara-negara tetangga dan sekutu tradisional AS bahkan lebih mencengangkan. Di Meksiko, hanya 36 persen responden yang menilai AS unggul, sementara 49 persen meyakini China yang memegang kendali. Sementara itu, opini dari Kanada menunjukkan hasil yang lebih timpang: hanya 27 persen responden Kanada yang mendukung tetangganya di Selatan, berbanding 40 persen yang memilih China.

Negara-negara sekutu AS lainnya juga menunjukkan ketidakpuasan terhadap model pengembangan AI ala Silicon Valley. Opini publik di Prancis identik dengan Kanada, sementara di Inggris, hanya 26 persen responden yang mendukung AS, dan 44 persen memilih China. Pergeseran opini ini bisa jadi mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap model AI yang dianggap eksploitatif dan tidak berpihak pada pekerja.

Dua Kutub Ekstrem dalam Perlombaan AI

Survei ini menyoroti perbedaan fundamental antara dua pendekatan dalam pengembangan AI. Di satu sisi, ada model Silicon Valley yang digambarkan sebagai pengembangan AI boros sumber daya dan berdampak buruk pada populasi, didorong oleh konsolidasi kekuasaan korporat yang masif. Model ini seringkali dianggap tidak ramah terhadap pekerja.

Di sisi lain, pendekatan China menekankan persaingan ketat dengan regulasi AI yang berpusat pada manusia. Dalam model ini, performa terbaik hari ini bisa menjadi yang terendah besok. Kedua strategi ini mengejar hasil yang sangat berbeda, membuat sulit untuk menentukan siapa yang sebenarnya unggul pada satu waktu tertentu. Isu ini juga terkait dengan upaya global untuk menciptakan Keamanan AI yang lebih baik.

Krisis Legitimasi Model Silicon Valley

Tidak dapat dipungkiri bahwa pergeseran opini global ini mungkin mencerminkan rasa jijik yang semakin besar terhadap model Amerika, atau kekaguman yang tulus terhadap pendekatan China. Namun, yang jelas adalah jika industri teknologi AS berniat untuk terus memperkuat strategi yang dianggap eksploitatif dan tidak berpihak pada pekerja, mereka menghadapi krisis legitimasi yang serius.

Masalah ini tidak dapat diselesaikan oleh satu perusahaan pun. Hal ini membutuhkan perubahan fundamental dalam cara pengembangan AI dilakukan di Silicon Valley. Jika tidak, bukan tidak mungkin persepsi global akan terus bergeser meninggalkan AS, sebagaimana yang terlihat dalam survei Public First ini.

Komentar

Belum ada komentar.