The Atlantic Ungkap 12 Juta Lagu Dipakai untuk Latih AI

The Atlantic Ungkap 12 Juta Lagu Dipakai untuk Latih AI

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – The Atlantic merilis empat database yang dapat dicari, berisi jutaan lagu yang digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Database tersebut mengungkap bahwa lagu-lagu dari musisi besar seperti Taylor Swift dan Bad Bunny termasuk dalam kumpulan data pelatihan AI.

Investigasi ini mengungkap skala penggunaan musik berhak cipta yang cukup besar. Satu database berisi 12 juta trek, database lain menampung 9 juta lagu, dan dua database sisanya masing-masing berisi sekitar 100.000 lagu. Data ini memberikan gambaran betapa masifnya konten yang diambil tanpa izin untuk pengembangan AI generatif.

Artikel pendamping yang ditulis oleh staf penulis The Atlantic, Alex Reisner, memberikan konteks lebih lanjut. Reisner menunjukkan bahwa banyak musik berhak cipta, termasuk lagu-lagu hits dari Taylor Swift dan Bad Bunny, digunakan dalam pelatihan AI. Temuan ini menjadi bukti baru dalam sengketa hukum yang sedang berlangsung.

Reisner menyoroti beberapa kasus hukum yang sudah berjalan melawan platform musik AI generatif, seperti Suno dan Udio. Platform-platform tersebut sering mengklaim “penggunaan wajar” (fair use) sebagai pembelaan atas pengambilan konten berhak cipta secara besar-besaran untuk mendukung platform mereka.

Kasus serupa di dunia penerbitan buku sebelumnya tidak berhasil meyakinkan hakim mengenai klaim pelanggaran hak cipta. Namun, tuduhan pembajakan terbukti menjadi argumen yang lebih kuat. Meskipun hasil dan pembayaran penuh dari gugatan tersebut masih menunggu, penyelesaian awal mencapai angka 1,5 miliar dolar AS.

Baca Juga:

Keberadaan database dari The Atlantic ini dapat membantu pihak-pihak di industri musik untuk mengajukan gugatan serupa di masa depan. Data yang komprehensif ini memberikan bukti kuat mengenai penggunaan karya mereka tanpa izin.

Banyak layanan streaming musik telah mengambil langkah untuk mencegah, mengidentifikasi, atau memberi label pada kreasi AI generatif. Namun, upaya tersebut menunjukkan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Langkah-langkah ini juga belum berhasil menghentikan pelaku penipuan yang membuat tiruan band yang sudah ada dan mencoba mengambil keuntungan dari karya mereka dengan tiruan AI.

Investigasi ini menyoroti tantangan besar yang dihadapi industri musik di era AI. Dengan adanya Glosarium AI sebagai panduan, publik dapat lebih memahami istilah-istilah teknis yang terkait dengan kasus ini. Temuan The Atlantic memperkuat argumen bahwa praktik pelatihan AI tanpa izin adalah masalah sistemik yang membutuhkan solusi hukum dan regulasi yang jelas.

Kasus ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan kreativitas dan hak cipta di tengah perkembangan teknologi AI yang pesat. Industri musik kini berada di persimpangan jalan, antara inovasi teknologi dan perlindungan hak kekayaan intelektual. Database yang dirilis The Atlantic menjadi senjata baru bagi para kreator untuk membela karyanya.

Sementara itu, Google Diduga Gunakan Video YouTube untuk melatih model AI musik mereka, Lyria 3. Hal ini menunjukkan bahwa praktik serupa mungkin terjadi di berbagai perusahaan teknologi besar.

Dampak dari penggunaan AI dalam musik tidak hanya dirasakan oleh musisi besar. Banyak musisi independen juga menghadapi risiko yang sama. Karya mereka dapat digunakan tanpa izin untuk melatih model AI, yang kemudian dapat menghasilkan musik yang meniru gaya mereka secara persis.

The Atlantic, melalui investigasinya, memberikan kontribusi signifikan dalam upaya transparansi penggunaan data untuk AI. Database yang dapat dicari ini memungkinkan musisi dan pemangku kepentingan untuk memeriksa apakah karya mereka telah digunakan. Langkah ini diharapkan dapat mendorong akuntabilitas yang lebih besar dari perusahaan AI.

Ke depannya, industri musik dan teknologi harus mencari titik temu. Regulasi yang jelas dan adil diperlukan untuk memastikan bahwa inovasi AI tidak mengorbankan hak-hak kreator. Kasus-kasus hukum yang ada saat ini akan menjadi preseden penting bagi pengaturan AI di masa depan.

Dengan Google Lyria 3 Pro yang mampu menghasilkan musik 3 menit, potensi banjir lagu buatan AI di platform streaming seperti Spotify semakin nyata. Hal ini menambah urgensi bagi industri untuk segera menemukan solusi yang tepat.

Penyelesaian kasus hukum terhadap platform AI musik akan menjadi tolok ukur penting. Jika gugatan berhasil, hal ini dapat membuka jalan bagi gelombang tuntutan serupa dari industri kreatif lainnya, termasuk penulis, seniman visual, dan pembuat film.

Temuan The Atlantic ini menegaskan bahwa masalah penggunaan konten berhak cipta untuk pelatihan AI bukanlah isu marginal. Ini adalah praktik yang telah berlangsung secara masif dan sistemik. Database yang dirilis memberikan bukti konkret yang sulit dibantah.

Para musisi kini memiliki alat untuk memverifikasi apakah karya mereka telah dieksploitasi. Dengan data ini, mereka dapat mengambil langkah hukum yang lebih terinformasi. The Atlantic telah melakukan jurnalisme investigasi yang sangat berharga bagi industri kreatif secara keseluruhan.

Komentar

Belum ada komentar.