Ilustrasi kamera CCTV yang digunakan untuk sistem pengawasan AI di toko ritel.

Sistem AI di Toko Inggris Salah Tuduh Pembeli Mencuri

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Sistem AI di toko Inggris salah tuduh pelanggan mencuri
  • Korban diminta pergi tanpa kesempatan membantah
  • Kasus terjadi di gerai Home Bargains dan Budgens
  • Mekanisme SAR dinilai berbelit dan menuntut data pribadi
  • Big Brother Watch sebut kondisi ini mimpi buruk Kafkaesque
  • Teknologi pengenalan wajah dinilai belum siap dipakai langsung

Telset.id – Sistem pengawasan berbasis AI yang dipasang di sejumlah toko ritel di Inggris memicu gelombang keluhan setelah sejumlah pelanggan dilaporkan salah dituduh mencuri. Kasus-kasus ini menyoroti kesiapan teknologi pengenalan wajah dan analitik pengawasan untuk penggunaan langsung di lapangan, terutama ketika kesalahan identifikasi berdampak langsung pada warga yang tidak bersalah.

Menurut laporan TechRadar yang dikutip Futurism, insiden tersebut terjadi di berbagai gerai di Inggris. Para pelanggan mengaku dituduh mengambil barang tanpa bukti yang jelas, dan merasa privasi mereka dilanggar. Sejumlah korban menggambarkan pengalaman itu sebagai hal yang membuat mereka trauma dan enggan kembali mengunjungi toko.

Salah satu kasus menimpa seorang pria yang disebut sebagai suami dari narasumber bernama Mary. Pria itu masuk sebentar ke gerai Home Bargains untuk membeli vitamin. Namun sistem toko menandainya sebagai pelaku pencurian. Pasangan tersebut kemudian diminta meninggalkan toko oleh pihak manajemen, tampaknya tanpa kesempatan untuk membantah tuduhan. “Saya takut masuk ke toko,” kata pria tersebut kepada TechRadar.

Kasus lain dialami seorang pria yang dikabarkan “gemetar dari kepala sampai kaki” setelah istrinya dikeluarkan dari gerai jaringan Budgens. Tuduhan yang dilayangkan adalah mencuri “banyak daging” beberapa hari sebelumnya. Tuduhan itu makin rumit karena pasangan tersebut mengaku belum menginjakkan kaki di toko itu selama berbulan-bulan.

A color-treated photo of a CCTV camera.

Dalam kasus-kasus tersebut, TechRadar melaporkan adanya labirin birokrasi korporat dan tuduhan samar yang membuat orang tak bersalah kehilangan akses ke toko lokal mereka. Mereka juga disebut memiliki ruang gerak terbatas untuk membersihkan nama.

Di Inggris, individu sebenarnya dapat mengajukan Subject Access Requests (SAR). Mekanisme ini mirip dengan permintaan Freedom of Information Act di Amerika Serikat, tetapi ditujukan untuk perusahaan swasta. Meski jalur tersebut secara teknis tersedia bagi mereka yang salah dituduh mencuri, prosesnya disebut sebagai upaya besar hanya demi harapan membersihkan nama. Pengajuan SAR juga menuntut penyerahan data pribadi yang lebih banyak lagi kepada perusahaan swasta.

Kepala advokasi kelompok kebebasan sipil Big Brother Watch, Jack Coulson, menggambarkan situasi ini kepada TechRadar. Menurutnya, kondisi tersebut adalah “bahan mimpi buruk Kafkaesque karena terjebak dalam labirin birokrasi dan dipaksa menyerahkan lebih banyak data pribadi hanya untuk diberi tahu tentang tuduhan itu.”

Kasus di Inggris ini bukan insiden pertama yang melibatkan kesalahan teknologi identifikasi otomatis. Sebelumnya, seorang pria tak bersalah dilaporkan bebas setelah mendekam lebih dari 50 hari di penjara akibat teknologi pengenalan wajah AI yang sangat tidak akurat. Peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh paling ekstrem bagaimana kesalahan sistem dapat berdampak pada kebebasan seseorang.

Laporan TechRadar juga menyoroti bahwa sistem pengawasan AI dengan pengenalan wajah kini makin umum ditemui, dari New York City hingga jalanan Tokyo. Namun teknologi ini dinilai belum siap memikul tanggung jawab penggunaan langsung, sebagaimana terlihat dari meningkatnya kasus false-positive atau kecocokan keliru.

Bagi pelanggan yang salah dituduh, dampaknya tidak berhenti pada rasa malu di depan umum. Mereka menghadapi proses yang berbelit untuk membuktikan bahwa tuduhan itu keliru. Di satu sisi, mereka harus berurusan dengan manajemen toko dan sistem korporat. Di sisi lain, mereka diminta menyerahkan data pribadi tambahan hanya untuk mengakses informasi yang mendasari tuduhan tersebut.

Kisah Mary dan suaminya menunjukkan bagaimana tuduhan keliru dapat berujung pada isolasi sosial. Pria tersebut dikabarkan menjadi “terisolasi” setelah insiden di Home Bargains. Ia dan istrinya sempat diminta pergi oleh manajemen toko tanpa penjelasan yang memadai.

Kasus serupa juga menimpa pasangan yang dikeluarkan dari gerai Budgens. Tuduhan pencurian “banyak daging” yang dilayangkan sistem toko bertentangan dengan fakta bahwa mereka tidak mengunjungi toko tersebut selama berbulan-bulan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan dapat menghasilkan kecocokan yang tidak akurat, bahkan ketika orang yang dituduh tidak berada di lokasi pada waktu yang dimaksud.

Dari sisi kebijakan, mekanisme SAR memang dirancang untuk memberi individu akses terhadap data pribadi mereka, termasuk yang dipegang perusahaan swasta. Namun dalam konteks tuduhan pencurian, proses ini menjadi rumit karena melibatkan data pengawasan dan sistem AI yang tidak selalu transparan. Individu yang ingin membersihkan nama harus menempuh jalur birokrasi yang panjang.

Kritik dari Big Brother Watch menyoroti ketidakseimbangan antara kekuasaan perusahaan dan individu. Ketika sistem AI menandai seseorang sebagai tersangka, pihak toko dapat langsung mengambil tindakan seperti meminta pelanggan pergi. Sementara itu, pelanggan yang merasa dirugikan harus berjuang sendiri untuk mendapatkan kejelasan.

Sejumlah insiden di Inggris ini memperlihatkan bahwa adopsi pengawasan AI di ruang ritel berjalan lebih cepat daripada kesiapan sistem untuk menghindari kesalahan identifikasi. Kasus-kasus tersebut juga menegaskan pentingnya pengawasan terhadap penggunaan teknologi pengenalan wajah di ruang publik dan komersial.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan teknologi identifikasi otomatis, sederet kasus ini menjadi pengingat bahwa akurasi sistem tidak hanya soal kemampuan teknis. Ada konsekuensi sosial dan hukum ketika algoritma salah membaca situasi. Anda dapat menelusuri pembahasan lain soal teknologi dan perangkat dalam Review HP Victus 16 yang membahas desain dan performa perangkat.

Sementara itu, bagi yang tertarik pada tren hiburan digital, RRQ Kazu Juara menjadi salah satu topik yang relevan untuk diikuti. Pembahasan lain soal fenomena media sosial juga tersedia dalam artikel Foto Selfie Gorila.

Hingga laporan ini disusun, belum ada informasi mengenai tanggapan resmi dari jaringan ritel yang disebutkan, termasuk Home Bargains dan Budgens, terkait insiden yang dialami para pelanggan. TechRadar hanya melaporkan pengalaman para korban dan pandangan dari kelompok advokasi Big Brother Watch.

Yang jelas, kasus-kasus di Inggris ini menunjukkan bahwa penggunaan pengenalan wajah dan analitik pengawasan di toko belum sepenuhnya bebas dari kesalahan. Ketika sistem keliru menandai pelanggan sebagai pencuri, dampaknya bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan pengalaman yang membuat sebagian orang takut masuk ke toko lagi.

[ META_DESCRIPTION]
Sistem AI di toko Inggris salah tuduh pelanggan mencuri. Sejumlah korban kesulitan membersihkan nama akibat birokrasi berbelit.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.