πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi data center AI yang sedang dibangun dengan latar pembangkit listrik

Emisi CO2 AS Melonjak 42 Persen pada 2030 Efek Data Center AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Emisi CO2 AS diproyeksi capai 2,1 miliar metrik ton pada 2030 akibat data center AI
  • Kenaikan 42 persen atau 618 juta ton dibanding 2025 menurut analisis Sierra Club
  • Banyak pengembang pilih pembangkit gas di lokasi karena jaringan listrik terbatas
  • Proyek data center Elon Musk 1,2 GW di dekat Memphis disorot karena generator metana
  • Risiko pembatalan proyek naik akibat tekanan finansial dan organisasi akar rumput

Telset.id – Emisi karbon Amerika Serikat diperkirakan melonjak 42 persen pada 2030 akibat gelombang data center AI yang dibangun dengan pembangkit listrik berbahan bakar gas. Analisis terbaru Sierra Club yang pertama kali dilaporkan Bloomberg menyebut jaringan energi AS diproyeksikan mengeluarkan 2,1 miliar metrik ton karbon dioksida pada 2030, dengan asumsi seluruh pengembangan AI yang direncanakan saat ini beroperasi sesuai jadwal.

Angka tersebut menjadi pukulan bagi upaya pengurangan polusi yang telah dibangun hampir 15 tahun. Pasalnya, 2025 sendiri sudah tercatat sebagai tahun dengan emisi karbon AS mendekati rekor tertinggi. Jika industri AI dan para pengembang data center mendapatkan keinginan mereka, analisis Sierra Club menemukan emisi berpotensi melonjak 42 persen dalam periode lima tahun tersebut, atau setara kenaikan 618 juta ton dibandingkan 2025.

β€œThe numbers continue to sort of boggle our minds,” ujar Principal Advisor for Climate and Energy Sierra Club, Jeremy Fisher, kepada Bloomberg, dikutip dari laporan tersebut.

Lonjakan ini berakar pada kondisi jaringan listrik yang terbatas. Karena kemacetan besar pada jaringan listrik, banyak pengembang data center memilih membangun pembangkit listrik di lokasi atau di dekat lokasi fasilitas mereka. Pembangkit tersebut mayoritas berbahan bakar fosil yang mencemari lingkungan.

Salah satu contoh yang disorot adalah proyek data center berkapasitas 1,2 gigawatt milik Elon Musk di dekat Memphis. Fasilitas itu disebut telah menyesakkan warga sekitar dengan armada generator metana. Para ahli hukum menilai praktik tersebut mengabaikan berbagai aturan perizinan lokal dan regulasi lingkungan federal.

A color-treated photo of a data center under construction.

Tekanan Finansial dan Penolakan Warga

Meski proyeksi emisi terlihat suram, analisis Sierra Club juga mencatat adanya harapan. Jumlah proyek data center yang berisiko dibatalkan meningkat tajam seiring berjalannya waktu. Pembatalan itu didorong oleh pengorganisasian akar rumput dan tekanan finansial yang semakin besar.

Dengan demikian, bagi siapa pun yang mengandalkan udara bersih untuk dihirup, manfaat dari pembatalan fasilitas hyperscale tidak hanya dirasakan di lingkungan sekitar proyek. Dampaknya meluas jauh melampaui halaman belakang komunitas yang menolak keberadaan fasilitas tersebut.

Isu beban energi dan data center memang bukan hal baru. Sebelumnya, muncul bukti bahwa keberadaan data center AI turut berkontribusi terhadap kenaikan tagihan listrik rumah tangga. Persoalan ini juga bersinggungan dengan kebijakan pengelolaan data di tingkat global, termasuk langkah sejumlah negara yang mulai membebani konsumsi data.

Regulasi dan Konsumsi Data

Persoalan konsumsi data juga menjadi perhatian di sejumlah negara. Prancis, misalnya, menyetujui kebijakan pajak data internet per gigabyte yang menyasar perusahaan besar seperti Google hingga Netflix. Kebijakan serupa juga dibahas dalam konteks pajak data Rp0,9 per GB yang berpotensi memengaruhi layanan digital lintas negara.

Di sisi lain, industri teknologi mulai menghadapi resistensi dari pelanggan terkait penggunaan data untuk kepentingan AI. Langkah sejumlah perusahaan yang membatalkan pooling data AI menunjukkan bahwa publik semakin sadar akan implikasi konsumsi dan pengelolaan data.

Bagi warga yang aktif menentang keberadaan data center di komunitas mereka, temuan Sierra Club ini menegaskan bahwa manfaat dari pembatalan fasilitas hyperscale bersifat lebih luas. Tekanan finansial dan pengorganisasian akar rumput menjadi dua faktor yang disebut dalam analisis tersebut sebagai pendorong meningkatnya risiko pembatalan proyek.

Sierra Club dalam analisisnya tidak memproyeksikan skenario lain di luar asumsi bahwa seluruh pengembangan AI yang direncanakan beroperasi sesuai jadwal. Artinya, angka 2,1 miliar metrik ton CO2 pada 2030 merupakan gambaran kondisi jika tidak ada perubahan pada jalur pembangunan yang sedang berjalan.

[ META_DESCRIPTION]
Emisi karbon AS diproyeksi melonjak 42 persen pada 2030 jadi 2,1 miliar metrik ton CO2 akibat data center AI berbahan bakar gas.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.