Telset.id â Kehadiran klon software berbasis AI mulai mengancam model bisnis langganan Adobe Creative Cloud. Software developer Brandon Thomas bersama timnya meluncurkan Artcraft, rangkaian klon aplikasi Creative Cloud yang diklaim sebagai pengganti satu-untuk-satu dengan antarmuka serupa, namun gratis, tanpa langganan, dan pengguna memiliki kode sumbernya. Langkah ini menjadi sorotan karena menyentuh langsung salah satu model bisnis software paling mahal di industri kreatif.
Artcraft pertama kali diluncurkan pada awal Oktober 2026. Thomas mengaku memutuskan melakukan reverse engineering terhadap aplikasi Creative Cloud setelah terlalu sering terkena âcancellation feeâ atau biaya pembatalan yang ia sebut sebagai dark pattern Adobe. Untuk membangun klon tersebut, ia menggunakan Claude Opus 5.5 guna menciptakan versi âclean room⌠pure Rustâ dari setiap aplikasi, yang ia klaim lebih performan dibanding aplikasi aslinya.
Pendekatan ini berbeda dari software open-source yang sudah lama ada seperti GIMP sebagai alternatif Photoshop, Darktable untuk Lightroom, atau DaVinci Resolve pengganti Premiere. Menurut laporan Engadget, mayoritas pengguna enggan menanggung âswitching costsâ untuk mempelajari antarmuka baru setelah bertahun-tahun membangun muscle memory di aplikasi Adobe. Artcraft menawarkan antarmuka yang hampir identik sehingga pengguna bisa langsung memakainya tanpa kurva belajar yang curam.
Photocraft dan Reaksi Pengguna
Pengujian awal terhadap Photocraft, klon Photoshop buatan Artcraft, menunjukkan aplikasi ini mampu melakukan hampir semua kebutuhan dasar seperti mengubah ukuran, masking, dan penyesuaian warna. Seluruh menu dan kontrolnya nyaris identik dengan Photoshop. Meski demikian, Photocraft belum dilengkapi fitur AI dan fitur lanjutan lain, sehingga belum bisa menjadi substitusi bagi power user.

Sejumlah masalah kritis juga dilaporkan pengguna Photocraft, mulai dari aplikasi yang menghapus gambar, menggabungkan layer secara acak, hingga stabilitas yang buruk. Photocraft juga tidak dapat membuka file native PSD Photoshop, yang menjadi kendala besar bagi pengguna lama. Di sisi lain, seorang komentator Reddit yang mengaku pernah membangun pembaca dan penulis file Photoshop menilai hasil kerja tim Artcraft âlooks exceptionally well-executedâ mengingat kompleksitas format file dan UI/UX yang harus diimplementasikan.
Kritik juga datang dari platform X. Seorang pengkritik menyebut basis kode Photocraft akan sulit dipelihara dalam beberapa bulan karena kurangnya pemahaman atas konsep di balik aplikasi. Pengguna lain yang mencoba aplikasi tersebut menyebutnya sebagai âutter AI-driven slopâ yang secara terang-terangan melanggar merek dagang dan hak cipta Adobe.
Baca Juga:
REA dan Reverse Engineering Otomatis
Fenomena klon software AI tidak berhenti pada Artcraft. Sebuah aplikasi bernama REA (Reverse Engineer Anything) viral dalam beberapa pekan terakhir dengan 87 ribu fork dan 346 ribu bintang per 20 Oktober 2026. Aplikasi ini memungkinkan pengguna membongkar software dan merekonstruksinya dalam kode bersih. Menurut deskripsi GitHub REA, aplikasi ini dapat memeriksa aplikasi tanpa kode sumbernya, menjelaskan cara kerja fitur, menunjukkan bukti, dan membangun versi untuk proyek pengguna.

REA dan teknik serupa tidak hanya menyasar software di ponsel atau komputer, tetapi juga firmware perangkat konsumen seperti TV, lemari es, alat musik, dan smart frame. Pekerjaan ini juga merambah game di berbagai platform, dengan capaian terbaru mencakup dekompilasi penuh Tiger Woods PGA Tour 2004, Final Fantasy Tactics Advance, dan Metroid Prime. Situs decomp.dev yang didedikasikan untuk reverse engineering game oleh manusia bahkan mengumumkan penutupan karena dekompilasi berbasis AI telah membanjiri komunitas, seperti dilaporkan 404 Media.
Perkembangan ini memunculkan persoalan hukum baru seputar paten dan hak cipta yang masih perlu ditelusuri. Meski tim Artcraft menyatakan tidak pernah menggunakan satu baris pun kode Adobe, mereka berpotensi melanggar merek dagang dan paten Photoshop serta aplikasi lain. Ketentuan penggunaan Adobe juga secara eksplisit melarang reverse engineering terhadap software mereka untuk mengetahui cara kerjanya. Persoalan kepatuhan dan keamanan kode pun menjadi perhatian tersendiri, sejalan dengan laporan kode rentan yang dihasilkan AI.

Ambisi Thomas tidak berhenti pada aplikasi Adobe. Ia menyatakan bahwa âsoftware is overâ dan AI memungkinkan pengguna mengambil kembali teknologi serta memundurkan jam ke era sebelum software bermasalah. Pandangan ini bertolak belakang dengan sejumlah pihak yang justru melihat AI sebagai penguat ekosistem software, seperti yang disampaikan Larry Ellison soal peran AI terhadap aplikasi.
Di sisi lain, munculnya Artcraft, REA, dan aplikasi sejenis membuka kotak Pandora. Satu orang yang terampil menggunakan AI kini berpotensi melakukan pekerjaan yang sebelumnya butuh tim engineer. Hal ini kemungkinan menghasilkan banyak aplikasi buruk, tetapi juga bisa memaksa perusahaan seperti Adobe memikirkan ulang model bisnis yang banyak dikeluhkan pengguna. Perdebatan pun terbelah antara yang menilai pembuat aplikasi langganan abusif mendapat ganjaran dan yang menganggapnya sebagai pembajakan biasa.
[REFERENCE_NOTE]
Referensi: Engadget, âAI software clones are coming for big-name companies like Adobeâ, 1 November 2026.





Komentar
Belum ada komentar.