Telset.id – Sebuah proyek digitalisasi buku-buku langka berbahasa Urdu yang digagas tiga sahabat asal Pakistan harus berhenti setelah berjalan selama satu dekade. Proyek bernama Ibteda Digital Library ini berhasil memotret lebih dari 526.000 halaman ganda menggunakan dua kamera Nikon, namun akhirnya menyerah pada April 2026 karena keterbatasan sumber daya.
Trio pendiri proyek ini memulai inisiatif sekitar tahun 2015 dengan tujuan melestarikan buku-buku yang sudah tidak dicetak lagi, banyak di antaranya berupa litograf. Mereka bekerja tanpa anggaran formal dan membeli semua buku dari kantong pribadi. Peralatan awal mereka hanya satu kamera Nikon D5300, beberapa lampu LED, dan selembar kaca dari mesin fotokopi yang digunakan untuk menekan buku agar rata.
Proses digitalisasi ini sangat manual. Selain membalik halaman dengan tangan, para anggota juga menghabiskan banyak waktu untuk melakukan pemrosesan lanjutan di Photoshop. Mendapatkan salinan digital berkualitas arsip bukan sekadar memotret dengan kamera terbaik, melainkan membutuhkan konsistensi margin, ukuran teks, orientasi, dan koreksi perspektif yang sama di seluruh buku.

Tantangan Besar Skrip Urdu
Mayoritas karya yang didigitalisasi menggunakan skrip Urdu, kemungkinan besar gaya Nastaliq. Urdu merupakan bahasa nasional Pakistan dan juga digunakan di sebagian India serta komunitas di berbagai belahan dunia. Bentuk tulisannya awalnya berupa skrip mengalir yang elegan, tetapi banyak orang beralih menggunakan karakter Romawi seiring maraknya ponsel dan internet.
Format skrip ini membuat tata letak hampir selalu unik. Koleksinya mencakup berbagai jenis materi, mulai dari buku cetak, litograf berusia berabad-abad, hingga catatan tulisan tangan. Skrip Urdu juga menggunakan banyak titik, tanda diakritik, dan simbol kecil, sehingga noise fotografi, kotoran, dan noda harus bisa dibedakan secara visual dari tulisan asli.
Setiap buku menjadi kasus tersendiri, dan litograf lama khususnya memiliki banyak catatan pinggir. Foto buku memang cepat dan mudah, tetapi pemrosesan lanjutan justru menjadi tantangan terbesar. Setelah 576.000 kali shutter pada kamera D5300 dan 326.000 kali pada D3300, tersisa lebih dari 526.000 foto halaman ganda yang harus ditangani setelah proyek dihentikan.
Solusi Machine Learning dari OpenCV
Memproses ratusan ribu foto secara manual jelas mustahil. Salah satu peneliti dalam tim kemudian beralih ke otomatisasi menggunakan OpenCV. Percobaan awal dengan metode computer vision standar tidak berhasil karena aturan yang berlaku untuk satu set buku gagal total untuk set berikutnya.
Peneliti tersebut kemudian menyadari bahwa mereka bisa menggunakan gambar yang sudah diproses secara manual sebagai korespondensi sumber/target. Dalam kata-katanya sendiri, “halaman yang selesai menjadi label,” yang melahirkan ide menghitung homography fit dari file Photoshop dan menggunakannya untuk melatih jaringan saraf tiruan.
Tantangan pertama adalah mencocokkan batas crop. Ini sulit karena “cetakan Urdu yang padat mengulangi goresan, kata, batas, dan pola kolom,” sehingga tanda dari halaman tetangga bisa mengganggu pengukuran. Identifikasi area terlihat dan pemisahan gutter juga rumit karena adanya tabel dan bayangan gutter yang dalam.

Menariknya, peneliti menemukan bahwa menggunakan model yang lebih besar atau lebih banyak sampel pelatihan justru mengurangi akurasi hasil. Pilihan margin crop untuk setiap buku bersifat unik dan dibuat berdasarkan penilaian editor. Karena tidak memiliki pola yang jelas, menambah lebih banyak buku justru memperburuk pengenalan pola model.
Proses akhir masih membutuhkan sepuluh crop kalibrasi untuk buku baru, tetapi jumlah tersebut cukup wajar untuk bisa memproses satu buku secara keseluruhan. Buku-buku yang selesai kemudian disimpan dalam ZFS pool dengan manifest BLAKE3.
Kisah lengkap dan detail teknisnya dijelaskan dalam blog post yang panjang, dan koleksi tulisan Urdu yang indah bisa dilihat di halaman Ibteda Digital Library di Internet Archive.
Proyek ini menjadi kontras dengan praktik perusahaan AI besar yang memindai buku langka lalu menghancurkannya untuk melatih chatbot AI. Upaya tiga sahabat Pakistan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan sumber daya terbatas, meski harus berakhir karena keterbatasan dukungan.





Komentar
Belum ada komentar.