📑 Daftar Isi

Claude Shannon, matematikawan dan ilmuwan komputer yang memprediksi masa depan AI

Claude Shannon: Manusia Akan Jadi ‘Anjing’ bagi Robot AI Supercerdas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Claude Shannon memprediksi pada 1987 bahwa manusia akan menjadi seperti anjing bagi robot AI supercerdas
  • Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Omni Magazine
  • Shannon membayangkan hubungan harmonis, bukan skenario kehancuran
  • Prediksi tentang AGI (Artificial General Intelligence) yang akan melampaui kecerdasan manusia
  • Konsep singularitas teknologi dan ASI (Artificial Superintelligence)
  • Peringatan serupa dari Elon Musk, Dario Amodei, Geoffrey Hinton, dan Jensen Huang
  • Microsoft CSO mengakui manusia kesulitan mengimbangi perkembangan AI
  • Relevansi visi Shannon dengan perkembangan AI saat ini

Telset.id – Matematikawan dan ilmuwan komputer legendaris, Claude Shannon, memiliki visi yang jauh melampaui zamannya. Pada 1987, ia menyatakan bahwa suatu saat manusia akan berada di posisi yang sama seperti anjing bagi robot, sebuah prediksi tentang masa depan kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin relevan.

Pernyataan tersebut disampaikan Shannon dalam wawancaranya dengan Omni Magazine. Ia membayangkan masa depan di mana AI telah berkembang sedemikian rupa sehingga kecerdasan kolektif manusia tidak akan mampu menandinginya. Namun, visi ini tidak bernuansa kehancuran, melainkan menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan mesin.

Claude Shannon at work

Saya membayangkan suatu waktu ketika kita akan menjadi robot seperti apa anjing bagi manusia, dan saya mendukung mesin.” — Claude Shannon, 1987.

Komentar tersebut muncul di tengah diskusi tentang keterbatasan komputer digital dan jaringan saraf tiruan (artificial neural networks) yang menjadi fondasi teknologi AI modern. Shannon percaya, meskipun suasana skeptis terhadap AI sedang melanda pada masa itu, teknologi ini suatu hari akan melampaui kecerdasan manusia secara kolektif.

Baca Juga:

Analogi manusia sebagai anjing bagi robot mengandung makna yang dalam. Alih-alih menjadi skenario kiamat, perumpamaan ini justru mengindikasikan rasa persahabatan, cinta, rasa hormat, dan loyalitas yang akan mengukuhkan peran manusia di dunia yang didominasi oleh kecerdasan mesin masa depan.

Dari Fiksi Ilmiah Menuju Kecerdasan Umum Buatan

Pada masa ketika pendanaan untuk AI mulai menipis dan berbagai hambatan seperti kurangnya daya komputasi muncul, para penulis fiksi ilmiah dan ilmuwan mulai membayangkan skenario di mana sistem masa depan dapat menggantikan manusia. Meski belum ada prediksi yang terwujud, semakin banyak konsensus bahwa teknologi ini pada akhirnya akan melampaui tingkat kognisi manusia.

Teknologi hipotetis ini dikenal sebagai artificial general intelligence (AGI) atau kecerdasan umum buatan. AGI mungkin tidak akan tercipta dalam waktu dekat, dan arsitektur yang diperlukan untuk mewujudkannya pun mungkin belum tersedia. Namun, para ilmuwan memperkirakan hal ini akan terjadi dalam rentang hidup generasi sekarang.

Setelah mencapai titik ini—yang sering disebut sebagai singularitas teknologi—implikasinya masih belum sepenuhnya jelas. AGI berpotensi memicu serangkaian sistem yang semakin cerdas, yang pada akhirnya bermuara pada artificial superintelligence (ASI) atau kecerdasan super buatan.

Norbert Wiener

Visi Shannon sejalan dengan pemikiran para pionir sibernetika lainnya. Norbert Wiener, perintis sibernetika, pernah menyatakan bahwa mesin otomatis adalah padanan ekonomi dari tenaga kerja budak. Sementara itu, tokoh-tokoh kontemporer seperti Elon Musk bahkan menyebut AI sebagai “memanggil iblis”.

Peringatan dari Para Tokoh Teknologi

Kekhawatiran tentang perkembangan AI supercerdas bukan hanya milik Shannon. Berbagai tokoh teknologi terkemuka telah menyuarakan peringatan serupa. Elon Musk, pendiri xAI, pernah dengan tegas menyatakan bahwa dengan AI, manusia sedang “memanggil iblis”. Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam tentang potensi risiko yang belum sepenuhnya dipahami.

Elon Musk, xAI and Grok

Microsoft, melalui Chief Security Officer-nya, juga mengakui bahwa manusia kesulitan mengimbangi laju perkembangan AI. Pengakuan ini datang dari salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia yang aktif mengembangkan teknologi AI.

Microsoft

Dario Amodei, CEO Anthropic, bahkan memberikan peringatan yang lebih gamblang. Ia menyatakan bahwa “umat manusia akan segera diberikan kekuatan yang hampir tidak bisa dibayangkan, dan sangat tidak jelas apakah kita memiliki kematangan untuk menggunakannya.” Pernyataan ini menjadi salah satu peringatan paling serius tentang ancaman AI yang melampaui kemampuan manusia.

Dario Amodei

Geoffrey Hinton, pionir AI, juga menambahkan kekhawatirannya. Ia menegaskan bahwa “sulit untuk melihat bagaimana Anda bisa mencegah aktor jahat menggunakan AI untuk hal-hal buruk.” Pernyataan ini menyoroti sisi gelap dari teknologi yang berkembang pesat ini.

Geoffrey Hinton

Sementara itu, Jensen Huang, CEO Nvidia, justru mengambil pendekatan berbeda. Ia mengapresiasi banyak orang yang tumbuh dengan menikmati fiksi ilmiah, namun menegaskan bahwa pendekatan tersebut “tidak membantu” dalam mengukur risiko eksistensial yang ditimbulkan oleh AI.

Visi Claude Shannon tentang masa depan di mana manusia hidup berdampingan dengan robot supercerdas mungkin terdengar seperti fiksi ilmiah. Namun, dengan laju perkembangan AI saat ini, peringatan dari para pionir teknologi ini menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.