📑 Daftar Isi

Ilustrasi ribuan agen AI OpenAI menganalisis data sel otak tikus untuk riset neurologis

OpenAI Pakai Ribuan Agen AI Teliti Otak Tikus dalam 32 Menit

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI, PerturbAI, dan Scripps Research pakai ribuan agen AI analisis jutaan sel otak tikus
  • Penelitian menggunakan model GPT-Rosalind untuk ilmu kehidupan
  • Analisis rampung dalam 32 menit, jauh lebih cepat dari manual berbulan-bulan
  • Agen terdistribusi mengutip 700+ referensi, unggul 75% menurut ahli
  • Temuan awal soal gen DCTN1, Tsc1, dan Tsc2, belum jadi obat

Telset.id – OpenAI bekerja sama dengan PerturbAI dan Scripps Research menggunakan ribuan agen AI untuk menganalisis data eksperimen dari jutaan sel otak tikus. Studi yang diumumkan pada Rabu tersebut menyelesaikan pekerjaan yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan hingga setahun jika dilakukan manual, namun kali ini rampung dalam 32 menit.

Penelitian ini menggunakan GPT-Rosalind, model AI khusus OpenAI untuk ilmu kehidupan (life sciences). Setiap agen AI difokuskan pada satu perubahan genetik tertentu, mempelajari bagaimana sel merespons, lalu mencari penjelasan di literatur ilmiah. Hasilnya digabungkan menjadi apa yang disebut peneliti sebagai “reasoning atlas” yang menghubungkan gen, perubahan seluler, dan pengetahuan ilmiah yang sudah ada.

ChatGPT in Dr. hand

Perlu ditegaskan, AI belum menemukan obat untuk Alzheimer atau Parkinson. Temuan ini merupakan petunjuk riset awal yang masih harus diuji oleh para ilmuwan. Namun studi tersebut memperlihatkan bagaimana AI dapat mempercepat riset medis dengan membantu ilmuwan menemukan keterkaitan yang tersembunyi dalam data dalam jumlah besar.

Temuan Awal dari Ribuan Agen AI

Salah satu temuan paling menarik melibatkan gen bernama DCTN1, yang dikaitkan dengan Perry syndrome, kondisi neurodegeneratif langka yang dapat menyebabkan gejala mirip Parkinson. Ketika peneliti mengganggu gen ini, mereka mengamati peningkatan aktivitas pada gen yang bertanggung jawab memproduksi kolesterol. Agen AI menghubungkan observasi itu dengan riset sebelumnya yang menunjukkan bahwa masalah transportasi kolesterol di dalam sel dapat memicu produksi kolesterol tambahan.

Agen AI juga menemukan perbedaan tak terduga antara dua gen bernama Tsc1 dan Tsc2. Meski kedua gen bekerja bersama mengatur pertumbuhan dan metabolisme sel, mengganggu keduanya menghasilkan efek berbeda pada neuron tertentu di cerebellum, bagian otak yang berperan mengoordinasikan gerakan. Temuan ini menjadi salah satu petunjuk baru terkait penyakit neurologis, termasuk kemungkinan kaitan antara regulasi kolesterol dan neurodegenerasi.

Mengapa Ribuan Agen Lebih Unggul dari Satu Model

Para peneliti ingin mengetahui apakah mengerahkan ribuan agen AI memberi keunggulan berarti dibandingkan meminta satu sistem AI canggih menganalisis semuanya. Pada beban kerja terbesar, satu agen hanya mengutip 11 referensi ilmiah, sementara agen terdistribusi mengutip lebih dari 700 referensi. Para ahli manusia yang diminta membandingkan laporan tanpa mengetahui pendekatan mana yang menghasilkannya memilih laporan dari agen terdistribusi sebanyak 75 persen.

ai agents

Dengan menugaskan pertanyaan-pertanyaan kecil kepada ribuan agen, sistem dapat memeriksa lebih banyak kemungkinan tanpa menuntut peneliti manusia membaca setiap makalah atau menyelidiki setiap perubahan genetik satu per satu. Pendekatan ini juga sejalan dengan langkah OpenAI yang sebelumnya sempat menuai sorotan, seperti ketika agen AI OpenAI dilaporkan melumpuhkan sistem pengawasan keselamatan sendiri.

Di sisi lain, OpenAI juga tengah memperluas penerapan AI ke sektor kesehatan. Sebelumnya, OpenAI bersama Thiel mendanai Coherence untuk mengembangkan implan AI pendeteksi kanker otak, menunjukkan arah yang konsisten pada pemanfaatan AI untuk kebutuhan medis.

Implikasi bagi Riset Medis ke Depan

AI berpotensi membantu ilmuwan memanfaatkan data eksperimen yang sudah mereka miliki dengan lebih baik. Eksperimen biologi dapat menghasilkan informasi dari jutaan sel, tetapi peneliti tidak selalu punya waktu atau sumber daya untuk mengeksplorasi setiap hasil tak terduga. Agen AI dapat membantu mempersempit kesenjangan itu dengan menghubungkan temuan eksperimen dengan riset yang sudah dipublikasikan, sekaligus mengarahkan ilmuwan ke pertanyaan yang menjanjikan.

Tomasz Nowakowski, associate professor neurological surgery di University of California, San Francisco, dalam pengumuman OpenAI menjelaskan bahwa sebagian petunjuk ilmiah sebenarnya sudah tersedia tetapi tersebar di berbagai bidang. Menghubungkannya dapat mengungkap cara berpikir baru tentang penyakit, dengan harapan pada akhirnya menemukan obat. Sejalan dengan itu, OpenAI juga terus memperluas kapabilitas modelnya, termasuk lewat pengembangan yang terlihat pada GPT5.6-Sol serta ambisi membangun robot humanoid yang tantangan terbesarnya ada di otaknya.

Studi ini menegaskan bahwa nilai AI dalam riset medis bukan pada klaim penemuan obat secara instan, melainkan pada kecepatan menghubungkan temuan eksperimen dengan literatur ilmiah yang sudah ada. Bagi dunia riset, kemampuan menyaring jutaan kemungkinan dalam waktu singkat menjadi modal untuk mengarahkan sumber daya manusia ke pengujian yang lebih terfokus.

[IMAGE_METADATA_PLACEHOLDER]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.