Telset.id – OpenAI dan Thiel melalui putaran pendanaan awal senilai US$45 juta atau sekitar Rp730 miliar mendanai Coherence, perusahaan asal San Francisco yang mengembangkan implan berbasis AI pendeteksi kanker otak. Investasi ini menandai makin dalamnya keterlibatan perusahaan AI besar di sektor data otak, khususnya pada perangkat brain-computer interface (BCI) yang dirancang membaca sinyal saraf untuk keperluan medis.
Pendanaan tersebut menjadi sinyal bahwa laboratorium AI besar dan pengembang perangkat dekode otak kini bergerak ke arah yang sama. CEO sekaligus cofounder Coherence, Ben Woodington, menyebut ada “growing synergy” atau sinergi yang tumbuh antara laboratorium AI besar dan perusahaan yang membangun perangkat untuk mendekode otak. Menurutnya, gagasan menangkap data untuk melatih model yang lebih baik sekaligus mengoptimalkannya untuk terapi akan menjadi sangat penting.
“Perusahaan AI tampaknya juga selaras dengan tesis ini, bahwa sumber data baru ini akan bernilai,” ujar Woodington seperti dikutip dari sumber laporan. Ia menambahkan bahwa AI adalah “perfect use case” bagi brain-computer interface karena pengembang perangkat ini menghasilkan kumpulan data masif yang terlalu besar untuk dianalisis manusia sendiri. Model AI dapat membantu membaca data saraf mentah dan menghubungkannya dengan tindakan, misalnya menggerakkan kursor komputer atau menghasilkan suara sintetis.
Baca Juga:
OpenAI Hingga Thiel Masuk ke Data Otak
Keterlibatan OpenAI di Coherence bukan langkah pertama mereka menyentuh ranah brain-computer interface. Pada Januari, OpenAI mengumumkan investasi langsung ke perusahaan BCI baru bernama Merge Labs yang didirikan bersama CEO miliarder mereka, Sam Altman. Merge Labs keluar dari mode stealth dengan pendanaan awal US$252 juta untuk mengejar teknologi ultrasound yang dapat mendekode informasi dari otak.
Saat itu, OpenAI menyatakan mendanai Merge Labs karena keyakinan bahwa brain-computer interface “akan menciptakan cara alami dan berpusat pada manusia bagi siapa pun untuk berinteraksi dengan AI secara mulus.” Nama Merge Labs sendiri berasal dari gagasan populer di Silicon Valley bahwa manusia pada akhirnya akan menyatu dengan kecerdasan mesin. Langkah ini memperlihatkan pola yang konsisten dari OpenAI dalam memperluas keterlibatannya di sektor teknologi saraf.
Selain OpenAI, dana ventura milik Peter Thiel juga tercatat pernah membiayai Neuralink milik Elon Musk serta CTRL-labs, pembuat gelang yang menerjemahkan sinyal saraf dari gerakan lengan dan tangan, yang diakuisisi Facebook pada 2019. Deretan nama tersebut menunjukkan bahwa minat terhadap data otak tidak hanya datang dari laboratorium AI, tetapi juga dari investor teknologi ternama.
Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan agresivitas OpenAI di berbagai sektor, langkah ekspansi ke perangkat medis ini bisa dibaca sebagai kelanjutan dari strategi mereka yang lebih luas. Sejumlah inisiatif terbaru OpenAI sempat menarik perhatian, termasuk saat OpenAI Ungkap GPT5.6-Sol dan persoalan etika seputar agen riset mereka yang sempat menuai sorotan.
Implannya Bukan untuk Memulihkan Fungsi Gerak
Berbeda dari pendekatan yang berfokus memulihkan fungsi bagi individu lumpuh, Coherence mengembangkan model AI untuk mendekode sinyal listrik halus yang berkaitan dengan tumor otak. Perusahaan menyatakan telah mengetahui cara mendeteksi sinyal tersebut pada hewan untuk menentukan apakah kanker sedang tumbuh, menyusut, atau kambuh. Tim saat ini bekerja menerjemahkan temuan itu untuk riset manusia dan pada akhirnya uji klinis.
Pada musim panas, Coherence sempat menguji kemampuan perekaman implannya di otak tiga orang yang sedang menjalani operasi pengangkatan tumor otak di Royal Melbourne Hospital, Australia. Implan tersebut terpasang sekitar 30 menit sebelum dilepas, sebagai pemeriksaan keamanan awal. Selanjutnya, Coherence menguji kemampuan perekaman sekaligus stimulasi perangkat pada tambahan tujuh pasien.
Implan itu juga dirancang memancarkan stimulasi listrik ringan untuk menghentikan pertumbuhan tumor. Gagasannya, seiring waktu perangkat akan belajar mendeteksi sinyal yang berkaitan dengan kanker dan memberikan perawatan secara real-time. Coherence berencana memakai dana baru untuk meluncurkan uji klinis guna menanamkan perangkat dalam jangka panjang pada pasien glioblastoma, jenis kanker otak agresif. Perusahaan juga menargetkan pengembangan implan untuk menangani kanker di bagian tubuh lain.
“Pendekatan Coherence dalam mengembangkan terapi kanker yang mampu meningkat dari data sungguh inovatif,” kata Ian Hathaway, partner di OpenAI Startup Fund, dalam sebuah pernyataan. “Kami bangga mendukung mereka dalam misi yang menarik ini.”
Di sisi lain, Woodington memastikan OpenAI tidak akan memiliki akses ke data perusahaan. “Tidak ada apa pun dalam kontrak atau pengaturan yang berarti kami akan membagikan, atau mereka akan memiliki akses ke, data otak atau data kesehatan lain yang kami hasilkan,” ujarnya. Pernyataan ini tampak berbeda dari hubungan OpenAI dengan Merge Labs, yang dalam pengumuman Januari disebut akan “berkolaborasi dengan Merge Labs pada model fondasi ilmiah dan alat frontier lain untuk mempercepat kemajuan.”
Bagi industri, perbedaan model kolaborasi data antara Coherence dan Merge Labs menjadi poin penting yang perlu dicermati. Sebab, isu kepemilikan dan akses data kesehatan kerap menjadi perhatian, terutama ketika melibatkan perusahaan AI besar. Persoalan serupa juga muncul di sektor lain, misalnya ketika OpenAI Gugat Apple dalam sengketa yang menyangkut data.
Dengan pendanaan US$45 juta ini, Coherence kini berada di persimpangan antara riset medis dan pengembangan kecerdasan buatan. Fokusnya jelas: membawa implan pendeteksi kanker otak dari uji keamanan awal menuju uji klinis jangka panjang pada pasien glioblastoma. Sementara itu, minat OpenAI dan Thiel terhadap data otak menegaskan bahwa brain-computer interface kian dipandang sebagai medan berikutnya dalam pengembangan AI.





Komentar
Belum ada komentar.