📑 Daftar Isi

CEO OpenAI Sam Altman saat sesi wawancara.

OpenAI Siap Bangun Robot Humanoid, Tantangan Terbesar Ada di Otaknya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • OpenAI memastikan akan membangun robot humanoid, menurut CEO Sam Altman
  • Altman menilai otak robot jauh lebih penting dibanding bentuk fisiknya
  • Demo robot dijadwalkan pada 2027, belum ada produk atau harga konsumen
  • OpenAI membuka 27 lowongan robotika, termasuk aktuator dan manufaktur
  • Tujuan jangka pendek: robot general-purpose untuk membantu pekerja infrastruktur

Telset.id – OpenAI memastikan akan membangun robot humanoid, tetapi CEO Sam Altman menegaskan bahwa tantangan terbesar bukanlah tubuh mesin itu, melainkan “otak” yang membuatnya bisa bekerja. Kepastian ini disampaikan Altman dalam podcast Sources, di tengah kesibukan perusahaan yang selama ini dikenal lewat pengembangan model AI dan perangkat konsumen.

Saat ditanya apakah OpenAI benar-benar akan membuat robot humanoid, jawaban Altman singkat: “We will.” Ia menjelaskan bahwa bentuk manusia dipilih karena alasan logis. Menurutnya, dunia memang dirancang untuk manusia, mulai dari pintu, keyboard, hingga berbagai peralatan. Robot yang mampu bergerak di ruang yang sama seharusnya memiliki bentuk serupa. “Matching that form factor seems good,” ujarnya.

Namun Altman tidak terlalu memusingkan detail rupa robot tersebut. Pertanyaan soal bentuk dinilai “less important than really figuring out … the brain that makes the robot work.” Memberi mesin dua tangan dan dua kaki tidak akan banyak membantu jika robot tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan anggota tubuhnya.

Otak Robot Jadi Pekerjaan Rumah Terbesar

Menyebut otak robot sebagai masalah yang rapi justru menyesatkan. Robot humanoid yang mumpuni harus mampu memahami apa yang dilihat kamera dan sensornya, menafsirkan instruksi, memutuskan cara menjalankannya, mengoordinasikan tubuh, lalu mengoreksi diri saat dunia nyata menghadirkan hal yang tidak terduga. Saat mengambil mug, misalnya, robot perlu mengenali mug, menemukan pegangannya, memperkirakan grip, dan mengerahkan tenaga yang tepat untuk mengangkatnya. Jika salah, hasilnya adalah tumpahan kopi dan pekerjaan membersihkan lantai.

Tangan robotik OpenAI sedang memegang kubus Rubik.

OpenAI sendiri sudah merekrut orang-orang untuk menangani persoalan tersebut. Posisi di bidang robotika mencakup motion control, state estimation, actuator control, dan whole-robot behavior, termasuk infrastruktur machine learning untuk melatih sistem physical AI. Ada pula jejak sejarah lewat proyek riset Dactyl, yang mengajarkan tangan robot memanipulasi objek nyata dengan pelatihan sepenuhnya di simulasi. Teknik itu kemudian diterapkan pada kubus Rubik, contoh awal dari masalah yang masih menghantui perusahaan robotika hingga kini: model bisa mempelajari apa yang seharusnya terjadi lewat perangkat lunaknya, tetapi fisika yang menentukan hasil akhirnya.

Ambisi robotika ini berjalan beriringan dengan ekspansi OpenAI di sektor lain. Perusahaan baru-baru ini juga menjadi sorotan lewat langkah seperti Replit Pilih OpenAI untuk kebutuhan model AI-nya.

Bodi Tetap Harus Dibangun

Fokus Altman pada kecerdasan bukan berarti OpenAI menganggap perangkat keras sebagai hal sekunder. Lowongan pekerjaan di bidang robotika menunjukkan perusahaan sedang mengerjakan aktuator elektromekanis kustom yang mencakup motor, transmisi, sistem sensing, dan sistem termal. Posisi lain menangani manufaktur serta rantai pasok yang dibutuhkan untuk memproduksi perangkat keras dalam skala besar. Itu bukan pekerjaan kecil untuk bagian robot yang disebut “kurang penting”.

OpenAI juga tidak masuk ke wilayah yang sama sekali baru. Tesla telah mengerjakan Optimus selama bertahun-tahun, sementara XPENG baru-baru ini membuat robot humanoid IRON berjalan keluar dari lini produksi secara otonom setelah dirakit. Keduanya menjadi pengingat bahwa perangkat lunak yang cerdas tetap harus menggerakkan rangkaian motor dan sendi yang sangat kompleks.

Robot humanoid XPENG dipamerkan.

Rencana OpenAI sendiri tampaknya dimulai dari level yang lebih membumi dibanding menempatkan robot pendamping di setiap rumah. Salah satu lowongan menyebutkan tujuan jangka pendek perusahaan adalah menciptakan robot general-purpose yang bisa membantu pekerja terampil membangun infrastruktur. Sementara tujuan jangka panjangnya adalah mengembangkan robot personal yang bisa membantu berbagai tugas lebih luas. Jadi, jika Anda membayangkan wujud fisik ChatGPT dengan lutut yang mencuci piring, jangan buru-buru menyingkirkan mesin pencuci piring.

Altman sendiri memberi gambaran waktu yang cukup jelas. Kepada Fortune, ia menyatakan, “I think we’ll have a cool demo in 2027 … I don’t think there will be robots walking the streets for a few years longer.” OpenAI belum mengungkap apa yang akan ditampilkan dalam demo tersebut, seperti apa wujud humanoid-nya, atau kapan pihak di luar perusahaan bisa mendekatinya.

Perusahaan juga belum mengumumkan robot sungguhan, harga konsumen, model langganan, tanggal rilis, maupun kerangka privasi khusus robot. Pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi lebih nyata jika mesin OpenAI di masa depan dilengkapi kamera dan mikrofon serta dibiarkan berkeliling di rumah seseorang. Untuk saat ini, halaman karier OpenAI mencantumkan 27 lowongan di bidang robotika.

Deretan inisiatif AI OpenAI juga sempat memicu sorotan lain, termasuk laporan seputar Agen Riset OpenAI yang menjadi perhatian publik. Semua ini menunjukkan bahwa perusahaan yang dipimpin Altman bergerak di banyak front sekaligus, meski untuk robot humanoid, otak yang membuatnya berguna masih menjadi pekerjaan rumah paling besar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.