Telset.id – Pengawasan terhadap perusahaan China yang mendapat izin menangani chip AI Nvidia H200 dipertanyakan. Departemen Perdagangan Amerika Serikat dan Nvidia dinilai tidak melakukan uji tuntas yang memadai, menyusul temuan bahwa salah satu perusahaan dalam daftar persetujuan ternyata tidak memiliki jejak operasional yang jelas. Temuan ini mencuat di tengah longgarnya kembali penjualan chip Nvidia ke China setelah pemerintahan Trump melonggarkan pembatasan yang sebelumnya diberlakukan pada era Presiden Biden.
Laporan The New York Times mengungkap bahwa New Matrix, salah satu firma yang masuk daftar perusahaan yang disetujui untuk menangani chip Nvidia H200, memiliki kantor yang kosong. Ruangannya digambarkan sebagai “cangkang abu-abu berongga dengan kabel menjuntai dari langit-langit di tempat lampu seharusnya berada.” Surat kabar tersebut juga sulit menemukan bukti bahwa perusahaan itu benar-benar eksis secara berarti.
Jejak New Matrix yang Sulit Ditemukan
Informasi tentang New Matrix sangat minim. Perusahaan itu disebut baru dibuat 17 bulan lalu, dan hanya sedikit keterangan yang bisa ditemukan secara online. Di gedung yang tercantum sebagai alamat New Matrix, direktori perusahaan tidak mencantumkan nama firma tersebut. Di agen pengelola properti kawasan industri terdekat, seorang resepsionis dan seorang manajer sama-sama menyatakan tidak memiliki catatan tentang perusahaan itu.
Yang sedikit diketahui tentang New Matrix justru memunculkan kekhawatiran. Para pemiliknya memiliki keterkaitan dengan sebuah firma private equity China yang telah masuk daftar hitam pemerintah Amerika Serikat sejak 2024. Temuan ini menjadi bagian dari persoalan yang lebih luas soal bagaimana perusahaan dengan koneksi ke entitas yang terkena pembatasan dagang terkait keamanan nasional bisa lolos mendapat persetujuan untuk membeli chip Nvidia.
Menurut The New York Times, kejadian ini bukan kelalaian pengawasan yang langka, melainkan pola yang mengganggu. Perusahaan-perusahaan yang terhubung dengan entitas yang dikenai pembatasan dagang terkait keamanan nasional disebut disetujui untuk membeli chip Nvidia. Hal ini menempatkan sorotan pada proses verifikasi yang dijalankan Departemen Perdagangan maupun Nvidia sebelum chip H200 disalurkan ke pihak-pihak tertentu di China.
Baca Juga:
Latar Belakang Pelonggaran Penjualan Chip
Nvidia sebelumnya dilarang menjual chip ke China pada masa pemerintahan Presiden Biden. Namun pemerintahan Trump melonggarkan batasan tersebut setelah Nvidia setuju memberikan potongan 15 persen dari seluruh penjualan kepada pemerintah. CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menjalankan kampanye lobi yang intensif. Dalam dinamika ini, Huang disebut pernah menjadi sasaran operasi spionase oleh Kementerian Keamanan Negara China.
Pelonggaran tersebut membuka kembali akses Nvidia ke pasar China, termasuk untuk chip AI seperti H200. Namun temuan soal New Matrix menunjukkan bahwa mekanisme persetujuan bagi perusahaan yang menangani chip tersebut menyisakan celah. Daftar perusahaan yang disetujui seharusnya menjadi penyaring agar chip tidak jatuh ke pihak yang berpotensi menimbulkan risiko keamanan nasional.
Persoalan uji tuntas ini juga bersinggungan dengan sejumlah kebijakan Nvidia yang tengah menjadi perhatian. Perusahaan sempat menegaskan posisinya terkait rencana produksi memori, seperti yang tergambar dalam bantahan soal Produksi 3D DRAM yang tetap difokuskan pada logic foundry. Selain itu, Nvidia juga mengatur ulang skema bisnis cloud asingnya, termasuk kewajiban bahwa 51% Pendapatan harus berasal dari luar China.
Kombinasi antara pelonggaran penjualan chip, komitmen potongan penjualan kepada pemerintah, dan pengawasan yang dipertanyakan membuat posisi Nvidia di pasar China semakin kompleks. Di satu sisi, perusahaan mendapat kembali akses yang sebelumnya tertutup. Di sisi lain, proses verifikasi terhadap mitra dan pembeli di China menjadi titik lemah yang kini disorot publik dan media.
Hingga laporan ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat maupun Nvidia mengenai temuan The New York Times terkait New Matrix. Yang jelas, persoalan ini menambah daftar pertanyaan soal seberapa ketat penyaringan yang dilakukan sebelum chip Nvidia H200 disalurkan ke perusahaan-perusahaan di China yang masuk daftar persetujuan.





Komentar
Belum ada komentar.