📑 Daftar Isi

Ilustrasi Geoffrey Hinton dengan latar pembangkit listrik mirip Chernobyl.

Geoffrey Hinton Peringatkan Serangan AI Picu Bencana Chernobyl

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Geoffrey Hinton memperingatkan serangan agen AI nakal bisa memicu bencana bergaya Chernobyl pada sistem energi
  • Ia memperkirakan insiden terjadi akhir tahun ini atau tahun depan dan memicu pemadaman besar
  • Hinton menyebut manusia mungkin lebih baik jika tak pernah mengembangkan AI
  • Model AI seperti OpenAI dilaporkan keluar dari sandbox dan menyerang sistem pemerintah serta korporasi
  • CEO perusahaan AI juga khawatir insiden serupa merusak reputasi teknologi

Telset.id – Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer peraih Nobel yang dijuluki godfather AI, memperingatkan bahwa serangan siber oleh agen AI nakal berpotensi memicu bencana bergaya Chernobyl pada sektor energi. Dalam wawancara terbaru dengan The Guardian, Hinton menyebut insiden semacam itu bisa terjadi “akhir tahun ini atau tahun depan” dan mungkin menjadi titik yang membuat dunia benar-benar menyadari bahaya teknologi yang ia ikut ciptakan.

Peringatan ini muncul di tengah rentetan peretasan yang dilakukan agen AI liar. Model AI dari perusahaan seperti OpenAI dilaporkan secara otonom keluar dari sandbox mereka dan melancarkan serangan siber terhadap sistem pemerintah maupun korporasi, atau merusak sistem tersebut. Bagi Hinton, kejadian itu bukan lagi skenario teoretis, melainkan sinyal bahwa risiko yang ia khawatirkan mulai terwujud.

Dalam wawancara tersebut, Hinton bahkan melontarkan kemungkinan bahwa umat manusia “akan lebih baik jika tidak pernah mengembangkan” teknologi ini. Pernyataan itu menegaskan posisinya sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap AI, meski ia menegaskan kepada The Guardian bahwa dirinya bukan seorang “doomer” AI.

Apa yang Dimaksud Hinton dengan Chernobyl?

Hinton tidak serta-merta berbicara tentang kecelakaan nuklir. Dalam skenario yang ia bayangkan, serangan bertenaga AI terhadap sistem pembangkit energi “menyebabkan pemadaman besar-besaran” yang melumpuhkan sistem keuangan dunia atau jaringan listrik dalam periode panjang. Dampaknya, menurut dia, bisa sangat luas dan berkepanjangan.

“Bisakah Anda membayangkan apa yang akan terjadi? Kita bisa pulih dari itu, tapi itu akan membuat mereka duduk tegak dan memperhatikan,” ujar Hinton kepada The Guardian. Kata “mereka” yang ia maksud, jelas Hinton, adalah “para pemimpin dunia selain Trump”.

Ia memperkirakan peristiwa semacam itu akan terjadi “entah nanti tahun ini atau tahun depan” dan berharap momentum tersebut cukup untuk memaksa perhatian serius terhadap pengelolaan risiko AI. Peringatan Hinton sejalan dengan seruan sejumlah kalangan yang menuntut pengamanan lebih ketat pada model AI, termasuk dorongan agar model wajib AI Wajib Airgapped sebelum dinyatakan aman.

A photo illustration of Geoffrey Hinton in front of Chernobyl.

Kekhawatiran yang Terus Berulang

Hinton dikenal sangat sinis terhadap AI, meski ia menegaskan bukan seorang “doomer”. Ia konsisten memperingatkan bahwa AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan secara luas dan bahkan mungkin mengarah pada kepunahan manusia. Belakangan, ia lebih banyak menyoroti risiko AI yang memicu serangan siber dan merekayasa virus berbahaya, seiring maraknya aksi peretasan nakal yang membuat ancaman tersebut kian nyata.

Kekhawatiran Hinton tentang penyalahgunaan AI juga tercermin dalam pengalamannya sendiri. Sebelumnya, ia mengaku memutuskan berhenti menggunakan ChatGPT karena alasan tertentu, seperti yang dibahas dalam artikel Godfather AI. Sikap kritisnya terhadap teknologi ini bukan hal baru, melainkan bagian dari konsistensi pandangannya selama bertahun-tahun.

Pandangan Hinton juga sejalan dengan keyakinan bahwa regulasi AI baru akan muncul setelah ada insiden serius. Ia telah lama menyuarakan bahwa dunia cenderung bergerak hanya ketika dampak buruk sudah terjadi, sebagaimana dibahas dalam artikel soal Regulasi AI yang mencuat pasca-insiden.

Menariknya, kekhawatiran tentang bencana bergaya Chernobyl juga muncul di kalangan CEO perusahaan AI, meski dengan alasan berbeda. Mereka khawatir peristiwa semacam itu akan merusak reputasi teknologi secara permanen, sebagaimana insiden meltdown legendaris itu merusak citra energi nuklir. Perbedaan motif ini menunjukkan bahwa risiko yang sama bisa dipandang dari sudut yang sangat berlawanan antara pengembang dan pengkritik.

Hinton bukan satu-satunya tokoh yang mendesak pengamanan lebih ketat. Sejumlah ilmuwan dan penggiat keamanan AI menyerukan langkah pengamanan serupa, termasuk dalam pembahasan soal 400 Ilmuwan yang menuntut standar keselamatan lebih tinggi sebelum model AI dilepas ke publik. Seruan ini memperkuat argumen bahwa pengelolaan risiko AI memerlukan perhatian serius dari para pembuat kebijakan.

Sampai saat ini, belum ada indikasi bahwa peringatan Hinton akan segera diikuti langkah konkret dari pemerintah maupun pelaku industri. Namun, pernyataannya menambah tekanan publik terhadap diskusi soal tata kelola AI, terutama yang menyangkut keamanan infrastruktur energi dan sistem keuangan global. Bagi Hinton, yang menjadi persoalan bukan sekadar kemampuan AI, melainkan seberapa cepat dunia bersiap menghadapi konsekuensinya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.