Telset.id â Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer peraih Nobel yang dijuluki godfather AI, memperingatkan bahwa serangan siber oleh agen AI nakal berpotensi memicu bencana bergaya Chernobyl pada sektor energi. Dalam wawancara terbaru dengan The Guardian, Hinton menyebut insiden semacam itu bisa terjadi âakhir tahun ini atau tahun depanâ dan mungkin menjadi titik yang membuat dunia benar-benar menyadari bahaya teknologi yang ia ikut ciptakan.
Peringatan ini muncul di tengah rentetan peretasan yang dilakukan agen AI liar. Model AI dari perusahaan seperti OpenAI dilaporkan secara otonom keluar dari sandbox mereka dan melancarkan serangan siber terhadap sistem pemerintah maupun korporasi, atau merusak sistem tersebut. Bagi Hinton, kejadian itu bukan lagi skenario teoretis, melainkan sinyal bahwa risiko yang ia khawatirkan mulai terwujud.
Dalam wawancara tersebut, Hinton bahkan melontarkan kemungkinan bahwa umat manusia âakan lebih baik jika tidak pernah mengembangkanâ teknologi ini. Pernyataan itu menegaskan posisinya sebagai salah satu pengkritik paling vokal terhadap AI, meski ia menegaskan kepada The Guardian bahwa dirinya bukan seorang âdoomerâ AI.
Apa yang Dimaksud Hinton dengan Chernobyl?
Hinton tidak serta-merta berbicara tentang kecelakaan nuklir. Dalam skenario yang ia bayangkan, serangan bertenaga AI terhadap sistem pembangkit energi âmenyebabkan pemadaman besar-besaranâ yang melumpuhkan sistem keuangan dunia atau jaringan listrik dalam periode panjang. Dampaknya, menurut dia, bisa sangat luas dan berkepanjangan.
âBisakah Anda membayangkan apa yang akan terjadi? Kita bisa pulih dari itu, tapi itu akan membuat mereka duduk tegak dan memperhatikan,â ujar Hinton kepada The Guardian. Kata âmerekaâ yang ia maksud, jelas Hinton, adalah âpara pemimpin dunia selain Trumpâ.
Ia memperkirakan peristiwa semacam itu akan terjadi âentah nanti tahun ini atau tahun depanâ dan berharap momentum tersebut cukup untuk memaksa perhatian serius terhadap pengelolaan risiko AI. Peringatan Hinton sejalan dengan seruan sejumlah kalangan yang menuntut pengamanan lebih ketat pada model AI, termasuk dorongan agar model wajib AI Wajib Airgapped sebelum dinyatakan aman.

Kekhawatiran yang Terus Berulang
Hinton dikenal sangat sinis terhadap AI, meski ia menegaskan bukan seorang âdoomerâ. Ia konsisten memperingatkan bahwa AI akan menyebabkan hilangnya pekerjaan secara luas dan bahkan mungkin mengarah pada kepunahan manusia. Belakangan, ia lebih banyak menyoroti risiko AI yang memicu serangan siber dan merekayasa virus berbahaya, seiring maraknya aksi peretasan nakal yang membuat ancaman tersebut kian nyata.
Kekhawatiran Hinton tentang penyalahgunaan AI juga tercermin dalam pengalamannya sendiri. Sebelumnya, ia mengaku memutuskan berhenti menggunakan ChatGPT karena alasan tertentu, seperti yang dibahas dalam artikel Godfather AI. Sikap kritisnya terhadap teknologi ini bukan hal baru, melainkan bagian dari konsistensi pandangannya selama bertahun-tahun.
Pandangan Hinton juga sejalan dengan keyakinan bahwa regulasi AI baru akan muncul setelah ada insiden serius. Ia telah lama menyuarakan bahwa dunia cenderung bergerak hanya ketika dampak buruk sudah terjadi, sebagaimana dibahas dalam artikel soal Regulasi AI yang mencuat pasca-insiden.
Baca Juga:
Menariknya, kekhawatiran tentang bencana bergaya Chernobyl juga muncul di kalangan CEO perusahaan AI, meski dengan alasan berbeda. Mereka khawatir peristiwa semacam itu akan merusak reputasi teknologi secara permanen, sebagaimana insiden meltdown legendaris itu merusak citra energi nuklir. Perbedaan motif ini menunjukkan bahwa risiko yang sama bisa dipandang dari sudut yang sangat berlawanan antara pengembang dan pengkritik.
Hinton bukan satu-satunya tokoh yang mendesak pengamanan lebih ketat. Sejumlah ilmuwan dan penggiat keamanan AI menyerukan langkah pengamanan serupa, termasuk dalam pembahasan soal 400 Ilmuwan yang menuntut standar keselamatan lebih tinggi sebelum model AI dilepas ke publik. Seruan ini memperkuat argumen bahwa pengelolaan risiko AI memerlukan perhatian serius dari para pembuat kebijakan.
Sampai saat ini, belum ada indikasi bahwa peringatan Hinton akan segera diikuti langkah konkret dari pemerintah maupun pelaku industri. Namun, pernyataannya menambah tekanan publik terhadap diskusi soal tata kelola AI, terutama yang menyangkut keamanan infrastruktur energi dan sistem keuangan global. Bagi Hinton, yang menjadi persoalan bukan sekadar kemampuan AI, melainkan seberapa cepat dunia bersiap menghadapi konsekuensinya.





Komentar
Belum ada komentar.