📑 Daftar Isi

Ilustrasi keranjang belanja Instacart Caper Cart dengan teknologi AI

Instacart Perluas Penerapan Keranjang Belanja AI di AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Instacart dan Weis Markets perluas keranjang belanja AI Caper Carts di Pennsylvania, AS
  • Caper Carts dilengkapi sensor kamera, timbangan digital, layar sentuh, dan pelacak lokasi
  • Teknologi ini menggabungkan edge computing dengan cloud AI dari 1,6 miliar pesanan online
  • Fitur seperti prompt "Sudah punya semuanya?" berhasil tingkatkan ukuran keranjang belanja hampir 1%
  • Keranjang juga menampilkan iklan, eCoupons, dan fitur "Buy It Again" berdasarkan riwayat pembelian
  • Instacart klaim telah melipatgandakan jumlah penerapan Caper Carts dibanding tahun sebelumnya
  • Kekhawatiran muncul tentang kemungkinan adanya pekerja gig berbayar rendah di balik sistem ini
  • Tren ini menunjukkan batas antara belanja online dan offline semakin kabur

Telset.id – Instacart bersama jaringan supermarket regional Weis Markets secara resmi mengumumkan perluasan penerapan keranjang belanja pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) di sejumlah toko di Pennsylvania, Amerika Serikat. Langkah ini menandai babak baru dalam transformasi ritel fisik yang semakin terintegrasi dengan teknologi digital.

Dalam siaran pers bersama, kedua perusahaan mengungkapkan bahwa keranjang yang disebut “Caper Carts” ini telah dilengkapi dengan berbagai sensor kamera, timbangan digital, layar sentuh, dan sistem pelacak lokasi. Teknologi ini dirancang untuk membuat setiap pengalaman berbelanja menjadi “lebih informatif dan menguntungkan” bagi pelanggan.

Menurut siaran pers tersebut, teknologi ini merupakan bagian dari pendekatan Instacart yang lebih luas terhadap Physical AI untuk industri bahan makanan. Sistem ini menggabungkan komputasi tepi (edge computing) pada Caper Carts dengan AI berbasis cloud yang dilatih menggunakan lebih dari 1,6 miliar pesanan bahan makanan online dan pengalaman selama satu dekade di industri ini.

Bagaimana Keranjang Belanja AI Bekerja

Caper Carts bekerja dengan melacak pengeluaran pelanggan secara real-time. Keranjang ini juga akan menampilkan iklan dan kupon elektronik (eCoupons) melalui layar yang terpasang, tergantung pada produk apa yang sedang didekati oleh pelanggan di dalam toko. Fitur seperti prompt “Sudah punya semuanya?” sudah menunjukkan bagaimana pengingat berbasis lokasi real-time dapat memengaruhi perilaku pembelian pelanggan.

Pengumuman tersebut menyatakan bahwa fitur ini berhasil mendorong peningkatan hampir satu poin persentase dalam ukuran keranjang belanja rata-rata. Angka ini disebut sebagai sinyal awal yang kuat tentang apa yang dapat dicapai oleh keterlibatan digital di dalam toko.

Selain itu, Caper Carts juga akan mendorong pelanggan untuk mendaftar ke Weis Rewards, sistem loyalitas pelanggan dari jaringan supermarket tersebut. Fitur lain seperti “Buy It Again” juga akan ditawarkan, yang menampilkan barang-barang yang pernah dibeli sebelumnya untuk membantu pelanggan membangun keranjang belanja dengan lebih efisien.

Meskipun terdengar distopia, keranjang belanja AI mulai menjadi norma di beberapa toko di seluruh negeri. Instacart mengklaim telah melipatgandakan jumlah penerapan Caper Carts dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, perusahaan seperti Kroger juga telah mengeksplorasi opsi keranjang pintar mereka sendiri dengan fitur AI yang tak kalah canggih.

Kritik dan Kekhawatiran

Jika teknologi ini mirip dengan eksperimen toko tanpa kasir sebelumnya, kemungkinan besar kita akan segera mengetahui tentang pekerja gig berbayar rendah yang duduk di ujung lain dari setiap kamera Caper Cart. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang seberapa besar peran manusia dalam sistem yang tampaknya sepenuhnya otomatis ini.

Meskipun demikian, Instacart terus mendorong penerapan teknologi ini sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi dan pengalaman berbelanja. Perusahaan percaya bahwa data dari lebih dari 1,6 miliar pesanan online memberikan keunggulan kompetitif dalam memahami perilaku konsumen di toko fisik.

Penerapan Caper Carts di Weis Markets menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana layanan e-grocery dapat bertransisi dari platform digital ke lingkungan ritel fisik. Ini juga menunjukkan bahwa batas antara belanja online dan offline semakin kabur dengan hadirnya teknologi AI.

Di sisi lain, konsumen mulai terbiasa dengan kehadiran AI dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari kamera pengintai di jalan raya, ponsel yang selalu mendengarkan, hingga bot AI di restoran cepat saji. Kini, keranjang belanja di supermarket pun ikut bergabung dalam daftar perangkat yang terintegrasi dengan AI.

Bagi pasar Indonesia, tren ini bisa menjadi pelajaran berharga. Meskipun layanan belanja online seperti AlloFresh dan Sayurbox masih mendominasi, potensi adopsi teknologi serupa di supermarket fisik bukanlah hal yang mustahil. Terlebih lagi, dengan meningkatnya minat generasi muda terhadap layanan digital dan food delivery, pasar Indonesia menunjukkan kesiapan untuk menerima inovasi serupa.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana teknologi ini dapat diadaptasi dengan karakteristik pasar lokal, termasuk kebiasaan belanja masyarakat Indonesia yang cenderung lebih sosial dan interaktif. Tantangan lainnya adalah infrastruktur teknologi dan kesiapan sumber daya manusia untuk mengelola sistem yang kompleks ini.

Kesimpulannya, perluasan Caper Carts oleh Instacart menandai langkah signifikan dalam integrasi AI di ritel fisik. Meskipun menawarkan efisiensi dan personalisasi yang lebih baik, teknologi ini juga memunculkan pertanyaan tentang privasi, pengawasan, dan dampaknya terhadap tenaga kerja. Bagi industri ritel di Indonesia, tren ini patut dicermati sebagai indikasi arah masa depan belanja bahan makanan.

Komentar

Belum ada komentar.