Logo Amazon dengan latar belakang abu-abu

Amazon Investigasi Karyawan Usai Dukung Moratorium Data Center

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Amazon menyelidiki tiga karyawan AECJ yang mendukung moratorium data center AI di Seattle
  • Karyawan dipanggil Zoom meeting dengan HR setelah Dewan Kota Seattle sahkan larangan satu tahun
  • Amazon klaim karyawan mungkin berbicara sebagai perwakilan perusahaan, bukan warga negara
  • Karyawan melaporkan intimidasi, pemantauan, dan ancaman pemecatan
  • Ini bukan pertama kali Amazon hadapi masalah dengan AECJ; dua pemimpin dipecat tahun 2020
  • Kasus ini tambah kontroversi seputar proyek AI dan data center Amazon

Telset.id – Amazon tengah menyelidiki tiga karyawannya yang tergabung dalam kelompok Amazon Employees for Climate Justice (AECJ) setelah mereka memberikan kesaksian mendukung moratorium data center AI di Seattle. Investigasi ini berpotensi berujung pada pemecatan, memicu kekhawatiran tentang kebebasan berbicara karyawan di tengah meningkatnya kontroversi seputar proyek AI.

Menurut laporan Bloomberg, tiga karyawan bernama Darius Irani, Patrick Schloesser, dan Liesl Wigand dipanggil dalam pertemuan Zoom terpisah dengan staf HR setelah Dewan Kota Seattle mengesahkan larangan satu tahun untuk data center AI. Dalam pertemuan tersebut, mereka diberitahu bahwa perusahaan sedang menyelidiki kekhawatiran tentang komentar publik yang mereka sampaikan.

Para staf mengaku merasa diintimidasi selama panggilan tersebut, dipantau saat bekerja, dan menghadapi kemungkinan pemecatan. Amazon menyatakan bahwa meskipun ketiga karyawan bebas mendiskusikan lingkungan kerja mereka, mereka tidak diizinkan berbicara sebagai perwakilan perusahaan.

β€œSaat kami melihat lebih dekat bagaimana para karyawan ini merepresentasikan diri mereka sendiri, dan bagaimana komentar mereka diterima oleh orang lain, menjadi jelas bahwa mereka mungkin telah berbicara dalam kapasitas mereka sebagai Amazonian dan bukan sebagai warga negara pribadi,” ujar juru bicara Amazon Margaret Callahan kepada publikasi tersebut.

Callahan menambahkan, β€œKami percaya penting untuk menerapkan kebijakan kami secara konsisten, jadi sama seperti yang kami lakukan dengan orang lain, kami menyelidiki apakah ada pelanggaran kebijakan kami dan mungkin atau tidak mengambil tindakan berdasarkan apa yang kami temukan.”

Amazon

Perwakilan hukum ketiga karyawan tersebut mengirimkan surat ke Seattle Office for Civil Rights (SOCR) yang menyatakan bahwa investigasi dapat mengarah pada sanksi disipliner, dengan salah satunya bahkan mengatakan bahwa mereka bisa dipecat. Para pengacara berargumen bahwa klien mereka diselidiki oleh perusahaan karena apa yang mereka katakan saat Dewan Kota Seattle mendengarkan komentar publik tentang moratorium tersebut.

Mereka juga menegaskan bahwa Irani, Schloesser, dan Wigand tidak menggunakan waktu perusahaan saat menyampaikan komentar, tidak menyebutkan nama perusahaan, dan tidak membagikan informasi kepemilikan. SOCR adalah lembaga pemerintah daerah yang menegakkan hukum terhadap diskriminasi kerja, dan ketiga karyawan meminta lembaga tersebut untuk menyelidiki situasi ini.

Ini bukan pertama kalinya pekerja yang berafiliasi dengan AECJ menghadapi masalah dengan Amazon. Perusahaan dilaporkan memecat dua orang pada tahun 2020 yang merupakan bagian dari kepemimpinan kelompok tersebut karena menyoroti keselamatan pekerja gudang Amazon selama pandemi.

Amazon mengatakan pihaknya hanya menyelidiki situasi dan belum membuat keputusan. Namun, berita seperti ini tidak akan menguntungkan perusahaan dan industri pada umumnya, terutama karena mereka mendapat pemberitaan buruk akibat proyek data center AI.

Sementara perusahaan telah berusaha menampilkan sisi baiknya, seperti membandingkan konsumsi airnya dengan hyperscaler lain untuk menyoroti efisiensi air yang tinggi, Amazon masih belum bisa menghilangkan persepsi bahwa proyeknya dapat menyebabkan biaya listrik yang lebih tinggi, tekanan air berkurang, dan polusi suara. Amazon Bantah Boros Air merupakan salah satu upaya perusahaan untuk meredakan kekhawatiran publik.

Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi seputar ekspansi data center AI yang semakin masif. Krisis Claude Mythos sebelumnya juga telah menyoroti ketegangan antara Amazon, SK Telecom, dan regulator AS terkait keamanan AI. Ketegangan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap perusahaan teknologi tidak hanya datang dari karyawan, tetapi juga dari regulator dan publik.

Ketiga karyawan tersebut melaporkan bahwa mereka diintimidasi selama pertemuan Zoom dan mengeluh tentang pemantauan saat mereka bekerja. Mereka meminta SOCR untuk menyelidiki apakah tindakan Amazon melanggar hukum ketenagakerjaan yang melarang diskriminasi dan intimidasi terhadap pekerja yang menyuarakan kepentingan publik.

Meskipun Amazon mengklaim hanya menjalankan prosedur investigasi standar, langkah ini dipandang sebagai bentuk tekanan terhadap karyawan yang berani bersuara. Dalam industri teknologi yang semakin sensitif terhadap kritik, kasus ini bisa menjadi preseden buruk bagi kebebasan berbicara di tempat kerja.

Para pengamat menilai bahwa respons Amazon terhadap karyawannya yang mendukung moratorium data center justru memperkuat argumen para kritikus bahwa perusahaan terlalu defensif terhadap proyek AI-nya. Alih-alih berdialog, Amazon memilih jalur investigasi yang berpotensi menghukum karyawannya sendiri.

Dengan meningkatnya kekhawatiran publik tentang dampak data center AI terhadap lingkungan dan masyarakat, insiden ini menunjukkan bahwa perusahaan teknologi masih bergulat dengan cara menyeimbangkan kepentingan bisnis dan tanggung jawab sosial. Misteri Anjing Hantu Amazon yang baru terkuak juga menambah daftar isu yang harus dihadapi perusahaan.

Seattle sendiri menjadi salah satu kota pertama yang memberlakukan moratorium data center AI, menandai perubahan sikap pemerintah daerah terhadap ekspansi infrastruktur AI yang sebelumnya hampir tidak terkendali. Keputusan ini didorong oleh kekhawatiran warga tentang konsumsi energi, penggunaan air, dan dampak lingkungan lainnya.

Para ahli memperkirakan bahwa kasus ini akan menjadi ujian penting bagi hubungan antara perusahaan teknologi besar dan karyawannya yang kritis. Jika Amazon benar-benar memecat ketiga karyawan tersebut, hal itu bisa memicu gelombang protes baru dari aktivis iklim dan pegiat hak pekerja.

Sebaliknya, jika Amazon mundur dan mengakui hak karyawan untuk berbicara sebagai warga negara, hal itu bisa menjadi langkah positif dalam membangun budaya perusahaan yang lebih terbuka terhadap kritik. Bagaimanapun, kasus ini akan menjadi sorotan publik dan regulator di masa mendatang.

Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa perjuangan untuk keadilan iklim tidak hanya terjadi di jalanan atau ruang sidang, tetapi juga di dalam perusahaan-perusahaan teknologi yang menjadi motor penggerak ekonomi digital. Karyawan yang peduli lingkungan semakin berani mengambil risiko untuk menyuarakan keprihatinan mereka.

Komentar

Belum ada komentar.