Telset.id – Phoebe Gates, putri bungsu pendiri Microsoft Bill Gates, tengah menjadi sorotan setelah startup belanja berbasis kecerdasan buatan (AI) yang didirikannya, Phia, dituding menggunakan praktik cookie stuffing untuk mendapatkan komisi dari transaksi yang sebenarnya tidak mereka hasilkan. Jika tudingan tersebut terbukti dan dilakukan secara sengaja, Phoebe dan co-founder Phia, Sophia Kianni, berpotensi menghadapi gugatan perdata hingga persoalan pidana.
Kontroversi ini bermula dari investigasi Bloomberg yang mengungkap dugaan pelanggaran dalam sistem afiliasi Phia. Namun sejauh ini, Phia maupun kedua pendirinya belum didakwa melakukan tindak pidana apa pun. Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan figur publik dan praktik bisnis yang dipertanyakan dalam ekosistem startup AI.
Kronologi Dugaan Praktik Cookie Stuffing
Phoebe yang kini berusia 23 tahun mendirikan Phia bersama Kianni, teman kuliahnya di Stanford. Layanan ini berfungsi sebagai asisten belanja AI yang membantu pengguna membandingkan harga, mencari kode diskon, hingga menemukan alternatif barang bekas. Namun di balik fungsinya yang membantu konsumen, Phia dituding menggunakan teknik yang membuat kode referral atau cookie afiliasinya terpasang ketika pengguna berbelanja, termasuk pada transaksi yang tidak benar-benar didatangkan oleh Phia.
Dengan cara tersebut, sebuah layanan dapat tercatat sebagai pihak yang menghasilkan transaksi dan berpotensi menerima komisi. Padahal konsumen mungkin datang ke toko online secara mandiri atau melalui pihak afiliasi lain. Praktik semacam ini dikenal sebagai cookie stuffing, sebuah metode yang dianggap curang dalam industri pemasaran afiliasi karena atribusi komisi menjadi tidak akurat.
Bloomberg kemudian melaporkan, berdasarkan komunikasi internal dan sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa Phoebe dan Kianni disebut telah mengetahui fitur pemasangan cookie otomatis sejak berbulan-bulan sebelumnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa praktik tersebut dilakukan secara sadar, bukan sekadar kesalahan teknis yang tidak disengaja.
Baca Juga:
Respons Phia dan Langkah Perbaikan
Menghadapi tudingan tersebut, Phia membantah sejumlah aspek temuan Bloomberg. Perusahaan menegaskan bahwa fitur yang menyebabkan kesalahan atribusi telah dihapus pada 7 Juli 2026. Selain itu, Phia juga tengah meninjau transaksi dan membalikkan transaksi yang salah atribusi kepada mitra merek sebagai bentuk koreksi atas kesalahan yang terjadi.
“Kami akan belajar dari hal ini dan ingin memastikan pengguna mendapatkan pengalaman belanja terbaik,” kata juru bicara Phia, seperti dikutip dari People. Perusahaan juga berencana merekrut kepala kepatuhan agar masalah serupa tidak terulang di masa mendatang. Langkah ini menunjukkan upaya Phia untuk memperbaiki tata kelola internalnya pasca-kontroversi.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya transparansi dan etika dalam operasional startup, terutama yang bergerak di bidang teknologi dan AI. Industri AI yang berkembang pesat kerap menghadirkan tantangan baru dalam hal kepatuhan dan regulasi. Dugaan praktik curang seperti ini juga menyoroti perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap model bisnis berbasis afiliasi.
Di sisi lain, kasus ini juga menambah daftar panjang persoalan hukum yang melibatkan startup di sektor teknologi. Sebelumnya, kasus fraud di startup fashion juga menjadi peringatan bagi industri. Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa Phia belum terbukti bersalah dan kasus ini masih dalam tahap investigasi.
Bagi Phoebe Gates dan Sophia Kianni, tekanan hukum yang berpotensi mereka hadapi menjadi ujian besar bagi karier mereka di dunia bisnis. Keduanya dikenal sebagai pengusaha muda yang ambisius, dan kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kepatuhan sejak awal membangun perusahaan. Potensi hukuman hingga 20 tahun penjara yang disebutkan dalam pemberitaan memang mengkhawatirkan, tetapi proses hukum masih panjang dan belum ada dakwaan resmi yang diajukan.
Dari sisi industri, kasus aplikasi AI Phia ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap praktik afiliasi perlu diperketat. Banyak platform e-commerce dan program afiliasi yang rentan terhadap penyalahgunaan teknis seperti cookie stuffing. Hal ini tidak hanya merugikan merchant, tetapi juga merusak kepercayaan konsumen terhadap sistem rekomendasi belanja berbasis AI.
Phia sendiri merupakan salah satu startup yang cukup menarik perhatian karena mengusung konsep asisten belanja AI. Layanan semacam ini memang sedang tren di kalangan konsumen yang ingin berbelanja lebih efisien. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa inovasi tanpa diimbangi kepatuhan yang baik bisa menjadi bumerang bagi perusahaan itu sendiri.
Ke depannya, Phia perlu membuktikan bahwa mereka serius dalam memperbaiki sistem dan tata kelola perusahaan. Langkah merekrut kepala kepatuhan adalah sinyal positif, tetapi publik tentu akan menunggu hasil konkret dari perbaikan tersebut. Sementara itu, para pengguna layanan AI dan platform belanja daring diharapkan tetap waspada terhadap praktik-praktik yang berpotensi merugikan konsumen.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi, selalu ada tanggung jawab besar yang harus diemban oleh para pengembang dan operator layanan. Kepercayaan pengguna adalah aset paling berharga yang tidak bisa ditukar dengan komisi atau keuntungan jangka pendek.





Komentar
Belum ada komentar.