πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi siswa yang kehilangan kemampuan berpikir akibat penggunaan AI untuk menulis esai

AI Bisa Melemahkan Kemampuan Berpikir Siswa, Ini Faktanya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Studi MIT menemukan penurunan aktivitas otak pada siswa yang menggunakan AI untuk menulis esai
  • Pengguna AI kesulitan mengingat isi esai yang baru mereka tulis
  • Psikolog kognitif Ronald T. Kellogg menyebut menulis sebagai teknologi untuk berpikir
  • Sekolah mulai kembali ke metode tradisional seperti ujian kertas dan lisan
  • Princeton University menghapus tradisi Honor Code untuk pengawasan ujian
  • Siswa mulai sadar bahwa AI merampas kesempatan mereka untuk belajar menganalisis
  • Tidak ada bagian proses menulis yang bisa dialihkan ke AI tanpa biaya kognitif

Telset.id – Penggunaan AI untuk menulis esai tidak hanya mengancam kemampuan komposisi siswa, tetapi juga seluruh kemampuan berpikir mereka. Para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan menyerahkan proses menulis kepada mesin dapat merusak fungsi kognitif penting yang terbentuk melalui latihan menulis secara manual.

Ronald T. Kellogg, seorang psikolog kognitif, menegaskan bahwa menulis adalah teknologi untuk berpikir. Pernyataan ini muncul dalam esai baru di New York Times yang membahas konsekuensi dari menghindari kerja keras menulis. Menurutnya, proses menulis membantu mengembangkan berbagai kemampuan kognitif, termasuk membangun memori kerja, keterampilan perencanaan eksekutif, dan metakognisi atau kemampuan untuk menyadari proses berpikir diri sendiri.

A stock photo shows a young man with braces on his teeth, resting his face on his hand.

Meskipun sering diromantisasi, menulis sebenarnya adalah bentuk pekerjaan berat. Kellogg menyebut bahwa menyusun esai dasar secara mental sama melelahkannya dengan menggali parit secara fisik. Siswa harus benar-benar mengerahkan otak untuk menemukan kata yang tepat dan mengorganisir ide agar mudah dipahami audiens yang lebih luas. Ketika ide-ide itu diwujudkan di dunia nyata, mereka merevisi gagasan dengan memeriksanya kembali atau meminta umpan balik.

Dengan kata lain, menulis tidak dapat dipisahkan dari kerja keras yang menyertainya. Ketika seseorang menggunakan mesin yang menawarkan untuk melakukan proses tersebut, aktivitas itu bukan lagi menulis dan tidak lagi melatih otak.

Studi MIT Ungkap Dampak Nyata pada Aktivitas Otak

Sebuah studi MIT awal tahun ini menemukan bahwa orang yang menggunakan AI saat menulis esai menunjukkan aktivitas otak yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Lebih mengkhawatirkan lagi, orang-orang yang menulis dengan bantuan AI kesulitan mengingat satu baris pun dari esai yang baru mereka produksi. Aktivitas otak mereka tetap berada pada level yang berkurang bahkan ketika diminta menulis lagi tanpa bantuan AI.

Steve Graham, pakar menulis dan psikolog pendidikan di Arizona State University, memperingatkan bahwa tidak ada bagian dari proses menulis yang bisa dialihkan ke AI tanpa menimbulkan biaya tertentu. Dana Goldstein dari NYT merenungkan: jika menulis adalah berpikir, maka setiap bagian dari perjuangan yang dialihkan ke teknologi berarti melepaskan sebagian kebebasan untuk memahami. Pertanyaannya, bagaimana siswa akan tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang sesuatu jika mereka meminta mesin untuk meludahkan jawaban?

Sekolah dan perguruan tinggi kini berupaya mengekang penggunaan teknologi ini. Beberapa kembali menggunakan kertas dan pensil untuk menulis esai serta ujian lisan. Ada pula yang melarang perangkat digital di kursus mahasiswa baru. Universitas Ivy League seperti Princeton bahkan menghapus tradisi Honor Code yang memungkinkan siswa mengikuti tes tanpa pengawasan.

Siswa Mulai Menyadari Kerugiannya Sendiri

Jika ada sisi positifnya, banyak siswa mulai menyadari sendiri bahwa menggunakan AI untuk menulis analisis karya sastra yang ditugaskan justru merampas pendidikan mereka sendiri. Seorang mahasiswa tingkat tiga mengungkapkan kepada NYT bahwa mereka tidak memperkuat kemampuan analisis ketika menyerahkan tugas kepada AI. β€œMereka memang dimaksudkan untuk sulit,” ujarnya.

Kesadaran ini penting karena tantangan dalam menganalisis teks yang sulit justru merupakan inti dari pembelajaran. Dengan menghindari kesulitan tersebut melalui AI, siswa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang akan mereka butuhkan di dunia nyata.

Fenomena ini juga menjadi perhatian di kalangan pendidik. Beberapa pihak mendorong adanya regulasi yang lebih jelas terkait penggunaan AI di lingkungan pendidikan. Sementara itu, investasi AI terus mengalir deras ke berbagai sektor, menunjukkan bahwa teknologi ini akan semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Para pendidik juga mengingatkan bahwa kebiasaan menggunakan AI untuk tugas menulis bisa berdampak jangka panjang pada kemampuan berpikir mandiri. Ketika siswa terbiasa meminta bantuan mesin untuk setiap tugas, mereka kehilangan latihan mental yang diperlukan untuk mengembangkan ide orisinal dan argumen yang kuat.

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa sekolah mulai menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Ada yang kembali ke metode tradisional seperti ujian tertulis manual dan presentasi lisan. Pendekatan ini dianggap mampu memastikan bahwa siswa benar-benar menguasai materi tanpa bantuan teknologi.

Di sisi lain, masih ada perdebatan tentang bagaimana cara terbaik mengintegrasikan AI ke dalam pendidikan tanpa mengorbankan keterampilan dasar. Sebagian pendidik melihat AI sebagai alat bantu yang sah selama digunakan secara bijak, sementara yang lain menganggapnya sebagai ancaman serius bagi kualitas pendidikan.

Yang jelas, temuan dari studi MIT dan peringatan para ahli menunjukkan bahwa dampak penggunaan AI pada kemampuan berpikir tidak bisa dianggap remeh. Aktivitas otak yang menurun saat menulis dengan AI menjadi bukti bahwa proses berpikir yang sesungguhnya tidak terjadi ketika mesin mengambil alih pekerjaan tersebut.

Para orang tua dan pendidik diharapkan lebih waspada terhadap penggunaan AI oleh siswa. Memantau cara siswa mengerjakan tugas dan memastikan mereka benar-benar terlibat dalam proses belajar menjadi langkah penting untuk mencegah penurunan kemampuan kognitif.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, menjaga keseimbangan antara memanfaatkan kemudahan AI dan mempertahankan kemampuan berpikir mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Namun, seperti yang ditegaskan para ahli, tidak ada jalan pintas untuk membangun kemampuan berpikir yang kuat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.