Telset.id – Sebanyak 80% guru di Eropa menyatakan kekhawatiran terhadap cepatnya penetrasi AI di ruang kelas, menurut survei Epson yang melibatkan 3.360 responden. Survei bertajuk Epson Europe’s Educate to Empower 2026 Research itu juga mengungkap bahwa lebih dari dua pertiga atau 68% guru menilai penggunaan AI untuk pekerjaan rumah berdampak negatif terhadap proses belajar siswa.
Survei tersebut mencakup responden dari lima negara Uni Eropa, yakni Prancis, Italia, Jerman, Spanyol, dan Polandia, serta Inggris. Temuan ini dirilis bersamaan dengan mulai diberlakukannya EU AI Act, yang mewajibkan sekolah di Uni Eropa memastikan pelatihan yang memadai untuk setiap alat AI yang digunakan. Inggris tidak memiliki regulasi setara EU AI Act, meski bisnis yang melayani perusahaan di dalam Uni Eropa tetap harus mematuhi aturannya.
Di sisi lain, ekspektasi siswa terhadap AI justru bergerak berlawanan. Lebih dari tiga perempat atau 76% siswa berharap dapat menggunakan AI dalam pembelajaran, dan hampir 90% di antaranya telah memakainya setidaknya sekali seminggu untuk keperluan sekolah. Data ini menunjukkan bahwa pelarangan total bukan lagi pendekatan yang realistis.

“AI berkembang dengan cepat, dan siswa berharap dapat menggunakannya. Artinya, AI perlu dikelola secara efektif, dengan tata kelola, pedoman, dan pelatihan yang tepat,” ujar Dr Sarah Henkelmann-Hillebrand, lead for education di Epson Europe.
Henkelmann-Hillebrand menambahkan bahwa fokus seharusnya diarahkan pada pengajaran keterampilan yang tidak bisa dipotong jalurnya oleh AI. Menurutnya, AI juga dapat memperkaya pengalaman belajar, misalnya melalui kolaborasi siswa dan guru di ruang belajar imersif dengan teknologi seperti proyeksi, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan kolaboratif sekaligus membekali siswa dengan keterampilan untuk masa depan yang didominasi AI.
Baca Juga:
Survei Epson juga menyoroti kebutuhan guru terhadap pelatihan. Sebanyak 82% guru menginginkan pelatihan tambahan untuk mengawasi penggunaan AI oleh siswa. Angka itu tidak jauh berbeda dengan 78% guru yang menginginkan pelatihan dan panduan tentang cara memanfaatkan teknologi tersebut untuk pekerjaan mereka sendiri.
Artinya, persoalan AI di sekolah bukan sekadar soal membatasi akses siswa, melainkan juga soal kesiapan tenaga pengajar. Guru menghadapi tantangan ganda: memastikan siswa tidak bergantung pada AI hingga mengganggu kemampuan belajar dan menunjukkan pemahaman, sekaligus mengejar keterampilan untuk mengelola teknologi itu di ruang kelas.
Dalam konteks yang lebih luas, pendekatan terhadap AI di sekolah memang bervariasi. Di Amerika Serikat, misalnya, serikat guru mendesak pelarangan AI di kelas dasar, sementara perusahaan teknologi seperti Microsoft memilih tidak memakai data sekolah untuk melatih AI. Perbedaan sikap ini memperlihatkan bahwa tata kelola AI di pendidikan masih dalam tahap pencarian bentuk yang paling tepat.
Sejumlah pertanyaan pun muncul dari temuan survei ini. Jika AI sudah mengambil alih sebagian peran di kelas, apakah lebih masuk akal bagi guru memakai AI untuk mengurangi beban administrasi ketimbang mengizinkan siswa memakainya? Survei Epson tidak memberi jawaban langsung, tetapi data 78% guru yang ingin pelatihan untuk pekerjaan mereka sendiri mengindikasikan bahwa pemanfaatan AI oleh tenaga pengajar adalah kebutuhan yang nyata.

Yang jelas, menurut temuan survei, memblokir penggunaan AI bukan lagi opsi yang bisa diandalkan. Sebanyak 76% siswa mengharapkan akses ke AI dan 87% sudah memakainya dalam bentuk tertentu. Karena itu, perhatian perlu dialihkan pada pengajaran keterampilan yang tidak dapat disederhanakan oleh AI, seperti pemikiran analitis, kreativitas, kepemimpinan, pemecahan masalah, dan sejumlah kemampuan khas manusia lainnya.
Kebutuhan akan keterampilan dan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur juga tercermin dari perkembangan layanan pendidikan digital di pasar lain. Zenius, misalnya, menghadirkan sistem manajemen pembelajaran gratis untuk guru, sementara sejumlah aplikasi belajar online telah lebih dulu menjadi alternatif pembelajaran dari rumah.
Bagi sekolah di Uni Eropa, tenggatnya sudah berjalan. EU AI Act menuntut pelatihan AI literacy yang memadai untuk setiap alat AI yang dipakai di lingkungan sekolah. Survei Epson menunjukkan bahwa tuntutan regulasi itu sejalan dengan permintaan guru: 82% ingin lebih banyak pelatihan untuk mengawasi penggunaan AI oleh siswa, dan 78% ingin panduan untuk memakainya dalam pekerjaan mereka sendiri.
Temuan Epson Europe’s Educate to Empower 2026 Research ini dengan demikian menempatkan guru, bukan siswa, sebagai pihak yang paling membutuhkan dukungan. Selama kesenjangan antara ekspektasi siswa dan kesiapan guru belum tertutup, kekhawatiran 80% guru Eropa terhadap laju masuknya AI ke ruang kelas akan tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.





Komentar
Belum ada komentar.