📑 Daftar Isi

CEO Y Combinator Garry Tan saat berbicara dalam sebuah acara teknologi

Garry Tan Tolak Regulasi AI, Dorong Distilasi Model Terbuka Amerika

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Y Combinator Garry Tan menolak regulator membatasi praktik distilasi AI
  • Tan dorong lab AI Amerika adopsi teknik serupa untuk perkuat model open-weight
  • Anthropic tuduh lab AI China lakukan "serangan distilasi ilegal"
  • Tan nilai ketentuan layanan restriktif membatasi kebebasan pengguna API
  • Skenario doomer AI menurut Tan adalah ketika hanya ada satu perusahaan monolitik

Telset.id – CEO Y Combinator Garry Tan menolak langkah regulator yang membatasi praktik distilasi AI dan justru mendorong lab AI Amerika Serikat mengadopsi teknik serupa untuk memperkuat ekosistem model open-weight. Dalam wawancara dengan CNBC awal pekan ini, Tan menyatakan bahwa ia tidak akan melakukan apa pun terhadap praktik distilasi yang dilakukan lab AI China. “Saya tidak akan melakukan apa pun,” ujarnya kepada CNBC. Ia bahkan menilai bahwa Amerika Serikat bisa membangun rezim distilasi sendiri.

Pernyataan Tan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari sejumlah pembuat model frontier terhadap praktik distilasi yang dilakukan lab AI China. Distilasi sendiri adalah teknik ketika pembuat model secara intensif memberi prompt kepada model lain untuk mempelajari cara kerja dan penalarannya. Teknik ini umum dan sah digunakan oleh lab AI untuk membantu melatih model baru.

Anthropic pekan ini merilis laporan keduanya yang menuduh lab AI China terlibat dalam “serangan distilasi ilegal”. Menurut laporan tersebut, lab AI China menyembunyikan identitas mereka untuk melakukan distilasi tanpa izin, serta mengandalkan penipuan dan kredensial curian. CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya secara publik menyerukan regulator AS untuk menindak praktik distilasi.

Posisi Garry Tan soal Distilasi dan Model Open-Weight

Yang menarik, komandan akselerator startup paling bergengsi dan produktif di Silicon Valley ini tidak setuju dengan seruan tersebut. Tan kepada TechCrunch menjelaskan bahwa ia ingin lab AI open-weight Amerika yang lebih kecil menggunakan teknik pelatihan serupa terhadap lab AI frontier Amerika. Tujuannya, memberi Amerika Serikat opsi open-weight yang lebih kuat dan tidak berasal dari China.

Tan menegaskan ia tidak menganjurkan lab AI Amerika menggunakan kredensial curian untuk melakukan distilasi. Ia ingin mereka bebas masuk melalui pintu depan. Argumennya ada dua. Pertama, ia menilai sudah berlebihan jika lab AI mendikte apa yang boleh dilakukan pelanggan terhadap informasi yang dibagikan model mereka. Kedua, ia mencatat bahwa lab AI proprietary tidak meminta izin ketika menyedot sebanyak mungkin pengetahuan manusia untuk melatih model mereka. Mereka dikenal menyerap banyak materi berhak cipta tanpa izin pemegang hak kekayaan intelektual tersebut.

“Mengontrol apa yang dilakukan pengguna dan pelanggan terhadap panggilan API ke model closed weight terasa membatasi, dan ada peran pemerintah di sini untuk menormalkan fakta bahwa akses ke kecerdasan yang dilatih pada data akses publik yang luas seharusnya juga lebih menjadi bentuk barang publik daripada sesuatu yang dikunci di balik ketentuan layanan yang restriktif,” kata Tan kepada TechCrunch ketika ditanya mengapa lab Amerika seharusnya juga bebas melakukan distilasi.

Pandangan Tan ini menempatkannya berseberangan dengan sebagian pemain besar di industri AI. Namun posisinya konsisten dengan rekam jejaknya sebagai pengguna AI aktif. Tan bahkan pernah menggambarkan dirinya mengalami cyber psychosis karena begitu intens menggunakan AI. Ia menginginkan keseimbangan antara lab AI open-weight dan lab frontier.

“Mereka berada di garis terdepan dan mendorongnya maju. Kami ingin itu tetap bisa didanai, dan menjadi model bisnis yang hebat secara berkelanjutan,” ujar Tan kepada CNBC. “Anda ingin model open weight memberi orang kebebasan dan akses.”

Bagi Tan, skenario AI doomer yang sesungguhnya adalah ketika seluruh kekuatan besar AI frontier berakhir di tangan satu penyedia proprietary yang kuat. “Skenario mimpi buruk, skenario doomer untuk AI adalah ketika hanya ada satu perusahaan,” katanya. “Perusahaan itu punya akses modal terbaik. Punya peneliti AI terbaik. Ia melaju kencang dan tiba-tiba hanya ada satu perusahaan yang monolitik. Dan itu akan buruk.”

Dampak bagi Ekosistem AI Global

Pernyataan Tan memperlihatkan perpecahan di kalangan pelaku industri AI Amerika Serikat soal cara menyikapi praktik distilasi. Di satu sisi, Anthropic melalui laporan dan seruan Amodei mendorong tindakan regulator. Di sisi lain, Y Combinator melalui Tan justru menginginkan pendekatan yang lebih permisif, bahkan mendorong lab AI Amerika memanfaatkan teknik yang sama.

Perdebatan ini menyentuh pertanyaan mendasar soal siapa yang berhak mengontrol penggunaan keluaran model AI. Bagi Tan, ketentuan layanan yang restriktif pada model closed weight dinilai membatasi kebebasan pengguna dan pelanggan. Ia melihat peran pemerintah sebagai penyeimbang yang menormalkan akses terhadap kecerdasan yang dilatih pada data publik sebagai bentuk barang publik.

Posisi ini juga menyoroti ketegangan antara model open-weight dan model frontier. Tan mengakui pentingnya lab frontier yang terus mendorong batas kemampuan AI dan tetap layak didanai sebagai model bisnis. Namun ia menekankan perlunya model open-weight yang memberi orang kebebasan dan akses.

Isu distilasi sendiri bukan hal baru dalam pengembangan AI. Teknik ini lazim dan sah digunakan lab AI untuk melatih model baru. Yang menjadi sorotan Anthropic adalah dugaan penyalahgunaan melalui identitas tersembunyi, penipuan, dan kredensial curian. Tan tidak membenarkan cara-cara tersebut, tetapi ia memisahkan antara praktik ilegal itu dengan prinsip kebebasan melakukan distilasi melalui jalur resmi.

Dengan posisi Tan yang jelas, diskusi soal regulasi distilasi AI diprediksi terus bergulir. Perbedaan pandangan antara Y Combinator dan Anthropic mencerminkan belum adanya konsensus di industri soal bagaimana memperlakukan praktik yang berada di persimpangan antara inovasi, hak kekayaan intelektual, dan keamanan teknologi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.