Ilustrasi prakiraan cuaca AI dengan simbol awan digital dan berbagai ikon cuaca

Survei: Kepercayaan Publik pada Prakiraan Cuaca AI Masih Rendah

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Survei 6.000 warga Inggris: hanya 11% sangat percaya pada prakiraan cuaca AI vs 30% untuk metode tradisional
  • 87,7% responden percaya pada Numerical Weather Prediction (NWP), sementara 49,4% mendukung Machine Learning Weather Prediction (MLWP)
  • Met Office telah menggunakan machine learning selama bertahun-tahun dan mengevaluasi model AI untuk melengkapi metode yang ada
  • Dr Edward Pope menekankan pentingnya demonstrasi transparan nilai AI untuk membangun kepercayaan publik
  • Chief AI Officer Profesor Kirstine Dale memastikan validasi ketat sebelum integrasi AI dalam model prakiraan
  • Studi lanjutan direncanakan untuk memantau perubahan sikap publik terhadap laporan cuaca berbasis AI

Telset.id – Sebuah survei terhadap 6.000 orang dewasa di Inggris mengungkapkan bahwa mayoritas publik belum sepenuhnya percaya pada prakiraan cuaca berbasis kecerdasan buatan (AI). Hanya 11% responden yang menyatakan “sangat percaya diri” terhadap prediksi cuaca menggunakan machine learning, jauh lebih rendah dibandingkan 30% untuk metode numerik dan fisika yang sudah teruji.

Met Office, badan meteorologi Inggris, telah menggunakan teknik machine learning dalam prakiraan cuaca selama beberapa tahun. Namun, survei tersebut menemukan bahwa masyarakat lebih nyaman dengan Numerical Weather Prediction (NWP) tradisional dibandingkan Machine Learning Weather Prediction (MLWP). Temuan ini menunjukkan adanya “kesenjangan kepercayaan” yang berpotensi menghambat adopsi AI dalam layanan prakiraan cuaca.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Artificial Intelligence for the Earth Systems ini mengeksplorasi kepercayaan publik terhadap keandalan prakiraan dan prediksi cuaca berbasis AI. Hasilnya, 87,7% responden merasa percaya diri terhadap laporan cuaca yang menggunakan NWP, sementara hanya 49,4% yang mendukung MLWP. Meski demikian, angka tersebut dinilai bukan hasil yang buruk, melainkan menunjukkan bahwa masyarakat memang lebih nyaman dengan metode yang sudah teruji.

Dr Edward Pope, Met Office Science Fellow sekaligus penulis utama makalah ini, mengatakan penelitian tersebut “memperdalam pemahaman kita tentang persepsi publik saat ini saat kita mendekati titik penting di mana model cuaca berbasis AI menunjukkan potensinya untuk bekerja berdampingan dengan metode berbasis fisika.” Ia menambahkan bahwa ini adalah “kesempatan unik untuk membandingkan persepsi publik terhadap pendekatan prakiraan yang sudah mapan dan yang sedang berkembang.”

Kesenjangan kepercayaan antara prakiraan berbasis matematika dan pemodelan AI modern menjadi tantangan yang secara langsung sedang diatasi oleh Met Office. Dr Pope menjelaskan bahwa “kesenjangan dalam kepercayaan dan akurasi yang dirasakan yang disorot dalam makalah ini menunjukkan perlunya mendemonstrasikan nilai pendekatan baru secara jelas dan transparan dengan cara yang penting bagi masyarakat.”

Menurut Pope, praktik AI akan berkontribusi pada prakiraan cuaca di masa depan, “tetapi peningkatan ini hanya akan terwujud sepenuhnya jika publik terus memiliki kepercayaan, dan yang penting, bertindak berdasarkan prakiraan cuaca yang mereka lihat.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kepercayaan publik menjadi faktor kunci dalam kesuksesan integrasi AI ke dalam sistem prakiraan cuaca.

Penelitian Met Office ini juga mempertimbangkan “akurasi yang dirasakan” dari laporan cuaca. Chief AI Officer Met Office, Profesor Kirstine Dale, mengisyaratkan bahwa kemajuan pemodelan cuaca AI selalu melalui evaluasi dan validasi yang ketat. “Kami sedang mengeksplorasi cara menggabungkan pemodelan berbasis fisika dan berbasis AI untuk menghasilkan prakiraan yang kita semua andalkan. Seperti semua pengembangan sains, kami akan mengevaluasi dan memvalidasi setiap perubahan pendekatan kami terhadap prakiraan cuaca secara kuat sebelum memperkenalkannya ke dalam model,” ujarnya.

Teknologi prediktif telah meningkat pesat berkat AI, dan Met Office telah mulai mengevaluasi model AI untuk melengkapi metode prakiraan yang ada. Namun, para peneliti menyarankan bahwa kesenjangan kepercayaan ini dapat diatasi dengan demonstrasi yang jelas tentang metode AI yang bekerja dengan sukses. Studi lanjutan direncanakan untuk menilai bagaimana sikap publik berubah terhadap laporan cuaca yang didukung AI.

Respons terhadap laporan ini tidak sepenuhnya negatif. Meskipun 87,7% responden merasa percaya diri dengan laporan cuaca yang menggunakan NWP, angka 49,4% yang mendukung MLWP menunjukkan bahwa sebagian masyarakat sudah mulai menerima teknologi ini. Hal ini menandakan bahwa kepercayaan publik terhadap metode yang sudah teruji tetap menjadi fondasi utama dalam penerimaan teknologi baru.

Konsekuensi dari “kesenjangan kepercayaan” ini menjadi perhatian serius bagi Met Office. Jika publik tidak percaya pada prakiraan cuaca berbasis AI, maka potensi teknologi ini untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi prakiraan cuaca tidak akan terwujud sepenuhnya. Met Office perlu menunjukkan secara transparan bagaimana AI dapat memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat.

Dr Pope menekankan pentingnya transparansi dalam memperkenalkan pendekatan baru. “Kesenjangan dalam kepercayaan dan akurasi yang dirasakan yang disorot dalam makalah ini menunjukkan perlunya mendemonstrasikan nilai pendekatan baru secara jelas dan transparan dengan cara yang penting bagi masyarakat,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa edukasi publik dan komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam membangun kepercayaan terhadap teknologi AI.

Met Office sendiri telah menggunakan teknik machine learning dalam prakiraan cuaca selama beberapa tahun. Integrasi AI dalam sistem mereka bukanlah hal baru, namun tingkat penerimaan publik terhadap teknologi ini masih menjadi pertanyaan besar. Survei ini memberikan gambaran penting tentang bagaimana masyarakat memandang teknologi AI dalam konteks layanan publik yang krusial seperti prakiraan cuaca.

Studi lanjutan yang direncanakan akan menjadi langkah penting untuk memantau perubahan sikap publik seiring dengan semakin terintegrasinya AI dalam prakiraan cuaca. Hasil survei ini juga menjadi dasar bagi Met Office untuk merancang strategi komunikasi yang lebih baik dalam memperkenalkan teknologi AI kepada publik.

Ke depan, keberhasilan integrasi AI dalam prakiraan cuaca tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada kemampuan institusi seperti Met Office dalam membangun kepercayaan publik. Transparansi, validasi yang kuat, dan komunikasi yang efektif akan menjadi pilar utama dalam menjembatani kesenjangan kepercayaan ini. Seperti yang ditegaskan Dr Pope, peningkatan dari AI hanya akan terwujud jika publik terus memiliki kepercayaan dan bertindak berdasarkan prakiraan yang mereka lihat.

Survei ini memberikan wawasan berharga bagi pengembangan teknologi AI di sektor publik. Kepercayaan masyarakat menjadi faktor penentu dalam adopsi teknologi baru, dan institusi perlu memperhatikan aspek ini dalam setiap pengembangan dan implementasi teknologi AI. Met Office, dengan penelitian ini, telah mengambil langkah proaktif dalam memahami dan mengatasi tantangan kepercayaan publik terhadap teknologi AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.