📑 Daftar Isi

Ilustrasi AI Claude Opus yang digunakan untuk reverse engineering firmware perangkat periferal

Amazon Engineer Buktikan AI Claude Opus Bisa Retas Perangkat Periferal

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Amazon security engineer Chaz Schlarp menggunakan AI Claude Opus 5 untuk memodifikasi firmware lima perangkat periferal
  • Perangkat yang berhasil diretas: webcam Insta360, mikrofon Shure, monitor Asus, Elgato video capture stick, dan Elgato mini-light
  • Hampir semua perangkat tidak memiliki proteksi integritas firmware yang memadai
  • AI mampu menonaktifkan lampu indikator rekaman webcam dan LED mute mikrofon
  • Proses 'menguasai' kelima perangkat hanya membutuhkan 13 jam kerja AI dengan kurang dari 100 prompt
  • Schlarp juga berhasil mendapatkan root shell pada monitor Dell komersial
  • Ancaman worm bertenaga AI yang bisa mengeksploitasi perangkat IoT dan aksesori secara otomatis

Telset.id – Seorang security engineer Amazon bernama Chaz Schlarp berhasil membuktikan bahwa AI Claude Opus 5 mampu membongkar dan memodifikasi firmware berbagai perangkat periferal seperti webcam dan mikrofon. Eksperimen ini mengungkap ancaman keamanan serius di masa depan, di mana perangkat yang terhubung ke komputer bisa disusupi malware melalui celah firmware yang minim proteksi.

Schlarp, yang menjabat sebagai Senior Security Engineer di Amazon, mendokumentasikan eksperimennya dalam sebuah blog post. Ia menggunakan Claude Opus 5 untuk memodifikasi firmware pada lima perangkat berbeda: webcam Insta360, mikrofon Shure, monitor Asus, Elgato video capture stick, dan Elgato mini-light. Prosesnya terbilang sederhana karena AI melakukan sebagian besar pekerjaan berat.

“Proses saya kurang lebih sama untuk setiap perangkat: ambil salinan firmware dan tool update dari pabrikan, masukkan ke lingkungan reverse engineering saya, beri tahu Claude Opus 5 apa tujuan saya, dan biarkan AI bekerja,” jelas Schlarp dalam tulisannya.

Hasilnya mencengangkan. Hampir semua perangkat yang diuji tidak memiliki proteksi integritas firmware yang memadai. Satu-satunya perangkat yang memiliki pertahanan hanyalah Elgato light, namun celah tersebut mudah ditembus.

Eksperimen ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya mempermudah pekerjaan reverse engineering, tetapi juga membuka peluang bagi aktor jahat untuk mengeksploitasi perangkat periferal dalam skala yang lebih luas.

Modifikasi Firmware yang Mengkhawatirkan

Salah satu demonstrasi yang paling meresahkan adalah kemampuan untuk menonaktifkan lampu indikator perekaman pada webcam. Dalam skenario malware surveillance, pengguna tidak akan menyadari bahwa kameranya merekam secara diam-diam. Schlarp juga berhasil melakukan trik serupa pada mikrofon, di mana lampu LED mute menyala padahal mikrofon sebenarnya tidak dalam keadaan mute.

Shure MV7 microphone

Selain eksploitasi berbahaya, Schlarp juga menemukan utilitas yang berguna. Pada monitor Asus ROG Swift PG42UQ, ia menemukan cara untuk menghilangkan pop-up peringatan yang muncul secara berkala untuk menjalankan proses ‘pixel cleaning’. Ia juga berhasil menjalankan fitur DisplayWidget di sistem Linux, termasuk hardware crosshair dan FPS counter yang bisa diatur melalui hotkey.

“Periferal terbukti menjadi target ideal untuk agentic reverse engineering. Mereka adalah komputer kecil yang terhubung ke komputer utama, dengan koneksi data ke host dan biasanya mekanisme update firmware, sehingga agen AI punya sesuatu untuk diiterasi. Hasil akhirnya adalah kontrol dan pemahaman yang lebih baik atas mesin saya,” ungkap Schlarp.

Yang membuat temuan ini semakin mengkhawatirkan adalah kecepatannya. Untuk ‘menguasai’ kelima periferal tersebut, Claude Opus 5 hanya membutuhkan waktu 13 jam bekerja mandiri dengan kurang dari 100 prompt dari manusia.

Schlarp mencatat bahwa hardware hampir secara universal ‘terbuka’ untuk dioprek saat ini, hanya dengan beberapa jam kerja yang sebagian besar dilakukan mesin secara hands-off. Ia bahkan berhasil mendapatkan root shell pada monitor Dell komersial.

Ancaman Malware Bertenaga AI

Sebagai profesional keamanan, Schlarp mengaku khawatir dengan implikasi temuan ini. Ia menyatakan bahwa sebelumnya, implantasi firmware berbahaya membutuhkan investasi signifikan per model dan identik dengan aktivitas ‘state actor’. Namun kini, dengan kemampuan AI untuk mengerjakan pekerjaan berat, serangan semacam ini bisa menjadi jauh lebih lazim.

“Saya akan bekerja dengan asumsi bahwa perangkat apa pun yang terpasang di komputer bisa saja telah mengalami implantasi firmware berbahaya,” tegas Schlarp.

Ancaman yang lebih besar lagi adalah kemungkinan munculnya worm bertenaga AI yang secara otomatis melakukan reverse engineering semacam ini. Schlarp menjelaskan bahwa hanya butuh lompatan kecil untuk membayangkan malware yang mereplikasi diri, menyelidiki lingkungannya, dan mengirimkan intelijen kembali ke command-and-control yang cerdas untuk mendorong dirinya masuk ke aksesori, perangkat IoT, dan peralatan industri di sekitar target yang terinfeksi.

Trojan horse on top of blocks of hexadecimal programming codes. 3D illustration of the concept of online hacking, computer spyware, malware and ransomware.

Kemudahan yang ditawarkan AI dalam memodifikasi firmware perangkat periferal menjadi pengingat bahwa setiap perangkat yang terhubung ke komputer bisa menjadi pintu masuk serangan. Schlarp menambahkan bahwa meskipun bukan praktik terbaik untuk membiarkan klien yang tidak tepercaya menyentuh perangkat ini, kecepatan dan skala eksekusi yang dimungkinkan AI membuat risikonya jauh lebih tinggi.

Temuan ini sejalan dengan kekhawatiran yang lebih luas tentang potensi ancaman AI terhadap keamanan siber. Eksperimen Schlarp membuktikan bahwa AI tidak hanya berguna untuk tugas-tugas produktif, tetapi juga bisa menjadi alat yang ampuh di tangan aktor jahat.

Ke depannya, pengguna perlu lebih waspada terhadap perangkat periferal yang terhubung ke sistem mereka. Perlindungan integritas firmware yang kuat menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan. Sementara itu, para vendor perangkat keras harus segera mengevaluasi ulang sistem keamanan firmware mereka sebelum eksploitasi berbasis AI menjadi tren yang mengkhawatirkan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.