šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi Alibaba yang diduga melacak pengguna melalui proses audio tersembunyi di platform AliExpress

Alibaba Diduga Lacak Pengguna Lewat Audio Tersembunyi di AliExpress

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Developer Matt Callaghan menemukan skrip collina.js dan fireyejs.js di halaman AliExpress yang memproses audio tersembunyi
  • Skrip menggunakan Web Audio API dengan osilator sawtooth untuk audio fingerprinting tanpa suara yang terdengar
  • Data yang dikumpulkan mencakup dimensi layar, memori, plugin browser, WebGL, dan event mouse
  • Firefox 118 dan Brave memiliki perlindungan terhadap audio fingerprinting
  • Alibaba belum memberikan pernyataan resmi terkait temuan ini
  • Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi pengumpulan data dan kewaspadaan pengguna

Telset.id – Alibaba, raksasa teknologi asal China, dituduh melacak pengguna web setelah seorang developer menemukan proses audio tersembunyi di platform marketplace globalnya yang diduga digunakan untuk audio fingerprinting canggih. Temuan ini berpotensi mengancam privasi jutaan pengguna AliExpress di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Insiden ini bermula ketika Matt Callaghan, seorang developer, sedang menyelidiki masalah pada headphone nirkabelnya. Ia mendapati bahwa membuka halaman web AliExpress di Firefox atau Chrome mengganggu fitur audio Bluetooth multipoint. Padahal, tidak ada media yang sedang diputar di PC-nya, namun audio dari ponselnya berhenti berjalan. Menutup tab AliExpress langsung mengembalikan fungsi audio seperti semula.

Callaghan kemudian melakukan investigasi mendalam. Awalnya, ia memeriksa elemen media konvensional dan tidak menemukan aktivitas mencurigakan. Namun, ia menyadari masalah tidak muncul seketika, melainkan setelah halaman web dibiarkan idle selama beberapa detik. Ia pun mengalihkan perhatian ke Web Audio API dan membungkus konstruktor AudioContext untuk merekam kapan pun halaman membuat konteks pemrosesan audio.

Alibaba

Hasilnya, Callaghan menemukan dua skrip mencurigakan bernama collina.js dan fireyejs.js yang diyakini merupakan bagian dari tool keamanan browser dan anti-penyalahgunaan milik Alibaba. Dengan bantuan AI, ia mengungkap bahwa skrip tersebut membangun grafik Web Audio menggunakan osilator sawtooth untuk menghasilkan gelombang. Sebuah analyzer kemudian mengukur hasil setelah melewati implementasi audio browser, sementara skrip lain membaca data frekuensi yang dihasilkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, skrip tersebut mengatur volume gain menjadi nol, sehingga tidak ada suara yang terdengar. Namun, browser tetap aktif memproses grafik Web Audio. Berbeda dengan video autoplay, tidak ada elemen media yang diputar, sehingga kontrol mute tab tidak berfungsi. Halaman web terus melakukan pemrosesan audio langsung, menjaga jalur audio Bluetooth tetap aktif dan mencegah headphone multipoint beralih antar perangkat.

Investigasi lebih lanjut juga menemukan kode yang mengumpulkan informasi terkait dimensi layar, memori perangkat, plugin browser, rendering WebGL, format audio dan video yang didukung, performa browser, event mouse, dan banyak lagi. Skrip ini juga tampaknya melakukan serialisasi dan enkripsi data yang dikumpulkan sebelum mengirimkannya ke layanan telemetri Alibaba menggunakan fungsi fetch() atau sendBeacon().

Temuan ini memicu respons dari pengembang browser. Firefox melalui akun X menyatakan bahwa browser mereka memiliki perlindungan bawaan terhadap fingerprinting. Mereka merujuk pada blog post yang menjelaskan bahwa Firefox 118, yang dirilis September 2023, telah memperkenalkan perlindungan tambahan terhadap fingerprinting berbasis Web Audio. Sementara itu, Brave mengklaim memblokir audio fingerprinting secara default dengan menyuntikkan data acak ke output audio browser, membuat fingerprint tampak berbeda untuk setiap situs web dan mereset data antar sesi.

Implikasi Privasi dan Keamanan Pengguna

Temuan Callaghan ini menyoroti praktik tersembunyi yang berpotensi melanggar privasi pengguna. Audio fingerprinting adalah teknik pelacakan yang memanfaatkan karakteristik unik perangkat keras audio untuk mengidentifikasi dan melacak pengguna secara online. Dengan memproses grafik Web Audio secara diam-diam, Alibaba diduga dapat mengumpulkan data fingerprint yang sangat spesifik tanpa sepengetahuan pengguna.

Meskipun Alibaba menyatakan skrip tersebut sebagai bagian dari sistem keamanan dan anti-penyalahgunaan, metode yang digunakan menimbulkan pertanyaan etis. Pengguna tidak diinformasikan tentang pemrosesan audio tersembunyi ini, dan tab mute tidak dapat menghentikannya. Ini menjadi perhatian serius bagi siapa pun yang menggunakan AliExpress, terutama di Indonesia yang memiliki basis pengguna e-commerce besar.

Bagi pengguna yang khawatir, langkah-langkah mitigasi dapat diambil, seperti menggunakan browser dengan perlindungan fingerprinting bawaan atau ekstensi privasi. Namun, efektivitasnya mungkin terbatas mengingat skrip ini berjalan di level halaman web.

Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap praktik pelacakan tersembunyi di platform populer. Perusahaan teknologi perlu transparan tentang data apa yang mereka kumpulkan dan bagaimana data tersebut digunakan. Regulator di berbagai negara mungkin perlu meninjau kembali kebijakan privasi digital mengingat teknik pelacakan yang semakin canggih dan tersembunyi.

Sebagai informasi tambahan, ini bukan pertama kalinya Alibaba menghadapi sorotan terkait kebijakan platformnya. Sebelumnya, AliExpress didenda karena gagal memberantas produk ilegal. Kasus terbaru ini menambah daftar panjang kekhawatiran privasi dan kepatuhan yang dihadapi perusahaan asal China tersebut.

Ke depannya, pengguna diharapkan lebih kritis terhadap izin dan aktivitas yang terjadi di balik layar browser mereka. Temuan ini juga mendorong diskusi lebih luas tentang batas antara keamanan dan privasi dalam lanskap digital modern. Meskipun Alibaba mungkin memiliki niat baik dalam melindungi platformnya dari penyalahgunaan, metode yang tidak transparan justru dapat merusak kepercayaan pengguna.

Para ahli keamanan merekomendasikan agar pengguna secara berkala memeriksa aktivitas jaringan dan proses yang berjalan di browser mereka. Alat pengembang seperti DevTools dapat membantu mengidentifikasi skrip mencurigakan. Kesadaran dan edukasi pengguna menjadi pertahanan pertama terhadap praktik pelacakan tersembunyi semacam ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Alibaba mengenai temuan Callaghan. Namun, komunitas keamanan siber global telah menaruh perhatian besar pada kasus ini. Publik menantikan klarifikasi dari Alibaba dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi kekhawatiran privasi yang muncul.

Digital fingerprint

Kasus ini juga menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara keseluruhan. Transparansi dalam pengumpulan data dan kepatuhan terhadap regulasi privasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Perusahaan yang gagal memenuhi standar ini berisiko kehilangan kepercayaan pengguna dan menghadapi konsekuensi hukum di berbagai yurisdiksi.

Bagi pengguna AliExpress di Indonesia, temuan ini menjadi pengingat untuk selalu waspada terhadap aktivitas digital yang tidak terlihat. Meskipun platform ini menawarkan kemudahan belanja online, privasi pengguna harus tetap menjadi prioritas utama. Menggunakan browser dengan fitur keamanan kuat dan secara rutin membersihkan data browsing adalah langkah awal yang bijak.

Kita akan terus memantau perkembangan kasus ini dan memberikan informasi terbaru seputar berita teknologi lainnya. Pantau terus Telset.id untuk mendapatkan kabar terbaru seputar dunia digital dan keamanan siber.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.