📑 Daftar Isi

Ilustrasi serangan siber ShinyHunters terhadap pusat data CyrusOne dengan latar belakang keamanan jaringan

ShinyHunters Target CyrusOne, Minta Tebusan Rp209 Miliar

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Kelompok ransomware ShinyHunters menambahkan CyrusOne, operator pusat data AS, ke daftar korban mereka
  • Klaim pencurian mencakup 12,9 juta catatan Salesforce, 600GB data SharePoint, dan 8.300 catatan karyawan berisi PII
  • Data sensitif yang dicuri termasuk denah lantai pusat data, diagram kelistrikan, catatan kontrol akses, dan inventaris kunci fisik
  • ShinyHunters meminta tebusan $13 juta (sekitar Rp209 miliar) untuk menghapus data yang dicuri
  • CyrusOne belum memberikan komentar dan tampaknya tidak tertarik bernegosiasi
  • CyrusOne mengoperasikan 50 fasilitas di AS dan melayani klien besar seperti Microsoft, Meta, Verizon, AT&T, IBM, dan CME Group
  • Data pelanggan yang dicuri berpotensi digunakan untuk serangan phishing terarah dan serangan rantai pasokan
  • Kelompok ini pertama kali menambahkan CyrusOne pada 20 Agustus 2026, nama korban dibuka pada 23 Agustus 2026

Telset.id – Kelompok ransomware ShinyHunters kembali membuat geger dengan menambahkan CyrusOne, operator pusat data besar asal Amerika Serikat, ke dalam daftar korban mereka. Mereka mengklaim telah mencuri 12,9 juta catatan Salesforce dan 600 GB data SharePoint, lalu meminta tebusan senilai $13 juta atau sekitar Rp209 miliar. Jika klaim ini terbukti benar, insiden ini berpotensi menjadi salah satu pelanggaran data paling menghancurkan yang pernah terjadi.

ShinyHunters mengklaim telah mengeksfiltrasi sejumlah data sensitif dari CyrusOne. Data tersebut mencakup lebih dari 182.000 baris dari objek Salesforce Contacts, lebih dari 8.300 catatan karyawan yang berisi informasi identitas pribadi (PII), kontrak yang telah dieksekusi, master service agreement, NDA, dan perjanjian layanan. Yang lebih mengkhawatirkan, kelompok ini juga mengklaim memiliki denah lantai pusat data, diagram kelistrikan, catatan kontrol akses, audit lencana, inventaris kunci fisik, kebijakan keamanan, hingga berbagai kata sandi dan artefak kredensial.

Hingga saat ini, ShinyHunters belum memposting sampel data yang dicuri. Para peneliti menilai hal ini bukanlah sesuatu yang mencurigakan, melainkan sebagai taktik tekanan terhadap CyrusOne. Kelompok peretas tersebut memberikan tenggat waktu bagi CyrusOne untuk merespons tuntutan mereka, namun tampaknya operator pusat data itu belum menunjukkan minat untuk bernegosiasi.

Ancaman Keamanan Fisik yang Tidak Bisa Ditambal

Yang membuat serangan ini berbeda dari kasus ransomware lainnya adalah jenis data yang berhasil dicuri. Denah lantai pusat data, diagram kelistrikan, catatan kontrol akses, audit lencana, dan inventaris kunci fisik adalah informasi yang tidak bisa begitu saja diganti. Data intelijen semacam ini dapat digunakan untuk melakukan pelanggaran fisik terhadap fasilitas pusat data.

Jika para penjahat mengetahui bagaimana kunci dialokasikan, bagaimana pusat data diorganisir, di mana kamera pengawas berada, dan bagaimana petugas keamanan beroperasi, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk membobol secara fisik. Para peneliti memperingatkan bahwa “Anda tidak bisa menambal bangunan,” mengindikasikan bahwa beberapa hal yang bisa diubah, seperti kunci fisik dan zona akses, tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan dan biaya yang tidak sedikit.

Data center

CyrusOne mengoperasikan sekitar 50 fasilitas di seluruh Amerika Serikat dan melayani ratusan perusahaan. Beberapa kliennya termasuk perusahaan Fortune 1000, serta nama-nama besar teknologi seperti Microsoft, Meta, Verizon, AT&T, IBM, dan CME Group. Fakta bahwa ShinyHunters juga mencuri informasi tentang pelanggan CyrusOne, seperti Meta atau Microsoft, memperparah situasi yang sudah rumit ini.

Informasi tentang lokasi pelanggan tertentu, layanan yang mereka bayar, NDA, perjanjian tingkat layanan, dan informasi kontak, semuanya dapat digunakan untuk serangan phishing yang sangat terarah. Para peneliti menambahkan bahwa “kontrak, MSA, dan NDA mengidentifikasi penyewa sebagai daftar pelanggan yang dilapiskan pada peta bangunan, dengan harga dan SLA yang dilampirkan.” Hal ini bisa mengubah insiden ini menjadi serangan rantai pasokan pihak ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kronologi dan Respons CyrusOne

ShinyHunters pertama kali menambahkan CyrusOne ke situs mereka pada 20 Agustus 2026, meskipun pada saat itu nama korban masih disamarkan. Sebagai gantinya, ShinyHunters memposting peringatan yang berbunyi “Peringatan terakhir – bayar atau bocorkan.” Perusahaan diberikan waktu hingga 24 Agustus untuk menghubungi mereka, namun tampaknya hal itu tidak terjadi.

Tiga hari kemudian, pada 23 Agustus, ShinyHunters secara publik menyebut CyrusOne sebagai korban mereka dan menyatakan bahwa mereka menuntut $13 juta untuk file-file tersebut. “Mereka menolak membayar tuntutan $13 juta. Mereka punya waktu 24 jam lagi untuk terlibat dengan kami. Kami memegang 12,9 juta catatan Salesforce,” tulis para penyerang.

Saat ini, tenggat waktu telah jauh terlewati dan tidak ada yang berubah. Korban belum angkat bicara, dan ShinyHunters belum membocorkan file-file tersebut. CyrusOne juga belum memberikan komentar resmi mengenai klaim ini.

hacker hands at work with interface around

Selain data yang telah disebutkan, ShinyHunters juga tampaknya mencuri informasi tentang proses daya, pendinginan, dan keandalan lingkungan kritis perusahaan. Data ini dapat digunakan untuk menyerang server secara fisik, menyebabkan gangguan, pemadaman, dan bahkan kebakaran. Ini menambah lapisan ancaman baru yang sangat serius bagi operasional CyrusOne dan pelanggannya.

Insiden ini menunjukkan bahwa kelompok ShinyHunters terus menjadi ancaman serius di dunia maya. Sebelumnya, kelompok yang sama juga mengklaim telah membobol Oracle PeopleSoft di lebih dari 100 organisasi dan menyerang berbagai perusahaan besar lainnya. Bahkan Rockstar Games juga pernah menjadi korban kelompok peretas ini.

Kasus CyrusOne ini menjadi pengingat bahwa keamanan siber tidak hanya tentang melindungi data digital, tetapi juga melindungi infrastruktur fisik yang mendukungnya. Bagi perusahaan yang mengandalkan layanan pusat data pihak ketiga, insiden ini menunjukkan pentingnya memahami risiko keamanan dari vendor yang mereka gunakan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.