Telset.id – Seorang peneliti keamanan berusia 22 tahun dengan nama samaran “Zerotistic” berhasil mendaftarkan perangkat Linux biasa sebagai node tepercaya di jaringan Find My milik Apple. Temuan ini membuka akses ke data lokasi real-time yang selama ini hanya dibagikan Apple kepada perangkatnya sendiri, seperti iPhone dan iPad.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa batas keamanan ekosistem Find My Apple bukanlah kunci kriptografi yang kuat, melainkan sekadar protokol yang tidak jelas. Zerotistic berhasil membongkar protokol tersebut dalam waktu kurang dari seminggu, tanpa memerlukan jailbreak, kunci bocor, atau bahkan perangkat Mac.
Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa ini bukanlah eksploitasi pengawasan massal. Teknik yang digunakan terbatas cakupannya dan hanya bisa membaca data lokasi yang sudah dibagikan oleh seorang teman yang menyetujui proses tersebut. Sistem ini tidak dapat secara diam-diam melacak pengguna Apple secara acak.

Find My adalah alat serbaguna Apple untuk melacak perangkat keras seperti AirTags, iPhone, dan iPad. Fitur ini juga memungkinkan pengguna berbagi keberadaan mereka dengan keluarga dan teman. Apple selama ini menjaga ketat fitur berbagi lokasi ini, dan justru fitur inilah yang menjadi target peneliti untuk memperkenalkan perangkat yang tidak sepenuhnya dikendalikan Apple ke dalam ekosistemnya.
Proses Panjang Membobol Protokol Find My
Tugas ini bukanlah perkara mudah. Meyakinkan server backend Apple bahwa proses Linux adalah perangkat Apple yang sah dan dapat dipercaya untuk menerima informasi melalui platform Find My membutuhkan banyak trial and error. Penting untuk digarisbawahi bahwa sistem Apple tidak benar-benar dikompromikan; pendekatan ini tetap membutuhkan seorang teman yang membagikan data yang kemudian bisa dibaca oleh klien Linux yang dibuat peneliti.
Apple saat ini mengirimkan data lokasi seseorang melalui layanan Push Notification privat hanya setelah yakin bahwa mesin penerima terdaftar pada akun tersebut dan mampu memproses data. Ini berarti mesin Linux harus berbicara dalam bahasa privat Apple untuk bisa melakukan query ke server dan memproses informasi yang diterima.
Prosesnya melibatkan perolehan sertifikat Apple Identity Services (IDS), sebuah kredensial khusus perangkat dan pesan yang digunakan kerangka kerja internal Apple untuk menghubungkan Apple Account ke perangkat keras tertentu, kunci enkripsi end-to-end, dan token push notification. Ini berarti peneliti harus membuat certificate signing request dan mengirimkannya ke endpoint pendaftaran lama Apple.
Setelah selesai, sebuah kotak Linux dengan sertifikat yang ditandatangani dapat menandatangani permintaannya sendiri dan mendaftar sebagai perangkat Find My. Namun, perangkat tersebut masih harus berlangganan enam subservice berbeda agar bisa berfungsi. Permintaan pendaftaran juga harus ditandatangani menggunakan sertifikat IDS dan sertifikat APNs yang diperoleh selama pengaturan jaringan awal.
Baca Juga:
Peneliti kemudian mengeluarkan permintaan SubscribeAndFetch yang memberikan kunci lokasi terenkripsi dari perangkat Apple milik temannya ke kotak Linux yang menyamar sebagai perangkat Apple. Yang mungkin mengkhawatirkan Apple adalah seberapa cepat semuanya terjadi: seluruh proses ini selesai hanya dalam satu minggu.
Teknik ini juga tidak memerlukan jailbreak, kunci yang bocor, atau bahkan Mac. Sebagai gantinya, peneliti menggunakan klien open-source dan daemon yang didekompilasi, dengan pendekatan trial-and-error yang akhirnya membuahkan hasil. Ini menunjukkan bahwa batas keamanan Find My berasal dari protokol yang tidak jelas yang diberlakukan Apple, bukan kunci kriptografi. Begitu sebuah perangkat bertindak seperti perangkat Apple, ekosistem memperlakukannya sebagai anggota keluarga, bukan node yang tidak tepercaya.
Keterbatasan Teknik dan Respons Apple
Teknik ini memiliki keterbatasan: serangan tidak dapat menargetkan orang asing, dan persetujuan diperlukan bahkan untuk melacak teman sendiri. Meskipun demikian, temuan ini membuka wawasan tentang bagaimana keamanan sistem yang tampaknya kuat bisa ditembus dengan pendekatan yang relatif sederhana.

Hingga saat ini, Apple belum memberikan respons terhadap pertanyaan media mengenai apakah mereka berencana untuk mengatasi trik yang telah didemonstrasikan ini atau menambal celah tersebut dalam waktu dekat. Sikap diam ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa serius Apple menanggapi temuan yang berkaitan dengan keamanan privasi penggunanya.
Bagi pengguna Apple, temuan ini sebenarnya tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan. Teknik yang digunakan membutuhkan persetujuan dari pemilik data, sehingga risiko pelanggaran privasi massal masih rendah. Namun, temuan ini tetap menjadi pengingat bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal terhadap upaya eksplorasi keamanan yang tekun.

Yang menarik dari temuan ini adalah kecepatan dan kesederhanaan prosesnya. Seorang peneliti independen mampu membongkar protokol yang dijaga ketat Apple hanya dalam beberapa hari, menggunakan perangkat keras yang relatif murah dan perangkat lunak open-source. Ini menunjukkan bahwa hambatan masuk untuk mengeksplorasi keamanan ekosistem Apple mungkin lebih rendah dari yang diperkirakan banyak orang.
Meskipun Apple dikenal dengan pendekatan keamanannya yang ketat, temuan ini menunjukkan bahwa ada celah yang bisa dieksploitasi oleh peneliti yang tekun. Namun, perlu ditegaskan kembali bahwa teknik ini tidak memungkinkan pelacakan tanpa persetujuan, sehingga risiko langsung bagi pengguna umum masih terbatas.
Ke depannya, Apple mungkin perlu mempertimbangkan untuk memperkuat protokol Find My-nya atau setidaknya merespons temuan ini secara terbuka. Sikap diam yang ditunjukkan Apple sejauh ini mungkin justru memicu lebih banyak peneliti untuk mencoba mengeksplorasi celah serupa, mengingat tidak ada indikasi bahwa perusahaan akan segera menambal kerentanan ini.





Komentar
Belum ada komentar.