📑 Daftar Isi

Ilustrasi deteksi drone menggunakan jaringan 5G komersial

NATO dan AT&T Uji Deteksi Drone Lewat Jaringan 5G Komersial

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • NATO menguji deteksi drone via menara 5G di Latvia dalam latihan DiBaX 2026 pada 19–30 Oktober
  • Solusi DiBaX 2026 dirancang agen AI untuk mengatasi hambatan interoperabilitas antar sistem
  • AT&T dan Ericsson mendemonstrasikan deteksi drone lewat 5G di luar AT&T Stadium, Arlington, Texas
  • Drone terdeteksi pada ketinggian 300–400 kaki dalam area cakupan
  • Teknologi sensing ini disebut sebagai cuplikan awal 6G yang menggabungkan komunikasi dan sensing
  • Pemanfaatan menara komersial dinilai berguna untuk pertahanan dengan investasi tambahan minim

Telset.id – Militer mulai melirik pemanfaatan jaringan komunikasi 5G komersial untuk memperkuat kemampuan pengawasan medan tempur, khususnya dalam mendeteksi drone. Dua contoh penggunaan ulang infrastruktur komunikasi yang sudah ada untuk deteksi drone kini menjadi sorotan: uji coba NATO di Latvia dan demonstrasi AT&T bersama Ericsson di Amerika Serikat.

Langkah ini menunjukkan bahwa menara 5G yang selama ini melayani kebutuhan telekomunikasi publik berpotensi mendapat fungsi tambahan sebagai sensor pertahanan. Drone dan kemampuan pertahanan anti-drone memang semakin vital dalam konflik bersenjata saat ini dan mulai ditangani secara serius di berbagai belahan dunia.

Perkembangan di ranah ini bergerak cepat, terutama di Rusia, Ukraina, dan juga Timur Tengah sepanjang tahun ini. Jika militer dapat memanfaatkan jaringan seluler yang tersebar luas di hampir semua negara untuk keperluan sensing drone, hal itu disebut sebagai keuntungan yang jelas. Namun, muncul kekhawatiran bahwa menara 5G justru akan menjadi target yang semakin menarik.

Uji Coba NATO di Latvia

Di Latvia, NATO menjalankan latihan Digital Backbone Experimentation atau DiBaX 2026. Antara 19 hingga 30 Oktober, organisasi tersebut menyelidiki apakah menara 5G dapat secara pasif mendeteksi dan melacak objek terbang, khususnya drone. Jika uji coba berhasil, jaringan telekomunikasi berskala besar yang sudah ada bisa mendapat tujuan tambahan, yakni memperkuat keamanan nasional. Selain itu, NATO akan memperoleh ketahanan terhadap gangguan berkat keberadaan berbagai jaringan, satelit, dan lainnya.

Solusi yang diuji NATO disebut dirancang oleh agen AI. “Kami memiliki sistem terhubung yang tidak pernah dirancang untuk berkomunikasi satu sama lain, menggunakan kecerdasan artifisial untuk mengatasi hambatan interoperabilitas,” kata Admiral Pierre Vandier, Supreme Allied Commander Transformation NATO. “Ini pertama kalinya kami memiliki, misalnya, sistem Maven yang berbicara dengan sistem nasional, dan itu diperbaiki dalam hitungan jam dengan Agentic AI.”

Tiga metode pemanfaatan 5G komersial diuji di negara Baltik tersebut, yang menjalankan latihan bersama Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Finlandia, Lithuania, dan sekutu lainnya. Sebagian pengujian diakui gagal, tetapi ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, ada pelajaran penting yang bisa diambil.

Demonstrasi AT&T dan Ericsson di Texas

Di Amerika Serikat, AT&T dan Ericsson mendemonstrasikan “deteksi drone menggunakan network sensing canggih melalui jaringan 5G” di dekat sebuah venue olahraga besar. Demonstrasi berlangsung di luar AT&T Stadium, Arlington, Texas. Ini disebut sebagai cuplikan awal dari teknologi 6G, yang secara resmi mencakup komunikasi sekaligus sensing.

Menurut keterangan resmi yang dikutip, sistem ini mampu mendeteksi dan menemukan lokasi beberapa drone, lalu melacak pergerakannya. Drone-drone tersebut terbang pada ketinggian antara 300 hingga 400 kaki di dalam area cakupan. Venue olahraga tampaknya dipilih untuk demonstrasi karena tempat seperti itu berpotensi menjadi target teroris dan sejenisnya.

Salah satu potensi keunggulan teknologi sensing ini adalah kemampuannya “mendukung tingkat baru deteksi dan pelacakan ancaman ketinggian rendah di sekitar venue besar, ruang publik, dan lingkungan kompleks lainnya.”

Detecting drones

Dengan dua eksperimen di atas memberikan hasil yang menjanjikan, jaringan sensing drone berbasis 5G (dan 6G) yang menumpang pada menara komersial tampak akan benar-benar berguna untuk pertahanan, dengan tambahan investasi yang minim. Pendekatan ini memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun untuk keperluan lain, sehingga fungsi pengawasan bisa diperluas tanpa harus membangun jaringan khusus dari nol.

Konsep sensing berbasis jaringan seluler juga sejalan dengan arah pengembangan teknologi komunikasi generasi berikutnya. Jika 6G secara resmi menggabungkan komunikasi dan sensing, maka kemampuan deteksi objek terbang seperti drone bisa menjadi bagian melekat dari infrastruktur telekomunikasi masa depan, bukan lagi perangkat tambahan yang terpisah.

A multirotor drone flying over a snow-covered clearing.

Bagi industri pertahanan, hasil dua uji coba ini memperlihatkan bahwa jaringan 5G komersial dapat difungsikan sebagai lapisan pengawasan tambahan. Di sisi lain, ketergantungan pada infrastruktur publik untuk keperluan militer memunculkan pertimbangan tersendiri, terutama soal kerentanan menara 5G sebagai aset yang bernilai strategis.

Pengujian di Latvia dan demonstrasi di Texas menjadi bukti awal bahwa pemanfaatan menara komersial untuk deteksi drone bukan sekadar konsep. Keduanya menunjukkan pendekatan yang memanfaatkan jaringan yang sudah ada, dengan tambahan investasi yang minim, untuk memperluas kemampuan pengawasan di ruang udara rendah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.