πŸ“‘ Daftar Isi

Petugas bea cukai Malaysia mengamankan server berisi chip AI canggih yang disita di Bandara Internasional Kuala Lumpur.

Malaysia Sita Chip AI Selundupan Senilai Rp200 Miliar di Bandara KLIA

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Bea Cukai Malaysia menyita 30 server berisi chip AI senilai lebih dari 12 juta dolar AS di KLIA pada 15 Oktober
  • Server dideklarasikan palsu sebagai barang elektronik biasa, diduga untuk transit ke tujuan Asia lain
  • Jaringan terkait telah dikaitkan dengan penyitaan lebih dari 25 juta dolar AS di setidaknya lima kasus
  • Sebelumnya pada 5 Juni, 72 unit server senilai sekitar 13 juta dolar AS disita di lokasi yang sama
  • Malaysia memberlakukan kontrol ekspor chip AI asal AS atas permintaan Washington

Telset.id – Bea Cukai Malaysia menyita chip AI canggih senilai lebih dari 12 juta dolar AS (49,5 juta ringgit Malaysia) dalam satu penggerebekan tunggal, saat negara itu memperketat pengawasan terhadap dugaan sindikat penyelundupan semikonduktor. Mengutip laporan Reuters pada 28 Oktober, petugas menemukan 30 server berisi chip tersebut di kawasan perdagangan bebas Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) pada 15 Oktober.

Penyitaan chip AI ini menjadi bagian dari rangkaian pengungkapan yang lebih besar. Investigasi awal mengungkap bahwa pengiriman tersebut berasal dari sebuah negara Asia dan ditujukan ke negara Asia lain yang tidak diungkap identitasnya. Otoritas menilai skema ini memanfaatkan Malaysia sebagai titik transit untuk menghindari pembatasan perpindahan barang ke tujuan akhir.

Direktur Bea Cukai bandara, Aspalila Ag Tuah, mengonfirmasi bahwa server tersebut dideklarasikan secara palsu sebagai barang elektronik biasa. Perusahaan Malaysia yang terlibat dalam pengiriman itu telah dipanggil untuk membantu penyelidikan. β€œJaringan ini telah dikaitkan dengan penyitaan senilai lebih dari 25 juta dolar AS sejauh ini di setidaknya lima kasus,” ujar Aspalila, dikutip dari Reuters.

Pola Penyelundupan Berulang di KLIA

Penyitaan terbaru ini bukan insiden pertama. Pada 5 Juni, petugas bea cukai menemukan 72 unit server berisi chip AI canggih di Bandara Internasional Kuala Lumpur dengan nilai sekitar 13 juta dolar AS. Pengiriman itu juga dideklarasikan secara palsu sebagai komponen komputer dan dimaksudkan untuk dikirim ulang tanpa izin yang diperlukan.

Otoritas menduga upaya penyelundupan yang digagalkan kali ini dilakukan oleh kelompok yang sama dengan percobaan serupa pada Juni lalu. Aspalila menolak memberikan informasi lebih lanjut mengenai jaringan tersebut maupun kasus terkini, dengan alasan penyelidikan masih berlangsung.

Nvidia server GPUs

Sejumlah fakta kunci masih belum diketahui, termasuk jenis chip, negara pembuatan, tujuan akhir, dan penerima yang dimaksud, apakah sebuah perusahaan atau organisasi militer. Amerika Serikat telah menerapkan kontrol ekspor terhadap perpindahan chip AI canggih buatan Nvidia dan chip AI asal AS lainnya ke China, yang menjadi tujuan paling mungkin bagi chip yang disita tersebut.

Jaringan penyelundupan mulai menggunakan Malaysia, sekutu AS yang tidak terdampak kontrol tersebut, sebagai hub. Chip terlarang diekspor ke negara itu sebelum dikirim ulang ke China. Meski lokasi geografis dan infrastruktur logistik yang matang membuat Malaysia penting bagi perdagangan internasional yang sah, karakteristik tersebut juga menjadikannya ideal untuk penyelundupan teknologi sensitif.

Malaysia Perketat Kontrol Ekspor Chip AI

Untuk membatasi celah ini, Malaysia kemudian memberlakukan kontrol ekspor terhadap perpindahan chip AI canggih asal AS, atas permintaan Washington. Sekutu AS lainnya di Asia, seperti Singapura dan Taiwan, telah menerapkan kontrol serupa. Langkah ini menempatkan Malaysia dalam jajaran negara yang memperketat pengawasan terhadap pergerakan teknologi sensitif.

Permintaan terhadap GPU Nvidia yang bertenaga tetap tinggi di China, memicu pasar yang berkembang pesat untuk perangkat keras selundupan. Kondisi ini menjelaskan mengapa jaringan penyelundupan terus mencari jalur alternatif, termasuk memanfaatkan Malaysia sebagai titik transit sebelum chip dikirim ke tujuan akhir.

Kasus penyitaan ini memperlihatkan bagaimana tekanan kontrol ekspor AS terhadap China mendorong munculnya rute-rute baru dalam perdagangan chip AI. Malaysia, dengan posisi strategisnya, berada di persimpangan antara kepentingan perdagangan sah dan risiko penyalahgunaan sebagai jalur penyelundupan. Otoritas Malaysia menyatakan penyelidikan masih berlanjut untuk mengungkap jaringan yang lebih luas di balik setidaknya lima kasus penyitaan dengan nilai total melebihi 25 juta dolar AS.

Bagi pelaku industri, rangkaian penyitaan ini menegaskan bahwa pengawasan terhadap pergerakan chip AI canggih semakin ketat di kawasan Asia Tenggara. Perusahaan yang terlibat dalam pengiriman komponen elektronik dan server perlu memastikan deklarasi barang sesuai ketentuan, mengingat otoritas bea cukai kini memperhatikan pola pengiriman yang mencurigakan di kawasan perdagangan bebas bandara.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.