📑 Daftar Isi

Router TP-Link Archer dalam sorotan terkait temuan FCC soal tingkat daya

TP-Link Kena Tuding FCC soal Daya Router, Wi-Fi 8 Terancam Tak Masuk AS

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • FCC menuding TP-Link mencantumkan informasi keliru soal tingkat daya pada empat model router, termasuk Archer kelas atas
  • Tiga dari empat router yang diperiksa memiliki penggunaan daya melebihi batas yang diizinkan
  • Uji FCC mencakup EMC, RF emissions, dan kepatuhan keamanan nasional
  • TP-Link menyatakan dukungan terhadap FCC dan siap menyelesaikan pertanyaan teknis
  • Kompetitor seperti Amazon, Asus, dan Netgear sudah memperoleh persetujuan bersyarat di AS
  • TP-Link memindahkan kantor pusat AS ke California dan mengumumkan joint venture $1 miliar dengan Key Tronic

Telset.id – TP-Link kembali menghadapi hambatan dalam upayanya mendapatkan persetujuan bersyarat dari Federal Communications Commission (FCC). Otoritas komunikasi Amerika Serikat itu menuding TP-Link mencantumkan informasi keliru soal tingkat daya pada router-nya, dan temuan ini menjadi penghalang terbaru bagi TP-Link untuk menjual produk Wi-Fi 8 di pasar AS.

Dalam surat tertanggal 15 Oktober 2026, FCC Office of Engineering and Technology menyampaikan klaim serius terhadap praktik pelaporan TP-Link. FCC menuduh TP-Link “included false or incorrect information in its applications” terkait otorisasi peralatan untuk empat model router, termasuk router Archer kelas atas.

Tiga Router Melebihi Batas Daya

Selain dugaan informasi produk yang tidak akurat, FCC menemukan bahwa tiga dari empat router yang diperiksa memiliki tingkat penggunaan daya lebih tinggi dari batas yang diizinkan. Temuan ini memperberat posisi TP-Link, terutama karena perusahaan perlu memenuhi setiap persyaratan secara ketat di tengah pemerintahan Trump yang semakin skeptis terhadap keterkaitan masa lalu dan motif TP-Link.

TP-Link Router Render

Uji yang dijalankan FCC untuk router mencakup evaluasi electromagnetic compatibility (EMC), radio frequency (RF) emissions, dan kepatuhan keamanan nasional. Aspek terakhir menjadi titik ganjalan besar antara FCC dan U.S. Department of Defense, mengingat meluasnya perangkat jaringan TP-Link di lingkungan sipil maupun pemerintahan.

Baca Juga:

Tekanan terhadap TP-Link tidak hanya datang dari FCC. Anggota Kongres dan sejumlah state attorneys general telah menyampaikan keluhan kepada TP-Link atas dugaan pelanggaran privasi konsumen dan keterkaitan dengan Tiongkok. Sementara itu, kompetitor seperti Amazon, Asus, dan Netgear justru telah lolos pemeriksaan kepatuhan dan memperoleh persetujuan bersyarat untuk menjual produk nirkabel di AS.

Untuk mendekati pemerintah AS, TP-Link telah melakukan sejumlah langkah signifikan. Perusahaan memindahkan kantor pusatnya di AS ke California. Pada awal bulan yang sama, TP-Link mengumumkan joint venture senilai $1 miliar dengan Key Tronic untuk memproduksi router Wi-Fi 8 di AS.

TP-Link Archer 8

Menanggapi temuan FCC, TP-Link memberikan pernyataan resmi. Perusahaan menyebut pemeriksaan acak sebagai praktik standar FCC di industri elektronik konsumen selama bertahun-tahun, dan hasil uji produk individual kadang dapat berbeda.

“Routine spot checks have been a standard FCC practice across the consumer electronics industry for many years, and individual product test results can occasionally vary. TP-Link Systems fully supports the FCC’s Office of Engineering and Technology and its role of ensuring that all manufacturers adhere to prescribed specifications for their certified products. We remain fully committed to working collaboratively with the FCC to resolve any technical questions that arise — and if necessary, address any confirmed technical issues as swiftly as possible,” ujar TP-Link dalam pernyataannya.

Meski begitu, TP-Link kemungkinan masih membutuhkan upaya lebih besar untuk melunakkan FCC, yang sejauh ini belum memberikan lampu hijau. Langkah perusahaan membuka preorder global untuk router Wi-Fi 8 pertamanya juga belum membuka akses ke pasar AS akibat hambatan ini.

Bagi pengguna yang memantau dinamika kebijakan teknologi dan persaingan perangkat jaringan, perkembangan kasus ini menunjukkan bagaimana kepatuhan regulasi menjadi faktor penentu masuknya produk ke pasar tertentu. Sejumlah isu privasi dan keamanan data juga tengah menjadi sorotan di platform lain, seperti yang tergambar dalam Link Share Muse Bocor.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.