📑 Daftar Isi

Ilustrasi engineer Amazon bekerja dengan alat AI di depan layar kode dan dasbor metrik token

Amazon Larang Engineer Tokenmaxxing, Ukur Hasil Kerja Bukan Pemakaian AI

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Amazon melarang praktik tokenmaxxing lewat panduan engineering 27 Oktober
  • Metrik adopsi AI, token, dan code review disebut "deeply flawed" bila lepas dari hasil
  • Amazon memilih tolok ukur hasil jangka panjang, bukan jumlah pemakaian
  • Leaderboard internal ditutup pada Mei setelah dimanipulasi karyawan
  • Uber, Accenture, dan OpenAI juga soroti biaya token yang membengkak

Telset.id – Amazon meminta para engineer-nya berhenti mengejar tingginya angka pemakaian AI hanya agar terlihat produktif. Dalam panduan engineering yang diperbarui pada 27 Oktober, perusahaan menegaskan bahwa konsumsi token yang lebih banyak tidak sama dengan nilai kerja yang lebih besar, dan menyebut metrik seperti tingkat adopsi AI, konsumsi token, perubahan kode, hingga code review sebagai “deeply flawed” bila dilepaskan dari hasil nyata.

Kebijakan ini menyasar praktik yang disebut tokenmaxxing, yaitu upaya karyawan sengaja memperbesar pemakaian AI agar tampak produktif di dasbor internal. Amazon menyatakan metrik semacam itu, ketika dijadikan target, justru mendorong perilaku boros yang bertentangan dengan prinsip “frugality and simplicity” perusahaan, serta berpotensi menaikkan biaya komputasi dan kompleksitas perangkat lunak.

Meski melarang pengejaran angka, Amazon tidak meninggalkan AI. Perusahaan justru menegaskan bahwa AI akan tetap berada di pusat praktik rekayasa perangkat lunak. “We are certain that whatever future best practices are, AI will be at the center of software engineering practice,” tulis Amazon dalam panduannya.

Dari Tokenmaxxing ke “Renaissance Developer”

Panduan tersebut juga memperkenalkan gagasan “Renaissance Developer”, yaitu engineer yang mampu memadukan alat AI dengan pertimbangan manusia dan keahlian domain “to build entirely new things”. Dalam memo berjudul “An update from Amazon engineering leadership on the role of the developer in the age of AI” yang ditulis Terk Terkowitz, Amazon VP/Distinguished Engineer, Worldwide, perusahaan menyebut bahwa AI mengubah pekerjaan software engineering “more quickly and more fundamentally than these previous trends”.

Karena itu, Amazon mengarahkan fokus pada hal yang tidak berubah seiring evolusi peran Software Development Engineer (SDE). Tolok ukur yang dipilih perusahaan adalah hasil jangka panjang. “We believe that it is best to measure, and be measured by, long-term outcomes,” tulis Amazon. Data pemakaian tetap boleh dilihat, tetapi harus dibaca “with care and judgment” bersama indikator lain.

Amazon bahkan menyarankan manajer mengamati dua ujung sekaligus: tim yang paling sedikit memakai AI dan tim yang paling banyak memakainya. Tujuannya untuk menilai apakah adopsi benar-benar berujung pada pengiriman kerja yang lebih baik. Perusahaan juga menegaskan tidak menerapkan batas token kepada karyawannya.

Leaderboard Ditutup dan Tekanan di Industri

Langkah Amazon ini bukan tanpa latar. Pada Mei, terungkap bahwa karyawan Amazon memakai AI secara berlebihan untuk menaikkan skor pemakaian internal di tengah tekanan agar menggunakan alat buatan perusahaan. Pekerja dilaporkan memanfaatkan MeshClaw, agen AI internal yang mampu menangani tugas seperti men-deploy kode dan berinteraksi dengan Slack, untuk menggelembungkan jumlah token. Menurut CNBC, Amazon kemudian menutup sebuah leaderboard internal pada Mei setelah karyawan kedapatan memanipulasinya demi menaiki peringkat.

Panduan baru itu juga menolak anggapan bahwa setiap tugas harus memakai alat AI. Jika perkakas yang ada saat ini tidak memberi manfaat bagi pekerjaan seseorang, Amazon menyebutnya “a finding, not a failing”. Engineer yang mampu menjelaskan di mana alat hari ini kurang mampu justru menunjukkan pertimbangan, bukan keengganan mengadopsi AI.

Perusahaan pun meminta para manajer dan kepala divisi memastikan timnya memiliki “sufficient understanding” soal manfaat alat AI. Karyawan juga diarahkan agar “deeply connected” dengan pelanggan untuk memahami kebutuhan mereka. “Despite the speed of change, we believe that it is still early. We all need to embrace this change and take the time to learn, or we risk being left behind,” tulis Terkowitz.

Isu serupa muncul di perusahaan lain. Presiden dan COO Uber, Andrew Macdonald, pada Mei mengatakan pemakaian token yang lebih tinggi belum berujung pada fitur konsumen yang berguna. “That link is not there yet,” ujarnya. Pernyataan itu menonjol karena CTO Uber sebelumnya mengungkapkan perusahaan telah menghabiskan seluruh anggaran Claude Code 2026 pada April.

Accenture disebut menghadapi persoalan serupa bagi kliennya. Rekaman audio bocor yang diperoleh 404 Media pada Juni menangkap eksekutif mengakui belanja token naik cepat seiring perusahaan beralih dari chatbot sederhana ke alur kerja agentic, dan tak ada yang bisa memprediksi biaya sebuah tugas atau apakah biaya itu sepadan. Pemimpin strategi AI agentic Accenture menyebutnya “not a niche problem”, dan firma itu dilaporkan membangun alat konsultasi bernama “Token IQ” untuk membantu pelanggan mengelola tagihan. CEO OpenAI Sam Altman pun pernah mengakui biaya token AI menjadi “a huge issue” saat perusahaan menghadapi tagihan yang membengkak.

Di sisi lain, CEO Amazon Andy Jassy disebut telah menanamkan AI secara mendalam ke operasi perusahaan yang luas. Jassy menyatakan teknologi itu akan “change the scope and speed” pekerjaan sehari-hari, dan menyarankan otomasi dapat menyusutkan tenaga kerja korporat perusahaan dalam beberapa tahun ke depan, meski ia juga memperkirakan akan tercipta “other jobs”. Bagi Amazon sendiri, panduan ini menjadi penegas bahwa AI tetap penting, tetapi ukurannya bukan jumlah token. Sejumlah langkah Amazon lain yang menyangkut produk dan infrastruktur teknologinya bisa ditelusuri lewat perangkat Echo terbaru, Galaxy re-newed, dan rebranding Kindle+.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.