Telset.id â Amazon meminta para engineer-nya berhenti mengejar tingginya angka pemakaian AI hanya agar terlihat produktif. Dalam panduan engineering yang diperbarui pada 27 Oktober, perusahaan menegaskan bahwa konsumsi token yang lebih banyak tidak sama dengan nilai kerja yang lebih besar, dan menyebut metrik seperti tingkat adopsi AI, konsumsi token, perubahan kode, hingga code review sebagai âdeeply flawedâ bila dilepaskan dari hasil nyata.
Kebijakan ini menyasar praktik yang disebut tokenmaxxing, yaitu upaya karyawan sengaja memperbesar pemakaian AI agar tampak produktif di dasbor internal. Amazon menyatakan metrik semacam itu, ketika dijadikan target, justru mendorong perilaku boros yang bertentangan dengan prinsip âfrugality and simplicityâ perusahaan, serta berpotensi menaikkan biaya komputasi dan kompleksitas perangkat lunak.
Meski melarang pengejaran angka, Amazon tidak meninggalkan AI. Perusahaan justru menegaskan bahwa AI akan tetap berada di pusat praktik rekayasa perangkat lunak. âWe are certain that whatever future best practices are, AI will be at the center of software engineering practice,â tulis Amazon dalam panduannya.
Dari Tokenmaxxing ke âRenaissance Developerâ
Panduan tersebut juga memperkenalkan gagasan âRenaissance Developerâ, yaitu engineer yang mampu memadukan alat AI dengan pertimbangan manusia dan keahlian domain âto build entirely new thingsâ. Dalam memo berjudul âAn update from Amazon engineering leadership on the role of the developer in the age of AIâ yang ditulis Terk Terkowitz, Amazon VP/Distinguished Engineer, Worldwide, perusahaan menyebut bahwa AI mengubah pekerjaan software engineering âmore quickly and more fundamentally than these previous trendsâ.
Karena itu, Amazon mengarahkan fokus pada hal yang tidak berubah seiring evolusi peran Software Development Engineer (SDE). Tolok ukur yang dipilih perusahaan adalah hasil jangka panjang. âWe believe that it is best to measure, and be measured by, long-term outcomes,â tulis Amazon. Data pemakaian tetap boleh dilihat, tetapi harus dibaca âwith care and judgmentâ bersama indikator lain.
Amazon bahkan menyarankan manajer mengamati dua ujung sekaligus: tim yang paling sedikit memakai AI dan tim yang paling banyak memakainya. Tujuannya untuk menilai apakah adopsi benar-benar berujung pada pengiriman kerja yang lebih baik. Perusahaan juga menegaskan tidak menerapkan batas token kepada karyawannya.
Baca Juga:
Leaderboard Ditutup dan Tekanan di Industri
Langkah Amazon ini bukan tanpa latar. Pada Mei, terungkap bahwa karyawan Amazon memakai AI secara berlebihan untuk menaikkan skor pemakaian internal di tengah tekanan agar menggunakan alat buatan perusahaan. Pekerja dilaporkan memanfaatkan MeshClaw, agen AI internal yang mampu menangani tugas seperti men-deploy kode dan berinteraksi dengan Slack, untuk menggelembungkan jumlah token. Menurut CNBC, Amazon kemudian menutup sebuah leaderboard internal pada Mei setelah karyawan kedapatan memanipulasinya demi menaiki peringkat.
Panduan baru itu juga menolak anggapan bahwa setiap tugas harus memakai alat AI. Jika perkakas yang ada saat ini tidak memberi manfaat bagi pekerjaan seseorang, Amazon menyebutnya âa finding, not a failingâ. Engineer yang mampu menjelaskan di mana alat hari ini kurang mampu justru menunjukkan pertimbangan, bukan keengganan mengadopsi AI.
Perusahaan pun meminta para manajer dan kepala divisi memastikan timnya memiliki âsufficient understandingâ soal manfaat alat AI. Karyawan juga diarahkan agar âdeeply connectedâ dengan pelanggan untuk memahami kebutuhan mereka. âDespite the speed of change, we believe that it is still early. We all need to embrace this change and take the time to learn, or we risk being left behind,â tulis Terkowitz.
Isu serupa muncul di perusahaan lain. Presiden dan COO Uber, Andrew Macdonald, pada Mei mengatakan pemakaian token yang lebih tinggi belum berujung pada fitur konsumen yang berguna. âThat link is not there yet,â ujarnya. Pernyataan itu menonjol karena CTO Uber sebelumnya mengungkapkan perusahaan telah menghabiskan seluruh anggaran Claude Code 2026 pada April.
Accenture disebut menghadapi persoalan serupa bagi kliennya. Rekaman audio bocor yang diperoleh 404 Media pada Juni menangkap eksekutif mengakui belanja token naik cepat seiring perusahaan beralih dari chatbot sederhana ke alur kerja agentic, dan tak ada yang bisa memprediksi biaya sebuah tugas atau apakah biaya itu sepadan. Pemimpin strategi AI agentic Accenture menyebutnya ânot a niche problemâ, dan firma itu dilaporkan membangun alat konsultasi bernama âToken IQâ untuk membantu pelanggan mengelola tagihan. CEO OpenAI Sam Altman pun pernah mengakui biaya token AI menjadi âa huge issueâ saat perusahaan menghadapi tagihan yang membengkak.
Di sisi lain, CEO Amazon Andy Jassy disebut telah menanamkan AI secara mendalam ke operasi perusahaan yang luas. Jassy menyatakan teknologi itu akan âchange the scope and speedâ pekerjaan sehari-hari, dan menyarankan otomasi dapat menyusutkan tenaga kerja korporat perusahaan dalam beberapa tahun ke depan, meski ia juga memperkirakan akan tercipta âother jobsâ. Bagi Amazon sendiri, panduan ini menjadi penegas bahwa AI tetap penting, tetapi ukurannya bukan jumlah token. Sejumlah langkah Amazon lain yang menyangkut produk dan infrastruktur teknologinya bisa ditelusuri lewat perangkat Echo terbaru, Galaxy re-newed, dan rebranding Kindle+.





Komentar
Belum ada komentar.