Telset.id – Konsumsi listrik data center di Amerika Serikat diproyeksikan menembus 426 TWh pada akhir dekade ini, sementara pembangunan jaringan listrik nasional tidak mampu mengejar laju konstruksi kampus data yang terus berjalan. Laporan terbaru Moody’s mengungkap bahwa pembangunan data center di AS melaju jauh lebih cepat dibanding kesiapan grid, sehingga ketersediaan daya berpotensi menjadi salah satu hambatan terbesar bagi proyek-proyek berikutnya.
Data Moody’s yang dilaporkan The Register menunjukkan bahwa diperlukan sekitar US$110 miliar kapasitas pembangkit listrik baru untuk menutup kebutuhan tersebut. Angka ini muncul di tengah gelombang persetujuan proyek data center baru yang terus berlanjut, sementara ekspansi jaringan transmisi berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan.
Beban Daya Jadi Hambatan Utama Data Center
Laporan tersebut menyoroti bahwa kampus data baru dapat dibangun jauh lebih cepat dibanding infrastruktur grid baru. Proyek kelistrikan menghadapi fase perencanaan yang panjang, waktu tunggu pengadaan peralatan yang lama, serta persoalan rantai pasok. Menurut laporan itu, sejumlah proyek bahkan menghadapi penundaan hingga tujuh tahun.
Kondisi ini membuat pasokan daya menjadi salah satu kendala terbesar data center, sebagaimana disebutkan dalam laporan. Perbandingan antara kecepatan pembangunan fasilitas dan kecepatan penyediaan listrik menjadi inti persoalan yang diangkat Moody’s.

Saskatchewan di Kanada disebut sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah wilayah menangani persoalan daya, karena provinsi tersebut mewajibkan fasilitas besar baru untuk menyediakan listriknya sendiri.
Sejumlah negara bagian dan wilayah di AS bahkan terpaksa memberlakukan larangan sementara terhadap proyek-proyek baru tertentu. Langkah ini diambil untuk meninjau ulang legislasi yang berlaku. Beberapa kebijakan lain di sektor teknologi juga sempat memicu perhatian, seperti yang tergambar dalam Laporan Bank of America mengenai tekanan yang muncul seiring pertumbuhan beban komputasi.
Baca Juga:
Transmisi Dinilai Sama Penting dengan Pembangkit Baru
Moody’s menilai sistem grid AS seharusnya juga mempertimbangkan infrastruktur transmisi untuk mengalirkan listrik ke klaster data center, bukan hanya membangun kapasitas pembangkit tambahan. Infrastruktur transmisi tambahan itu juga berpotensi memberi komunitas pedesaan akses ke energi yang lebih murah yang dihasilkan dari lokasi yang lebih jauh. Menurut laporan tersebut, hal ini menjadikannya sebagai skenario yang menguntungkan kedua pihak.

Di sisi kebijakan, Ratepayer Protection Pledge dari Presiden Trump bertujuan mengalihkan tanggung jawab kepada perusahaan utilitas untuk melindungi warga dari beban kenaikan biaya. Meski demikian, kesimpulan akhir Moody’s tetap menyatakan bahwa proyek data center datang dengan laju yang dipercepat, dan grid jelas membutuhkan dukungan tambahan dari operator agar kampus data dapat diselesaikan tepat waktu.
Isu daya ini juga berkaitan dengan perhatian terhadap keamanan layanan digital, seperti yang dibahas dalam Waspada Phishing terhadap pengguna di berbagai platform. Sementara itu, risiko lain di sektor data terlihat dari insiden yang dibahas dalam AssuranceAmerica Alami Data Breach, yang menunjukkan bahwa operasional layanan berbasis data tidak lepas dari tantangan di luar aspek kelistrikan.

Dengan proyeksi konsumsi listrik data center AS yang bisa melewati 426 TWh pada 2030 dan kebutuhan kapasitas pembangkit baru sekitar US$110 miliar, persoalan utama bukan lagi sekadar membangun lebih banyak fasilitas, melainkan memastikan listrik tersedia tepat waktu untuk menyuplainya.





Komentar
Belum ada komentar.