📑 Daftar Isi

Split image showing a data centre and illustrator Rob Biddulph

Ilustrator Kecam Poster AI di Ruang Publik: Hak Cipta Diperjuangkan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Rob Biddulph mengecam poster AI yang marak di toko dan kafe
  • AI dianggap menghilangkan kepribadian dan nilai kreativitas manusia
  • AI mengambil pekerjaan desainer dan dilatih tanpa izin seniman
  • Biddulph mendukung sistem lisensi opt-in, bukan opt-out
  • Perjuangan hak cipta kreator dinilai belum selesai

Telset.id – Ilustrator dan penulis buku anak Rob Biddulph mengecam maraknya poster dan materi promosi yang jelas dibuat dengan AI di toko, kafe, dan berbagai ruang publik. Biddulph, yang dinobatkan sebagai Illustrator of the Year 2025 pada British Book Awards, menilai fenomena ini sebagai tanda kemunduran nilai kreativitas manusia yang perlu mendapat perhatian serius.

Dalam wawancara dengan TechRadar, Biddulph menyebut karya-karya tersebut sebagai sesuatu yang “benar-benar menyedihkan”. Ia menegaskan bahwa ilustrasi adalah ekspresi kepribadian individu yang tidak bisa direplikasi oleh mesin. Menurutnya, manusia secara alami akan menuangkan karakter, keunikan, ketidaksempurnaan, dan selera humor ke dalam karya mereka, dan itulah yang membuat sebuah karya menarik.

Biddulph juga menyoroti ironi di balik penggunaan AI untuk mempromosikan acara lokal. Ia mempertanyakan logikanya, karena inti dari acara lokal seharusnya adalah tentang manusia dan komunitas. Baginya, poster buatan tangan yang tidak sempurna justru lebih bermakna dibanding karya AI yang terlihat rapi namun generik.

Dampak AI tidak berhenti pada estetika ruang publik. Biddulph menegaskan bahwa teknologi ini juga mengambil pekerjaan berbayar dari desainer dan ilustrator manusia. Ironinya, sistem AI tersebut dilatih menggunakan karya para seniman manusia tanpa kompensasi apa pun. Ia menjelaskan bahwa sistem AI tidak muncul begitu saja, melainkan dilatih dengan kuantitas besar karya kreatif yang dihasilkan seniman, ilustrator, fotografer, dan penulis yang tidak pernah dimintai izin dan tidak dibayar.

Yang lebih sulit diterima menurut Biddulph adalah ketika sistem yang sama kemudian digunakan untuk menghasilkan karya yang bersaing langsung dengan orang-orang yang karyanya membantu melatih sistem tersebut. Ia menekankan bahwa industri kreatif sering disalahpahami sebagai kumpulan orang kaya dan sukses, padahal kenyataannya terdiri dari ribuan pekerja lepas, studio kecil, ilustrator, fotografer, desainer, dan penulis yang banyak di antaranya sudah bekerja dalam kondisi sangat rentan. Bagi seniman mapan, dampaknya mungkin hanya berkurangnya komisi, tetapi bagi yang baru memulai karier, peluang untuk membangun karier bisa hilang sejak awal.

AI posters and disgusted woman.

Perjuangan Regulasi AI dan Sistem Lisensi Opt-In

Beberapa tahun lalu, isu regulasi penggunaan karya seniman oleh perusahaan AI untuk melatih model mereka sempat ramai dibahas. Biddulph menilai perusahaan AI belum menang, meskipun ia memahami mengapa situasinya kadang terasa demikian. Teknologi bergerak cepat dan perusahaan di belakangnya memiliki sumber daya finansial besar, sehingga publik terkesan selalu mengejar ketertinggalan. Namun, ia yakin argumen ini belum hilang dan justru sedang memasuki fase penting.

Di Inggris, ada penentangan besar dari industri kreatif terhadap proposal awal pemerintah yang secara efektif mengizinkan perusahaan AI melatih karya berhak cipta kecuali kreator individu secara khusus memilih keluar (opt-out). Biddulph menyoroti masalah pendekatan tersebut, karena menempatkan tanggung jawab pada jutaan kreator individu untuk melindungi karya mereka sendiri, bukan mewajibkan perusahaan meminta izin sejak awal. Pemerintah kemudian mundur dari proposal itu, dan Biddulph menilai penting untuk mengakui bahwa seniman, penulis, penerbit, dan organisasi kreatif telah menyuarakan pendapat dan memberi dampak nyata.

Biddulph mendukung sistem opt-in. Prinsipnya sederhana: jika ingin menggunakan karya kreatif orang lain untuk membangun produk komersial, harus meminta izin dan membayarnya. Ia tidak melihat alasan mengapa seniman dan ilustrator harus menerima aturan berbeda hanya karena teknologinya baru. Ia ingin melihat sistem lisensi opt-in yang layak, bukan sistem opt-out. Jika seniman ingin menyediakan karyanya untuk pelatihan AI, itu pilihan mereka dan mereka harus dibayar sesuai. Namun, pilihan itu harus ada di tangan seniman.

Biddulph juga mengingatkan agar tidak mencampuradukkan keniscayaan teknologi dengan keniscayaan cara pengembangan dan penggunaannya. Menurutnya, AI memang akan tetap ada, tetapi bukan berarti semua aspek model bisnis di belakangnya harus diterima. Ia menegaskan perjuangan ini bukan sekadar melindungi penghidupan individu, melainkan menetapkan apa yang dihargai masyarakat dan apakah kreativitas manusia memiliki nilai intrinsik yang layak dilindungi.

Isu tata kelola AI juga menjadi perhatian luas di industri teknologi. Sejumlah pihak menekankan pentingnya regulasi agar pengembangan AI tidak menimbulkan risiko baru bagi pekerja kreatif maupun pelaku bisnis. Pembahasan soal tata kelola AI pun semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan teknologi ini di berbagai sektor.

Queen Camilla speaks with author Rob Biddulph as she launches the "Coronation Libraries" Initiative at Shirehampton Primary School, on May 18, 2023 in Bristol, England.

Biddulph menutup dengan pesan bahwa perjuangan ini tidak boleh ditinggalkan oleh para seniman, meski kadang terasa tanpa harapan. Baginya, ini tentang lebih dari sekadar melindungi mata pencaharian, tetapi tentang menetapkan nilai yang dipegang masyarakat terhadap kreativitas manusia. Ia menilai perjuangan ini layak untuk terus dilakukan.

Rob Biddulph dapat ditemukan di YouTube, X (@RobBiddulph), Instagram (@rbiddulph), dan Facebook (robbiddulphauthor), serta melalui situs web pribadinya. Pandangannya menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya adopsi AI, isu hak cipta dan penghidupan pekerja kreatif tetap menjadi perdebatan yang belum selesai.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.