📑 Daftar Isi

Linus Torvalds berbicara di Open Source Summit tentang AI dan pemrograman

Linus Torvalds: AI Bikin Coding Tak Lagi Menakutkan bagi Pemula

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Linus Torvalds menilai AI bisa menurunkan ambang masuk pemrograman bagi programmer junior dan remaja
  • AI disebut sebagai "gateway drug" menuju cara menulis kode yang baik
  • Torvalds ingat masa awal kodingnya saat standar industri masih rendah
  • Ia mengingatkan AI berisiko jika dipakai untuk pekerjaan serius tanpa tujuan jelas
  • Pemula disarankan mulai dari proyek "toy" atau personal
  • Laporan dan patch AI membanjiri milis Linux hingga sulit dikelola
  • Solusinya justru lebih banyak AI untuk review patch

Telset.id – Pendiri sekaligus maintainer utama kernel Linux, Linus Torvalds, menilai AI dapat menurunkan ambang masuk dunia pemrograman yang selama ini terasa menakutkan bagi programmer junior dan remaja. Pandangan itu ia sampaikan di atas panggung Open Source Summit yang digelar Linux Foundation di Prague, Czechia, saat ia mengenang masa awal Linux, bagaimana ia membangun Git, hingga bagaimana AI mengubah arti dan rasa menjadi seorang programmer hari ini.

Torvalds menyebut AI sebagai alat yang menarik dan sangat berguna, bahkan menyebutnya sebagai “gateway drug” atau pintu masuk menuju cara menulis kode yang benar-benar baik. Menurutnya, AI bisa menjadi jembatan bagi mereka yang baru ingin mencoba programming tanpa harus merasa rendah diri di tengah industri yang sudah hiper-advanced.

Dalam sesi tersebut, Torvalds mengingat kembali masa-masa awalnya sebagai programmer. Ia membuat game komputer yang menurutnya “sucked”, tetapi itu tidak masalah karena hampir semua hal lain pada zaman itu juga “sucked”. “Saat itu standarnya masih sangat rendah, kan?” ujarnya. Ia mengaku tidak merasa malu dengan karyanya karena dibandingkan dengan apa yang sudah ada di luar sana, semuanya masih berada di level yang sama.

Linus Torvalds

Kondisi itu berbeda dengan programmer muda yang masuk ke industri hari ini. Mereka, kata Torvalds, mudah merasa malu dengan “usaha kecil yang menyedihkan” milik mereka ketika membandingkannya dengan semua karya profesional yang sudah rapi dan mengilap di sekitar mereka. Di titik inilah AI berperan penting menurutnya, karena dapat menurunkan ambang masuk sehingga langkah pertama tidak terasa sia-sia dan tidak berarti.

“Ketika kamu masuk ke pemrograman, standarnya harus cukup rendah agar kamu bisa memulai prosesnya dan menemukan kesenangan, sehingga kamu bisa belajar dengan mudah. Dan kamu akan butuh waktu lama untuk belajar,” kata Torvalds. Pernyataan ini menegaskan bahwa proses belajar panjang tetap tak terhindarkan, tetapi titik awalnya harus dibuat lebih ramah.

Peringatan Torvalds soal Penggunaan AI

Meski mendukung AI sebagai pintu masuk, Torvalds juga memberi peringatan soal penggunaannya untuk pekerjaan “serius”, terutama bagi pemula. Ia menekankan bahwa orang yang memakai alat tersebut harus tahu apa yang ingin ia lakukan dan harus tahu persis seperti apa hasil akhir yang dibutuhkan agar bisa menggunakannya dengan benar. Segala hal di luar itu, menurutnya, adalah risiko yang bisa membawa konsekuensi serius.

Karena itu, Torvalds menyarankan agar pemula memulai dari proyek “toy” atau proyek personal sebelum memakai AI untuk hal yang lebih serius. “Saya pikir kamu harus sangat berhati-hati menggunakan AI ketika kamu mengerjakan sesuatu yang nyata dan penting. Tapi saya suka konsep AI sebagai gateway drug ke pemrograman,” ujarnya menutup pembahasan tersebut.

Torvalds juga menyoroti persoalan laporan kerentanan dan patch yang dihasilkan AI. Pada pertengahan Mei 2026, ia menggambarkan milis Linux sebagai “hampir sepenuhnya tidak terkelola” karena dipenuhi laporan AI yang tidak berguna. “Banji laporan AI yang terus mengalir pada dasarnya membuat security list hampir sepenuhnya tidak terkelola, dengan duplikasi luar biasa karena orang berbeda menemukan hal yang sama dengan alat yang sama,” katanya saat itu.

Ia menjelaskan bahwa banyak orang menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk meneruskan laporan ke orang yang tepat atau mengatakan bahwa masalah tersebut sudah diperbaiki seminggu atau sebulan lalu, lalu menunjuk ke diskusi publik yang sudah ada. Kini Torvalds menegaskan kembali penilaian itu, dengan menyebut masalah utamanya adalah sebagian orang memang “tidak peduli” dan justru mencari celah pada hal-hal yang bahkan sudah tidak digunakan lagi.

“Kami menerima jauh lebih banyak patch acak seperti ini. Kadang untuk masalah keamanan yang sangat penting dan sangat nyata, dan kadang untuk hal-hal yang tidak disentuh siapa pun selama 20 tahun, karena orang tidak peduli,” ujarnya. Menurut Torvalds, ketika sebuah bot AI diminta memeriksa apakah ada kebocoran memori, bot itu akan menjawab bahwa ia tidak peduli driver tersebut sudah tidak dipakai lagi, dan dengan senang hati memberikan semua laporan error yang bisa ia temukan.

A developer writing code

Dampaknya, para maintainer pun mencampur patch yang “menarik” dan yang “tidak menarik”. Meski begitu, Torvalds menyimpulkan bahwa secara keseluruhan AI tetap memperbaiki basis kode mereka. “Tapi secara keseluruhan, saya pikir ini meningkatkan basis kode kami,” katanya.

Harga dari perbaikan itu adalah stres bagi para maintainer. Torvalds menegaskan bahwa kondisi ini juga membuat maintainer stres sampai menjadi masalah tersendiri. Ia menyebut dalam maintainer summit sehari sebelumnya, sekitar tiga perempat diskusi membahas bagaimana membuat alat AI, baik untuk generasi kode maupun review, menjadi kurang menekan dan lebih sukses serta lebih berguna bagi semua orang. “Ini jelas masalah besar,” tegasnya.

Solusinya, secara ironis, bukan “mengurangi AI”, melainkan justru sebaliknya, yakni lebih banyak AI. “Kami, sampai batas tertentu, melawan banjir patch AI dengan banjir review patch AI kami sendiri,” kata Torvalds. Ia menambahkan bahwa orang-orang bercanda soal adanya bot yang berbicara dengan bot lain, dan hal itu memang benar-benar terjadi.

Pandangan Torvalds ini memperlihatkan sisi lain dari perdebatan AI di dunia open source. Di satu sisi, AI membuka pintu bagi pemula yang ingin belajar menulis kode. Di sisi lain, AI juga menciptakan beban baru bagi para maintainer yang harus menyaring derasnya laporan dan patch otomatis. Bagi komunitas Linux, persoalan ini bukan soal menerima atau menolak AI, melainkan bagaimana mengelolanya agar tetap bermanfaat tanpa menambah tekanan pada orang-orang yang menjaga kode tetap berjalan.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan kernel Linux, isu ini sejalan dengan sejumlah topik teknis lain yang tengah hangat, seperti upaya efisiensi memori melalui kompresi memori Linux maupun percepatan proses build kernel yang dibahas dalam build kernel Linux. Semuanya menggambarkan satu hal yang sama: ekosistem Linux terus bergerak, dan AI kini menjadi bagian dari dinamika tersebut.

[SUMBER: TechRadar]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.