📑 Daftar Isi

Headshot of Proton's Founder Andy Yen in the Geneva office

Proton Tantang Google Bangun Ekosistem Privasi, Ini Strategi Andy Yen

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:
  • Proton kini menawarkan 11 produk termasuk chatbot AI privacy-first Lumo
  • Andy Yen ungkap strategi ekosistem untuk lawan Google dan OpenAI
  • Proton dimiliki yayasan nirlaba, insentif finansial selaras dengan pengguna
  • Lumo ditempatkan di Jerman setelah Swiss coba terapkan mass surveillance
  • Yen tolak verifikasi usia karena dinilai sama dengan wajib tunjukkan ID

Telset.id – Proton mempertegas ambisinya menjadi alternatif Google, OpenAI, dan model surveillance capitalism Silicon Valley dengan membangun ekosistem yang kini mencakup 11 produk, termasuk chatbot AI privacy-first bernama Lumo. Founder dan CEO Proton, Andy Yen, mengungkapkan strategi tersebut dalam sesi wawancara di kantor pusat Proton di Geneva, Swiss, yang berlokasi di tengah pegunungan Alpen tanpa salju pada Oktober lalu.

Yen menjelaskan bahwa Proton tidak lagi sekadar fokus pada alat tunggal, melainkan berupaya menghadirkan alternatif lengkap bagi pengguna yang tidak ingin data mereka dieksploitasi. Langkah ini menandai pergeseran besar dari perusahaan yang 12 tahun lalu lahir hanya dengan satu ide sederhana: membangun layanan email terenkripsi.

Perjalanan Proton dimulai pada Mei 2014. Yen mengaku saat itu dirinya tidak ingin membuat akun layanan digital karena tahu apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan terhadap data pengguna. “Tidak ada alternatif. Jika Anda ingin email pribadi secara online tanpa data disalahgunakan, Anda harus meng-host server sendiri, yang tentu sangat sulit, dan bahkan dengan cara itu Anda tidak akan mendapatkan enkripsi,” ujar Yen.

Proton awalnya dibuka untuk sekitar seribu pengguna pertama, terutama mereka yang bekerja di CERN. Respons yang muncul di luar dugaan. Pada hari pertama peluncuran Mei 2014, 10.000 orang bergabung. Jumlah yang sama datang di hari kedua, lalu server crash di hari ketiga. “Itu mungkin momen ketika saya mulai menyadari ini adalah isu sosial yang lebih luas. Bukan hanya beberapa orang tipe privacy yang ingin ini,” kata Yen.

Ekosistem sebagai Senjata Melawan Raksasa Teknologi

Ketika ditanya bagaimana Proton mampu membangun aplikasi mandiri yang bersaing di banyak pasar sekaligus, Yen tidak menyangkal sulitnya. Ia menyebut Proton menghadapi kompetitor tangguh di setiap pasar yang dimasuki. Namun pendekatannya berbeda. “Saya bersaing dengan Google di email, tapi email saya sepenuhnya berbeda. Produknya berbeda, nilainya berbeda, keamanan dan privasinya sepenuhnya berbeda,” jelasnya.

Dalam ruang VPN, Yen menyoroti sulitnya mengetahui siapa yang bisa dipercaya dalam jangka panjang, terutama di industri yang perusahaan-perusahaannya sering dibeli dan dijual. Ia mencontohkan bagaimana sebuah layanan VPN populer bisa berpindah kepemilikan. Stabilitas Proton, konsistensi nilai selama lebih dari 10 tahun, dan apa yang diperjuangkan perusahaan disebutnya sebagai pembeda sekaligus keunggulan.

Yen juga merespons kekhawatiran soal kompartementalisasi data. Menurutnya, menemukan 11 perusahaan berbeda yang semuanya bisa dipercaya sangat tidak mungkin secara statistik. Jika pun ada, kemungkinan besar mereka adalah bisnis kecil yang tidak memiliki ketahanan dan keandalan setara. “Sebagian besar pengguna, mungkin lebih dari separuh, sebenarnya tidak ingin mengelola 11 langganan. Mereka lebih suka semuanya di satu tempat dan menemukan satu perusahaan yang bisa dipercaya, karena menemukan satu saja sudah cukup sulit,” ujarnya.

Proton menyebut dirinya sebagai perusahaan yang dimiliki oleh yayasan nirlaba (non-profit-owned), sehingga bukan bisnis yang digerakkan secara finansial. Yen menegaskan insentif finansial Proton justru selaras dengan pengguna karena satu-satunya alasan orang membayar adalah privasi. “Begitu kami mengompromikan nilai itu, kami kehilangan segalanya,” tegasnya.

Proton CEO and founder Andy Yen poses next to the Proton logo at the headquarters of the encrypted email and VPN services company in Geneva.

Soal rumor pembangunan browser web, Yen memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa Proton memang banyak bekerja dengan standar web karena keharusan, dan perekrutan orang dengan keahlian browser tidak boleh disimpulkan sebagai kepastian Proton akan membangun browser. “Itu bukan kesimpulan yang bisa ditarik,” katanya.

Yen mengakui masukan komunitas yang menginginkan Proton fokus pada produk yang sudah ada. Ia memahami sentimen itu. Namun menurutnya, kompetitor yang ingin digantikan adalah Google, dan Proton tidak akan menang dalam jangka panjang hanya dengan menjadi lebih baik di satu atau dua produk. “Satu-satunya cara agar kami kompetitif dalam jangka panjang melawan raksasa teknologi Amerika adalah ekosistem,” ujarnya. Ia mengakui membangun ekosistem sangat sulit dan membuat hidup perusahaan lebih rumit, tetapi mengubah status quo memaksa pendekatan tersebut.

Lumo dan Pertarungan Melawan Surveillance Capitalism

Momen Proton menyadari pasar membutuhkan asisten AI privacy-first disebut Yen sama seperti 12 tahun lalu saat Proton Mail lahir. Ia mengaku ingin menggunakan AI tetapi tidak mempercayai Sam Altman atau Anthropic, dan juga tidak akan memakai model Tiongkok yang di-host di server Tiongkok. “Jika kami tidak membangun Lumo, saya tidak akan bisa masuk ke era AI,” ujarnya. Menurutnya, banyak orang berada di posisi yang sama: ingin memakai AI dan memahami pentingnya untuk masa depan, tetapi tidak mempercayai pemain yang ada.

Yen menyebut Lumo sebagai satu-satunya chatbot AI di mana percakapan pengguna benar-benar privat. Ia menilai pengumpulan data menjadi pendorong signifikan produk AI lain. Ia mencontohkan Gmail yang diciptakan Google dengan pengumpulan data sebagai alasan utama, dan OpenAI yang juga mendorong iklan. “Kami tidak dibatasi oleh model bisnis mereka; kami dibatasi oleh apa yang mungkin dan apa yang sebenarnya diinginkan pengguna,” katanya.

Menurut Yen, surveillance capitalism adalah batasan artifisial yang dipaksakan Silicon Valley ke dunia, dan bukan batasan nyata. Ia berargumen performa produk privasi akan lebih baik dalam jangka panjang karena memiliki lebih sedikit batasan. “Sebuah produk tanpa iklan adalah produk yang lebih baik,” ujarnya. Ia memprediksi chatbot lain di masa depan akan menyarankan barang berdasarkan jaringan iklan, sementara chatbot yang menyarankan hasil tidak bias secara inheren lebih baik.

Lumo AI by ProtonVPN

Terkait keputusan menempatkan Lumo di Jerman alih-alih Swiss, Yen mengungkapkan bahwa tahun lalu pemerintah Swiss mencoba memperkenalkan mass surveillance di negara tersebut. Proton dan sebagian besar industri menentangnya sehingga pemerintah meninjau ulang. Sebagai bisnis, ia tidak ingin menaruh semua telur dalam satu keranjang. “Memindahkan Lumo ke luar Swiss adalah pesan kepada pemerintah Swiss bahwa privasi adalah aset dengan nilai ekonomi nyata,” jelasnya.

Setelah keputusan tersebut, pemerintah Swiss diwajibkan melakukan regulatory impact assessment. Hasilnya, melanjutkan mass surveillance akan menelan biaya CHF 30 hingga 40 miliar selama 10 tahun dan berpotensi menghilangkan 200.000 lapangan kerja. “Ini menunjukkan privasi dan kepercayaan memiliki nilai ekonomi yang besar,” kata Yen.

Soal undang-undang verifikasi usia yang menyebar global, Yen mempertanyakan bukan hanya bagaimana melakukannya, tetapi apakah seharusnya dilakukan. Ia menilai tidak seharusnya. Alasannya sederhana: tidak ada verifikasi usia yang hanya berlaku untuk anak-anak karena tidak ada yang tahu siapa anak dan siapa dewasa. “Satu-satunya cara memverifikasi usia anak adalah memverifikasi usia semua orang. Itu berarti menunjukkan ID untuk menggunakan internet,” tegasnya.

Jika pun politisi bersikeras melakukannya, Yen menyebut pendekatan saat ini memaksa semua orang menunjukkan ID ke Facebook, yang disebutnya sebagai mimpi Mark Zuckerberg. Cara yang benar, menurutnya, harus device-only: tidak ada data yang boleh meninggalkan perangkat menuju server terpusat, dan informasi pribadi yang dipindai hanya boleh berada di perangkat serta tidak disimpan setelah verifikasi selesai. Namun ia menilai perusahaan media sosial tidak memiliki insentif untuk melakukannya dengan cara tersebut.

Menutup perbincangan soal masa depan, Yen mengakui bahwa jika Proton tidak berekspansi, misinya tidak akan tercapai, tetapi berekspansi terlalu cepat juga bisa mematikan. Proton bukan perusahaan yang didanai modal ventura (VC), sehingga memiliki pembatas kecepatan finansial alami. “Ledakan finansial yang Anda lihat pada perusahaan yang berekspansi terlalu cepat tidak mungkin terjadi di Proton karena struktur kami,” ujarnya.

Mengejar Google disebut Yen sulit karena skala dan praktik anti-kompetitif mereka. Namun ia yakin Proton pada akhirnya akan menang karena apa yang diinginkan warga. “Sembilan dari sepuluh orang lebih memilih visi internet ala Proton dibandingkan Google. Mungkin butuh puluhan tahun, tetapi saya yakin orang-orang pada akhirnya akan meninggalkan Big Tech,” pungkasnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.