📑 Daftar Isi

Arc Raiders promotional image on Steam

Arc Raiders Perkuat Anti-Cheat, Pelaku Curang Kena Ban Permanen

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Embody terapkan ban permanen tanpa peringatan bagi cheater Arc Raiders
  • Anti-cheat pakai Denuvo, Anybrain, dan model AI internal berbasis machine-learning
  • Salinan game dikaitkan ke akun, akun terkait ikut kena permaban
  • Hardware ban direncanakan pada akhir tahun ini
  • Langkah ini merespons keluhan komunitas soal cheater

Telset.id – Embody selaku pengembang di balik Arc Raiders resmi memperketat sistem anti-cheat dengan menetapkan ban permanen sebagai sanksi standar bagi pemain yang terbukti curang. Langkah ini diambil setelah keluhan komunitas terus meningkat seiring popularitas game tersebut. Kebijakan baru ini sekaligus menghapus peringatan maupun kesempatan kedua bagi para pelanggar.

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Executive Producer Arc Raiders, Aleks. Embody sebelumnya memang sengaja menyimpan detail teknis anti-cheat mereka agar pembuat cheat engine sulit beradaptasi. Namun, sikap tersebut justru memicu frustrasi sebagian pemain. Karena itu, perusahaan akhirnya membuka sejumlah informasi mengenai apa yang mereka kerjakan di balik layar.

Perubahan ini menjadi salah satu pembaruan paling signifikan pada sistem anti-cheat Arc Raiders. Dampaknya langsung terasa bagi pemain yang selama ini merasa terganggu oleh kehadiran cheater, terutama karena sanksi yang diberikan kini bersifat permanen tanpa toleransi.

Kombinasi Denuvo, Anybrain, dan Model AI Internal

Embody mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memakai kernel-level anti-cheat dari Denuvo. Selain itu, mereka juga mendeteksi cheater melalui layanan AI milik Anybrain. Namun, di luar dua penyedia pihak ketiga tersebut, perusahaan menyatakan sedang membangun model internal berbasis kecerdasan buatan untuk membantu proses deteksi kecurangan.

“Selain perlindungan kernel-level dari Denuvo dan deteksi dari Anybrain, kami menggunakan serangkaian model internal yang terus berkembang, dibangun di sekitar machine-learning dan data lainnya,” tulis Aleks.

“Sistem-sistem ini bekerja bersama untuk mengidentifikasi perilaku mencurigakan dan membangun keyakinan sebelum tindakan diambil, sekaligus memungkinkan kami terus meningkatkan deteksi saat cheat baru muncul,” lanjutnya.

The Denuvo logo.

Pendekatan berlapis ini menunjukkan bahwa Embody tidak hanya mengandalkan satu teknologi saja. Kombinasi proteksi kernel-level, layanan deteksi pihak ketiga, dan model machine-learning internal menjadi fondasi utama dalam upaya menekan angka kecurangan di Arc Raiders.

Ban Permanen hingga Rencana Hardware Ban

Selain membangun dan menggunakan alat anti-cheat, Embody juga memperketat penegakan aturan. Ban permanen kini menjadi sanksi standar bagi siapa pun yang tertangkap curang, tanpa peringatan atau kesempatan kedua. Perusahaan juga mulai mengaitkan salinan game dengan akun yang dituduh curang, sehingga cheater tidak bisa sekadar membuat akun baru memakai lisensi game yang sama untuk kembali bermain. Akun lain yang terhubung dengan salinan game yang sudah diblokir juga akan menerima permaban serupa.

Aleks juga menyebut bahwa Embody tengah mengerjakan hardware ban untuk menekan jumlah pelanggar berulang, dan berharap dapat mengimplementasikan solusi tersebut pada akhir tahun ini. Langkah ini berpotensi menjadi langkah terbesar Embody, tetapi juga berisiko bagi pemain lain yang membeli perangkat keras bekas yang sebelumnya pernah ditandai dan kemudian akun mereka ikut terkena ban.

Satu pemain Valorant pernah mengalami hal serupa baru-baru ini. Namun, karena ban dari Riot bersifat sementara, pemain tersebut bisa kembali bermain setelah beberapa bulan. Kondisi ini bisa berbeda untuk Arc Raiders karena game tersebut menerapkan permaban, sehingga Embody perlu mempertimbangkan agar tidak menghukum pemain yang tidak bersalah.

Meski terkesan keras, langkah penindakan ini tampaknya didorong oleh keluhan komunitas Arc Raiders yang terus tumbuh. Aleks bahkan menyoroti frustrasi sebagian pemain, terutama ketika melihat streamer memamerkan cheat mereka. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa perusahaan tetap berhati-hati agar tidak salah memban pemain yang sah.

Arc Raiders promotional image on Steam

Teknologi anti-cheat pada dasarnya adalah permainan kucing-kucingan antara pengembang dan cheater. Aleks menyatakan bahwa masalah ini “tidak akan pernah sepenuhnya hilang.” Embody berupaya membuatnya sesulit mungkin, dan menerapkan langkah-langkah ketat tersebut sebagai efek jera agar pemain berpikir dua kali sebelum melakukan kecurangan.

Embody bukan satu-satunya pengembang yang berusaha menekan kecurangan. Seorang peneliti bahkan mengembangkan teknik untuk mengambil sidik jari pemain menggunakan pola input mouse dan keyboard mereka, guna melacak cheater lintas akun dan perangkat keras. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa perang melawan kecurangan di industri game terus berkembang, sejalan dengan berbagai upaya peningkatan pengalaman bermain seperti yang terlihat pada dukungan GeForce Now terhadap perangkat gaming.

Sementara itu, stabilitas pengalaman bermain juga menjadi perhatian tersendiri bagi para gamer. Sejumlah keluhan soal update Windows 11 yang menyebabkan game crash sempat mencuat, dan Microsoft pun menemukan akar masalahnya. Di sisi lain, update Agustus juga pernah memicu crash pada game PC sehingga Microsoft melakukan investigasi.

Bagi Embody, kombinasi antara deteksi berbasis AI, penegakan aturan yang tegas, dan rencana hardware ban menjadi strategi menyeluruh. Dengan ban permanen sebagai standar, perusahaan berharap dapat menekan jumlah pelanggar berulang sekaligus menjaga ekosistem Arc Raiders tetap sehat bagi pemain yang bermain secara jujur.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.