Telset.id – Sebanyak 84% warga Inggris mengaku hanya akan memberikan akses moderat atau rendah kepada AI agent untuk mengendalikan hidup mereka, atau bahkan tidak sama sekali. Survei terhadap 2.000 orang dewasa di Inggris ini mengungkap kekhawatiran signifikan terhadap AI agent, termasuk kemungkinan bahwa sistem tersebut dapat melakukan tindak pidana atas nama pengguna.
Hasil survei yang dilakukan oleh Censuswide ini menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak nyaman memberikan kendali penuh kepada AI. Hanya 9% responden yang menyatakan tidak memiliki kekhawatiran sama sekali terhadap AI. Sementara itu, 27% dari 2.000 responden lebih memilih AI untuk menyiapkan berbagai hal dan menunggu persetujuan, sedangkan 23% mengizinkan AI menjalankan tugas rutin namun tetap memegang izin untuk tugas-tugas penting.
Meski demikian, hasil ini tidak serta-merta berarti warga Inggris takut terhadap AI. Survei menemukan bahwa 40% responden menilai perusahaan pembuat AI seharusnya bertanggung jawab atas kekhawatiran terkait “rogue AI”. Hanya 19% yang menganggap AI sebagai ancaman bagi kemanusiaan.
Baca Juga:
Pembagian demografis dalam survei ini juga menunjukkan perbedaan pandangan yang jelas. Pada kelompok usia di atas 55 tahun, 47% menolak memberikan kendali atas hidup mereka kepada AI agent. Sebaliknya, 20% responden berusia 25-34 tahun mengaku nyaman dengan tingkat kendali AI agent yang tinggi.
Kekhawatiran Soal Tanggung Jawab Hukum AI
Ketika membahas potensi AI melakukan tindakan ilegal, temuan survei menunjukkan angka yang berbeda. Sebanyak 14% responden khawatir tentang dampak AI terhadap kemampuan mereka untuk terhindar dari masalah hukum. Angka ini meningkat menjadi 21% pada kelompok usia 18-24 tahun.
Isu tanggung jawab hukum atau AI liability menjadi sorotan dalam survei ini. Jonathan Armstrong, seorang Partner di perusahaan hukum Punter Southall, menilai penting untuk mengadakan debat mengenai AI liability dan survei ini menjadi bagian penting dari debat tersebut.
“Saya pikir penting bagi kita untuk berdebat tentang tanggung jawab AI – dan survei ini penting sebagai bagian dari debat itu,” ujar Armstrong. “Terlalu banyak orang berasumsi bahwa AI adalah Wild West – secara hukum itu tidak benar.”
Armstrong menegaskan bahwa pada akhirnya manusia, yaitu mereka yang menggunakan AI, yang akan bertanggung jawab atas tindakan kriminal. “Dalam banyak kasus, Anda akan bertanggung jawab atas AI yang Anda gunakan dan konsekuensinya – dan terkadang bahkan jika itu mengejutkan Anda. Ada banyak kasus penggunaan AI yang bagus, tetapi semuanya harus dimulai dengan pengetahuan tentang risikonya dan melakukan apa yang Anda bisa untuk mengurangi risiko itu,” jelasnya.

Survei ini juga mencatat bahwa kekhawatiran warga Inggris terhadap AI muncul seiring pertumbuhan AI agent yang menawarkan berbagai kemungkinan otomatisasi. Beban tanggung jawab berada pada pengguna untuk memahami tujuan penggunaan AI dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Perkembangan teknologi AI yang terus berlangsung turut memunculkan berbagai kekhawatiran serupa di berbagai sektor. Sebelumnya, sejumlah perusahaan masih menahan diri untuk menggunakan AI dalam proses rekrutmen karena kekhawatiran manusia yang masih berlanjut.
Kekhawatiran terkait keamanan dan keandalan teknologi juga tidak hanya terbatas pada AI. Insiden seperti tablet Samsung meledak menjadi pengingat bahwa risiko perangkat teknologi tetap nyata bagi konsumen. Di sisi lain, inovasi teknologi terus berjalan, seperti peluncuran Soyuz MS-27 ke ISS yang menunjukkan kemajuan eksplorasi luar angkasa.
Data survei ini memperjelas bahwa adopsi AI agent di Inggris masih menghadapi hambatan kepercayaan yang signifikan. Meski AI menawarkan efisiensi dan otomatisasi, sebagian besar pengguna ingin tetap memegang kendali atas keputusan penting dalam hidup mereka. Dengan 84% responden membatasi akses AI dan hanya 9% yang tanpa kekhawatiran, perdebatan seputar AI liability dan tanggung jawab pengguna akan terus relevan seiring meluasnya penggunaan AI agent.





Komentar
Belum ada komentar.