📑 Daftar Isi

Drone layar ALBATROSS dari SUTD saat menjalani pengujian di laut

Drone Layar ALBATROSS SUTD Mendarat di Laut Tanpa Alat Pendaratan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • ALBATROSS adalah drone layar 1,107 kg buatan tujuh insinyur SUTD Singapura
  • Berputar saat turun untuk memperlambat jatuh, lalu berubah jadi kapal layar
  • Tidak butuh alat pendaratan, hanya tiga aktuator dan tiga sensor utama
  • Jangkauan di atas 100 km, jauh melampaui sekitar 7 km SailMAV
  • Kemudi berfungsi seperti ekor ikan untuk daya dorong dan arah
  • Keandalan di luar pengujian terkendali masih dipertanyakan

Telset.id – Tim peneliti dari Singapore University of Technology and Design (SUTD) mengembangkan ALBATROSS, drone layar berbobot 1,107 kg yang mampu mendarat di laut secara terkendali setelah dilepaskan dari udara. Drone ini berputar saat turun untuk memperlambat jatuhnya, lalu berubah menjadi kapal layar bertenaga angin. Pendekatan ini diklaim memberi jangkauan operasional di atas 100 km tanpa perlu membawa perangkat propulsi penerbangan selama proses penyebaran.

ALBATROSS dirancang oleh tujuh insinyur di SUTD sebagai drone perahu layar ringan yang dapat mencapai permukaan air dengan selamat setelah dilepaskan dari udara. Mekanisme penurunan menjadi inti dari konsep ini, karena drone tidak membawa sistem pendaratan konvensional. Sebagai gantinya, ia memanfaatkan sayap kaku (rigid wingsails) untuk mengendalikan penurunan sehingga wahana berputar, bukan jatuh langsung ke air.

Putaran tersebut menurunkan kecepatan jatuh dan membatasi gaya saat menyentuh air, sehingga kendaraan dapat masuk ke laut tanpa perangkat pendaratan. Setelah mendarat di permukaan air, drone secara otomatis kembali ke posisi tegak sebelum beralih ke mode berlayar.

Kendali Aktuator dan Kemudi Mirip Ekor Ikan

Karena tidak dilengkapi roda pendaratan, ALBATROSS mengandalkan tiga aktuator kendali dan tiga sensor utama. Sebuah kemudi (rudder) menyediakan pergerakan arah melalui gerak lateral untuk mengemudikan wahana. Kemudi ini berfungsi serupa ekor ikan, menghasilkan daya dorong sekaligus membantu perahu kecil tersebut mengarahkan arah setelah mencapai air.

“ALBATROSS is designed to be released from an aircraft or UAV, passively enter autorotation for a controlled, low-impact water landing, self-right without actuation,” ujar tim peneliti SUTD. Pernyataan ini menegaskan bahwa proses penurunan dan penegakan kembali posisi wahana dirancang berlangsung secara pasif, tanpa aktuasi tambahan.

ALBATROSS, a lightweight sailboat drone

Massa yang rendah memungkinkan pesawat atau UAV membawanya ke area yang membutuhkan penyebaran cepat, terutama saat terjadi peristiwa lingkungan. Konsep ini juga diklaim memiliki keunggulan dibanding platform layar otonom seperti Saildrone atau Sailbuoy, yang dalam beberapa operasi mungkin memerlukan dukungan eksternal.

Jangkauan dan Desain Jadi Keunggulan

Para peneliti menyebut ALBATROSS dapat menjangkau sekitar di atas 100 km, jauh melampaui kisaran sekitar 7 km yang dilaporkan pada SailMAV. Selisih jangkauan ini menjadi pembeda utama dari konsep yang mereka kembangkan.

Keunggulan tersebut berasal dari desainnya yang mengintegrasikan fungsi udara dan akuatik tanpa bergantung pada mekanisme terpisah yang biasanya dibutuhkan untuk mengelola kedua mode tersebut. “Unlike many hybrid aerial-marine systems, ALBATROSS eliminates the need for aerial propulsion, complex mechanical reconfiguration, or active stabilization during the air-water transition and can sail back to shore at the end of a mission,” kata tim tersebut.

Kemampuan itu berpotensi membuat penyebaran dari udara berguna untuk menempatkan peralatan sensor di area yang kondisi lautnya berubah cepat. Pergerakan bertenaga angin kemudian memungkinkan wahana tetap berguna tanpa membawa sistem propulsi untuk perjalanan di permukaan.

Celeste Ecoflyers daS10 drone with inflatable wings

Model operasi ini berbeda dari drone layar berukuran lebih besar, yang bisa memerlukan pengelolaan dari fasilitas pantai atau kapal selama misi aktif. Prototipe ALBATROSS karena itu menggabungkan massa rendah dengan mekanisme penurunan yang bertujuan mengurangi kebutuhan perangkat keras selama transisi ke air.

Pertanyaan yang masih terbuka adalah apakah konsep ini bekerja secara andal di luar pengujian terkendali. Hal itu akan bergantung pada konsistensi penurunan, kemampuan menegakkan diri, pengemudian, dan performa berlayar secara keseluruhan. Laporan ini dikutip dari The Register melalui TechRadar.

Di sisi lain, perkembangan riset otonom seperti ini turut mewarnai lanskap teknologi yang lebih luas. Sejumlah pengembangan lain di ranah AI dan perangkat pintar juga berlangsung paralel, termasuk riset keamanan AI yang tengah menjadi sorotan. Ada pula pengujian sistem AI otomotif yang menunjukkan batas kemampuan teknologi saat ini.

Pada sisi perangkat konsumen, inovasi juga mengarah ke pemanfaatan perangkat yang sudah ada untuk fungsi baru, seperti langkah Comcast Xfinity Shield yang mengubah router Wi-Fi menjadi alat deteksi gerakan. Semua ini menunjukkan bahwa integrasi fungsi lintas domain menjadi arah pengembangan yang semakin umum.

[CONCLUSION]

ALBATROSS dari SUTD menawarkan pendekatan berbeda dalam penyebaran wahana laut: dilepas dari udara, turun dengan putaran terkendali, lalu berlayar bertenaga angin dengan jangkauan di atas 100 km. Keandalan di luar pengujian terkendali masih menjadi pertanyaan yang harus dijawab.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.